Minggu, 12 Juli 2015

Roda Hidup Terus Berputar

Hidup ibarat roda
Pada sebuah siang di sebuah kantor di Jalan Thamrin, Jakarta, seseorang bercerita kepada saya. "Dulu mas, waktu bapak saya masih ada jabatannya, sering sekali datang kiriman bunga di rumah. Tapi setelah nggak ada jabatannya, udah nggak ada lagi kiriman seperti itu."

Pada sebuah malam di Cihampelas Walk, Bandung, seorang kawan juga bercerita. "Dulu waktu belum jadi apa-apa, ada seseorang yang rajin sekali silaturahmi, selalu minta pendapat. Tapi pas jadi seorang pejabat di BUMN, hilang juga komunikasinya dan pas dia tidak menjabat, dia balik lagi seakan-akan kita tuannya yang paling ia harapkan."

Kurang lebih itu dua kutipan singkat dari dua kawan saya tentang bagaimana ritme hidup manusia yang adakalanya naik adakalanya turun. Seperti roda, hidup kita terkadang di atas, tapi berada di atas itu tidak abadi, bisa jadi kita akan di bawah lagi.

Di salah satu status Facebook, saya menulis bahwa tugas ketika dalam menjalani hidup yang ibarat roda berputar itu adalah memastikan bahwa roda itu tetap berputar. Cara memastikannya adalah dengan tetap bekerja dan jangan terlena ketika di atas atau bawah. Soal atas dan bawah semata hanya variasi saja dalam hidup. Tidak perlu disesali ketika berada di bawah, dan tidak perlu merasa angkuh ketika di atas. *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagi dengan Orang Aceh

Berbagi dengan FLP Aceh Setelah berakhirnya Munas IV FLP, saya diminta oleh beberapa kawan FLP Aceh untuk sharing pengalaman. Sejak iku...