Minggu, 12 Juli 2015

#TipsMenulis: Antara Bakat dan Usaha


Ada yang mengatakan bahwa menulis itu perlu bakat. Yang ada dalam pikiran mereka adalah, “Untuk menjadi penulis, kita harus punya pengalaman di masa lalu dimana kita pernah suka menulis.  Atau setidaknya kita berasal dari keturunan para penulis. Atau juga, karena kita punya kemauan, hobby untuk menjadi penulis”. Mereka beranggapan bahwa menulis itu harus ada kemauan, pengalaman atau bahkan pernah mendapatkan juara dalam dunia tulis menulis.

Pendapat seperti ini ada dalam masyarakat, setidaknya dalam dunia tulis menulis. Berseberangan dengan itu, ada juga orang yang beranggapan bahwa, “Semua orang sebenarnya bisa menjadi penulis—apakah dia berprofesi sebagai pelajar, mahasiswa, guru, dosen, politikus, pejabat, pedagang, kuli bangunan, atau tukang becak. Semua orang bisa jadi penulis, asal dia memang mau, kemudian berusaha, berlatih, terus memperbaiki kualitas tulisannya hingga menjadi lebih baik.”

Dari dua kategori di atas, kira-kira anda berada di posisi mana?  

Golongan pertama, ada kesan bahwa mereka cenderung pesimis dalam usaha. Mereka cenderung melecehkan potensi diri mereka, padahal mereka belum pernah mencoba menulis, atau (mungkin) pernah mencoba kemudian gagal, dan mereka puas berada pada level kegagalan itu. Golongan pertama cukup banyak juga di masyarakat kita. Mereka kurang punya nyali, kurang berani menerima tantangan untuk jadi penulis!

Golongan kedua, mereka adalah orang biasa. Mereka (mungkin) berasal dari level orang biasa. Ekonomi mereka mungkin biasa-biasa saja. Akan tetapi mereka punya idealisme, mereka punya perhatian untuk memperbaiki negeri ini. Kemudian ketika mereka mencoba menulis, gagal berkali-kali, tapi mereka terus berusaha dan akhirnya sejarah pun memasukkan mereka ke dalam barisan orang-orang sukses dalam menulis. Mereka sebenarnya tidak pintar-pintar amat otaknya, akan tetapi mereka punya keinginan yang lebih tinggi dari para pesimis. 

Ada penulis yang berkali-kali kirimkan tulisannya ke koran, akan tetapi selalu gagal. Tulisannya ditolak, bahkan tulisannya tidak mendapatkan perhatian dari redaksi. Akan tetapi karena mereka berusaha terus, walau gagal selalu menerjangnya, akhirnya tulisan mereka pun dimuat di media (setidaknya ini sebagai indikator tulisannya sudah berbobot). Mereka gembira, akan tetapi mereka tidak lalai dengan itu, mereka senantiasa berusaha memperbaiki mutu tulisannya. Semakin sering mereka berusaha, semakin baguslah tulisan mereka.

Kira-kira, anda yang sempat membaca tulisan ini berada pada kategori mana dalam dunia tulis menulis?
                                                           Maros, 2 Mei 2008
Dibawakan pada Pelatihan Menulis di kampus UMI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Achmad Fedyani Saifuddin: Antropologi Kekuasaan (5)

Mata kuliah Antropologi Kekuasaan adalah salah satu mata kuliah yang diminati oleh banyak mahasiswa. Dalam perkuliahan tersebut, Professor ...