Semut vs Gajah

Sudah pasti kita pernah dengar perihal semut yang melawan gajah. Siapa menang? Bisa jadi gajah, tapi bisa jadi semutlah yang menang. Sekali injek, semut itu bisa mati. Bayangkan saja bagaimana besarnya itu gajah, beratnya juga, dan manusia saja kalau sekali kena injek, bisa remuk-remuk itu tulang, apatah lagi dengan semut. Tapi, kalau semutnya berhasil mendekati telinga gajah, dan masuk ke dalamnya secara bergerombol, maka bisa jadi, yang mati si gajah yang besar itu.

Perihal semut vs gajah bisa kita bawa dalam aktivitas kita. Baru-baru ini Presiden kita, SBY, membatalkan (atau sebutlah terpaksa menunda) kunjungannya ke Belanda. Padahal, tak seberapa lama lagi pesawat akan take off dari Cengkareng. Kenapa batal? Gara-garanya, ada "semut" kecil yang iseng, sampai "gajah" sebesar Indonesia harus berpikir panjang untuk melanjutkan perjalanan. Menurut berita, tokoh Republik Maluku Selatan (RMS), John Wattilete di Belanda meminta kepada pengadilan agar Presiden RI keenam dan ketujuh itu ditangkap dan diseret ke pengadilan HAM di Den Haag karena pelanggaran HAM di Maluku. Siapa sih John Wattilete si "semut" itu? Wattilete adalah keturunan Belanda dan Maluku Selatan. Pada 1983 ia lulus dari Universitas Nijmegen. Sehari-harinya, ia adalah seorang pengacara di Belanda.

Waduh, gawat juga yah. Gara-gara ulah "semut" kecil ini sampai kepala negara di negeri kepulauan yang besar ini terpaksa harus membatalkan keberangkatannya. Ada berapa banyak sih anggota RMS di Belanda? Kalau melihat Wikipedia, kabarnya sejak RMS ditumpas oleh pemerintah puluhan tahun silam, kurang lebih 15 ribu anggotanya "berhijrah" ke Belanda, di sana mereka diterima. Artinya, sampai 2010 ini bisa jadi anggotanya bertambah banyak sampai-sampai ulahnya bikin repot Indonesia.

Apa yang bisa kita petik dari kisah "semut" RMS versus "gajah" Indonesia ini? Satu! Jangan sekali-kali menyepelekan sesuatu yang kelihatan kecil. Yah, walau kecil, tapi jaringannya yang luas bisa membuat yang besar jadi repot. "Amaliyat" (aksi) dari kelompok Al-Qaeda misalnya, memang kecil (tidak berbentuk negara, tidak ada kedaulatannya), tapi "gajah" sebesar Paman Sam sampai dibuat repot olehnya. Dua! Perkuat lobi. Seorang yang lobinya bagus bisa mengalahkan yang besar tapi kekuatan lobinya memble. Kelompok Zionis misalnya, anggotanya tak banyak di dunia, tapi lobi mereka bisa menjangkau berbagai tempat--bahkan kebijakan AS di Timteng tak lepas dari peranan kelompok ini. Dalam konteks besar, Indonesia harusnya punya lobi yang kuat di negara lain. Dengan kekuatan lobi itulah, maka kekuatan apapun yang mau cari gara-gara akan bisa ditaktisi dengan mudah.

Oke, kalau begitu. Berarti, dalam konteks apapun kita sekarang (apakah kita dalam posisi "semut" atau "gajah"), maka kekuatan tidak menganggap kecil organ lain serta memperkuat lobi, itu penting sekali. Bahkan, sangat penting demi eksistensi diri! [Yanuardi Syukur, tulisan ini pernah dimuat di blog saya, edumotivasi.blogspot, 8 Oktober 2010]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berbagi dengan Orang Aceh

Ma'rifat Danarto

Kuliah, Kerja, dan Pencarian Kebahagiaan