Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2015

Man Jadda Wajada!

Gambar
Bagi yang pernah belajar di pesantren, pasti langsung teringat ini kata. Siapa yang bersungguh-sungguh, kira-kira begitu terjemahnya, "maka dia berhasil!"

Kata "mukjizat" ini ternyata telah banyak memberi arti. Salah satunya ada pada A. Fuadi, seorang alumni Pondok Modern Gontor yang menulis buku "Negeri Lima Menara". Buku ini, menurut Fuadi, terinspirasi sekali dari kalimat itu. Akhirnya, setamatnya dari pondok di Ponorogo itu, Fuadi pun melanjutkan pendidikannya hingga ke Amerika.

Siapa sungguh-sungguh, dia berhasil! Betul sekali bukan?

Kalau ada yang rajin sekali belajar. Pastinya, ia akan berhasil. Tapi, kebalikannya, mereka yang malas, pasti akan merugi, seperti yang diajarkan juga di kalangan santri Gontor (dan pesantren alumninya), bahwa, "...penyesalan adalah akibat dari bermalas-malasan"

Dalam sejarah umat manusia juga telah memperlihatkan kepada kita. Alexander The Great berhasil memasuki dunia Timur, itu karena ia tidak ma…

Prajurit

Gambar
“Perlakukanlah prajurit-prajuritmu sebagai putera-puteramu sendiri dan mereka akan mengikutimu hingga ke lembah yang terdalam. Perhatikan mereka sebagai putera-puteramu sendiri yang tercinta, dan mereka akan mendampingimu hingga menemui ajal.” (Soen Tzu).

Apa yang membuat seseorang berkorban? Ada banyak hal tentunya. Bisa jadi karena ideologi--sebuah kepercayaan yang dianut--atau karena sekedar ikut-ikutan, atau karena faktor "terhipnotis" oleh retorika orang lain secara tidak sadar.

Soen Tzu, dalam kutipan di atas, menggambarkan kepada kita bahwa kalau ingin orang lain ikut, bahkan pada titik terdalam--berkorban hingga ajal mereka--maka kita perlu "memperhatikan sebagai putera-putera sendiri".

Dalam konteks diri sendiri, kita juga memiliki banyak "prajurit". Di antara mereka ada yang bernama darah, tulang, mata, telinga, hidung, bulu, tangan, kaki, dan lain sebagainnya. Mereka adalah prajurit-prajurit kita yang kalau kita memperhatikan mereka…

Semut vs Gajah

Gambar
Sudah pasti kita pernah dengar perihal semut yang melawan gajah. Siapa menang? Bisa jadi gajah, tapi bisa jadi semutlah yang menang. Sekali injek, semut itu bisa mati. Bayangkan saja bagaimana besarnya itu gajah, beratnya juga, dan manusia saja kalau sekali kena injek, bisa remuk-remuk itu tulang, apatah lagi dengan semut. Tapi, kalau semutnya berhasil mendekati telinga gajah, dan masuk ke dalamnya secara bergerombol, maka bisa jadi, yang mati si gajah yang besar itu.

Perihal semut vs gajah bisa kita bawa dalam aktivitas kita. Baru-baru ini Presiden kita, SBY, membatalkan (atau sebutlah terpaksa menunda) kunjungannya ke Belanda. Padahal, tak seberapa lama lagi pesawat akan take off dari Cengkareng. Kenapa batal? Gara-garanya, ada "semut" kecil yang iseng, sampai "gajah" sebesar Indonesia harus berpikir panjang untuk melanjutkan perjalanan. Menurut berita, tokoh Republik Maluku Selatan (RMS), John Wattilete di Belanda meminta kepada pengad…

Bukan Budak Harta

Gambar
SUATU ketika di kota Madinah ramai orang datang yang menyebabkan hiruk-pikuk dan crowded. Rupanya, ada sekitar 700 kendaraan rombongan kafilah dagang Abdurrahman bin Auf yang baru saja tiba dengan membawa banyak barang dagangan dari Syam. Mengetahui keramaian itu karena kafilah salah seorang sahabat Nabi tersebut, Aisyah ra pun seolah-olah mengingat sesuatu yang pernah didengarnya dari Rasulullah. Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, kata Aisyah, “Kulihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan perlahan-lahan.” Mendengar kalimat tersebut, beberapa sahabat pun menyampaikannya kepada Abdurrahman bin Auf. Terkejut, dan segera Abdurrahman melangkahkan kakinya ke rumah Aisyah. Berkata Abdurrahman, “Engkau telah mengingatkanku sebuah hadis yang tak mungkin kulupa. Maka dengan ini, aku mengharap dengan sangat agar engkau menjadi saksi, bahwa kafilah ini dengan semua muatannya berikut kendaraan dan perlengkapannya, kupersembahkan di jalan Allah.” Tak lama setelah itu, seluruh muatan d…