Kamis, 09 Juli 2015

Takdir Seorang Lelaki

Berfoto di Cihampelas Walk
Saya terkadang berpikir, apakah mungkin takdirku harus sering merantau dan sendiri?

Pada tahun 1993, saat pertama kali merantau ke luar Tobelo menuju Jakarta, saya diantar almarhum ayah saya. Setelah diterima jadi santri di Darunnajah, ayahku pulang ke Tobelo, maka praktis saya harus bisa hidup mandiri. Enam tahun saya jadi santri, dan sesekali pulang ke rumah keluarga di Srengseng Sawah, Pondok Gede, atau beberapa tempat lainnya.

Kadang saya merasa, apakah melepaskan seorang anak di usia tamat SD adalah baik untuk perkembangan emosionalnya? Kalau dilihat dari banyaknya orang berhasil yang berasal dari tamatan pesantren selama 6 tahun, besar kemungkinan ini masa yang baik untuk mandiri. Namun semuanya tentu saja kembali pada kecenderungan si anak tersebut.

Setelah tamat Darunnajah, saya diterima di IAIN Jakarta jurusan Pidana Islam, tapi saya tidak daftar ulang dan memilih ke UNHAS Makassar jurusan Antropologi. Alasan saya ketika itu, "saya ingin hidup mandiri di tempat yang tidak banyak orang kenal." Kalau di IAIN (sekarang jadi UIN), teramat banyak alumni Darunnajah yang menimba ilmu di situ. "Karena toh soal Jakarta atau Makassar adalah tidak relevan selama kita memang serius belajar." Jusuf Kalla, kata saya, adalah tamatan UNHAS, bukan kampus besar di Jakarta, tapi pemikiran dan daya jelajahnya kemana-mana, dalam dan luar negeri--meskipun belakangan ia berkuliah juga di luar negeri (tapi mungkin itu non-degree karena gelarnya sampai sekarang hanya ditulis Drs.).

Di Makassar saya kuliah sampai tujuh tahun. Termasuk payah juga saya jika dilihat dari sisi akademik. Masa sih kuliah Antropologi saja butuh 7 tahun! Tapi begitulah. Saya terlanjur aktif di beberapa organisasi yang membuat saya memilih untuk terkadang tidak masuk kelas. Sebenarnya ini tidak baik--dan pelajar atau mahasiswa yang baca tulisan ini baiknya tidak mencontoh pengalaman ini. Tapi itulah pilihan ketika itu. Walhasil, saya berprinsip satu hal, "kalau saya lemah di satu sisi, maka saya harus kuat di sisi lainnya." Akhirnya ada juga sih sedikit yang bisa dikenang sebagai ketua di beberapa lembaga, dan saya berhasil menulis 1 buku menjelang wisuda. Waktu itu, sesungguhnya sesuatu yang amat jarang sekali.

Ketika saya kuliah S2 di UI kekhususan Politik dan Hubungan Internasional, saya juga sendiri. Keluarga kecil saya masih di Tobelo karena pertimbangan tertentu. Pada tahun kedua, saya membawa keluarga saya ke Jakarta.

Sekarang saya lagi ikut pengayaan IELTS untuk lanjut S3 dengan biaya LPDP. Saya sendiri di Bandung. Waktu itu saya minta agar pengayaannya di Makassar agar bisa sama-sama keluargaku, akan tetapi memang di Makassar tidak ada pengayaan IELTS. Untuk mereka yang lulus beasiswa luar negeri dan skor TOEFL atau IELTS-nya kurang, maka diwajibkan ikut IELTS yang hanya digelar di beberapa kampus seperti UI, ITB, dan UGM.

Saat menulis ini, sebentar lagi masuk Jum'at. Saya sendiri di kamar di kampung Pelesiran, tak seberapa jauh dari Cihampelas Walk, Balubur Town Square, Kebun Binatang Bandung, dan Kampus ITB. Kalau Jum'at begini, saya sering teringat ketika saya bersama anak ketiga saya, Fikri Ihsani bersiap-siap untuk berangkat salat Jum'at di masjid. Di masjid saat khatib membacakah khutbahnya, Fikri biasanya tidur. Ini pengalaman yang tidak saya dapatkan ketika saya hidup sendiri di Bandung ini. Ternyata, kalau dipikir-pikir lagi, ada teramat banyak momen-momen sederhana yang jika diingat-ingat sesungguhnya memiliki makna dan kenangan yang dalam sekali. *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagi dengan Orang Aceh

Berbagi dengan FLP Aceh Setelah berakhirnya Munas IV FLP, saya diminta oleh beberapa kawan FLP Aceh untuk sharing pengalaman. Sejak iku...