Minggu, 25 Oktober 2015

Merenungkan Kembali Tujuan Hidup

Beberapa tahun terakhir saya kadang merenung, apa sebenarnya tujuan hidupku. Jika pertanyaan ini muncul, saya selalu teringat suatu kondisi waktu kerusuhan terjadi di kampung halaman saya, dimana ketika itu saya, ayahku, dan beberapa orang lainnya sudah terjebak di depan sebuah lorong, sementara itu di belakang dan samping sekelompok orang akan menyerang kita. Saya diam sejenak, berdoa dalam-dalam, sambil bermunajat bahwa saya masih ingin hidup lebih lama lagi, karena ingin mendirikan pesantren, sebuah cita-cita lama sejak saya kecil. Kalau teringat kisah ini, saya kadang jadi sedih sendiri, bahkan terkadang air mata saya jatuh--sebuah kondisi yang tidak semua orang pernah melihatnya. 

Dalam periode satu tahun terakhir hidup saya banyak berfokus pada menggapai cita-cita dunia. Mungkin begitu bahasanya. Dari Ternate saya 'bela-belain' datang ke Kampung Inggris Pare, Kediri, untuk belajar satu bulan. Pakai duit sendiri lebih dari sepuluh juta--sebuah angka yang lumayan untuk dosen PNS yang belum lulus sertifikasi. Tapi, sepuluh juta itu tidak ada apa-apanya, karena saya mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke Australia selama dua minggu yang jika dihitung-hitung biayanya di atas lima kali lipat. Saya juga, beruntung diterima sebagai penerima beasiswa LPDP, sebuah beasiswa bergengsi yang banyak orang berlomba-lomba mendapatkannya. Saya jadi awardee LPDP untuk studi PhD luar negeri. Waw! Luar negeri! Sesuatu yang saya sendiri tidak sempat terpikirkan. Walau sampai malam ini--ketika saya menulis esai ini--saya masih ikut pengayaan bahasa di Bandung (belum ke luar negeri pastinya), tapi saya merasakan banyak sekali keberkahan yang Allah berikan untuk saya. 

Dalam beberapa tahun terakhir juga saya berfokus menulis buku. Mati-matian saya belajar menulis buku dengan cepat. Walhasil, dengan laptop Toshiba sumbangan dari Pertamina untuk Unkhair--karena waktu itu saya diamanahi Sekretaris Rektor--saya banyak menulis buku dan terbit. Dari laptop ini, saya menulis lebih dari 20 naskah buku. Sebuah angka yang lumayan. Jika ditotal-total, hingga tahun 2015 ini, buku pribadi yang saya tulis lebih dari 30, belum lagi antologi yang ditulis bersama beberapa orang di Indonesia, serumpun Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam, serta forthcoming book yang akan diterbitkan oleh University of Malaya, Kuala Lumpur. Saat menulis ini, jika sebuah makalah saya--yang akan dipresentasikan pada Kamis 29 Oktober nanti bersama professor dari Austria, Wina, dan Filipina--jadi diterbitkan, maka akan bertambah pula jumlah buku saya (untuk antologi). 

Lantas, apa makna itu semua? 

Saya kadang berpikir seperti itu. Apa yang barusan saya tulis di atas tentu saja bukanlah prestasi yang patut dibanggakan. Bahkan, orang lain banyak yang lebih hebat dari itu. Mereka lebih berpengaruh, bahkan mungkin terkenal, ketimbang saya yang saya pikir 'masih begini-begini saja'. Tapi, sebuah pertanyaan penting yang patut dipertanyakan adalah, apakah keterkenalan itu bagian dari bahagia atau kesuksesan? Masing-masing orang pasti beda-beda. Secara pribadi saya tidak ingin dikenal orang, karena saya merasa banyak sekali kekurangan saya. Tapi, sebagai penulis memang tidak bisa tidak kita akan dikenal juga, paling tidak di komunitas dimana kita berada. 

Seseorang pernah bilang ke saya begini, "Yan, kamu beruntung banget ya. Banyak sekali rezeki yang Allah berikan buat kamu." Membaca itu, saya berpikir, memang iya sih. Benar apa yang dikatakannya. Banyak sekali rezeki yang Allah berikan buat saya--pastinya bukan hanya buat saya tapi buat kita semua jika kita mau merenungkan lebih jauh. Saya berasal dari kampung, kemudian diberi kesempatan belajar, punya semangat menulis buku untuk berbagi kebaikan bagi sesama, dan saya juga PNS--sebuah pekerjaan yang bagi sebagian orang menggiurkan. 

Selanjutnya, jika kita sudah dapat apa-apa yang hendak kita raih, apakah kita bahagia? Tampaknya, bahagia memang tidak berbanding lurus dengan pendapatan. Katakanlah seseorang menjadi terkenal dengan bukunya, apakah itu buat dia bahagia? Belum tentu. Beberapa orang bilang, bahwa saya ini duitnya banyak. Karena bukunya sudah banyak terbit, tambah yang lain. Tapi kalau ditelisik lebih jauh, buku-buku saya rata-rata beli-putus. Jadi, kalau naskah sudah dibeli, kita dibayar sekian juta, setelah itu sudah. Buku saya yang royalty baru satu, diterbitkan oleh imprint Gramedia yang waktu urus royalty-nya saya harus datang ke Gramedia untuk menanyakannya langsung biar lebih enak. Apakah saya kaya? Ada yang bilang, wah abang ini pasti punya rumah punya mobil. Saya senyum saja. Jangankan rumah dan mobil, motor saja saya nggak punya. Saya biasa pulang dari Rektorat malam jam 8 atau 9 itu jalan kaki, turun sampai di bawah, kemudian cari ojek. Itu saya lakoni sekitar tiga tahun. Tidak kaya, tapi juga tidak miskin-miskin amat. Saya hanya berdoa, semoga apa yang saya inginkan (untuk kebaikan) dikabulkan oleh Allah, dan dicukupi. Ya, dicukupi itu lebih penting daripada minta kaya. 

Kembali ke tujuan hidup. Apa sebenarnya tujuan hidup kita? Sampai di bagian ini saya juga masih merenung. Tapi sebagai muslim saya punya pedoman bahwa tujuan hidup kita adalah beribadah dalam arti seluas-luasnya. Beribadah dalam bentuk salat, puasa, zakat, haji, atau dalam bentuk yang lebih luas seperti bersedekah, bantu orang yang membutuhkan, menulis buku, dan seterusnya. Waktu saya menulis buku atau juga tulisan biasa, saya selalu meniatkan kebaikan. Ketika menulis status di Facebook, saya meniatkan agar semoga ada kebaikan dari status ini, karena sungguh teramat sia-sia jika sebuah status tidak punya nilai kebaikan di dalamnya.

Intinya, apapun yang hendak kita capai, semua harus kita niatkan untuk ibadah--dalam arti yang seluas-luasnya. Jika niat kita ibadah, maka kita akan bersungguh-sungguh untuk menggapainya. Dan, jika dalam perjalanan itu kita salah langkah, kita akan jadi teringat bahwa tujuan kita yang mulia menuntut cara-cara yang mulia pula. Maka kembali lagi kita tersadar, tersadar, dan seterusnya semoga terus sadar untuk menjadi pribadi mulia...*

Gambar dari mutiarapublic.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

GARBI: Gerakan Intelektual atau Proto-Parpol?

Logo GARBI Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI) saat ini banyak dibincangkan orang, terutama di kalangan mereka yang sedang (atau pernah)...