Rabu, 29 Juli 2015

Menyikapi Konspirasi


Sejak zaman pelayaran samudera yang dilakukan Portugis dan Spanyol untuk mencari rempah-rempah ke timur dengan membawa misi 3 G (gold, gospel, dan glory), tema konspirasi tidak pernah mati. Apalagi belakangan ditambah dengan pengakuan para tokoh yang terlibat dalam konspirasi—seperti John Perkins dalam bukunya Confessions of an Economic Hit Man (2004)—membuktikan bahwa konspirasi dalam bentuk kolonisasi ekonomi di negara-negara dunia ketiga memang ada. Tidak terlihat, tapi ada.

Dalam konteks kasus Tolikara yang terjadi pada Idul Fitri 1436 Hijriyah yang lalu, aroma konspirasi juga kabarnya ada. Sebelum terjadi penyerangan kepada umat Islam yang akan menunaikan salat Idul Fitri, telah ada selebaran dari GIDI yang melarang umat Islam ‘membuka lebaran’ (salat Idul Fitri) di Kabupaten Tolikara, dan melarang muslimah menggunakan ‘yilbab’ (jilbab). Padahal, semua warga Indonesia yang memiliki kalender, mengetahui bahwa Idul Fitri itu hari lebaran yang suci di kalangan umat Islam, dan semua komponen warga yang ingin mengadakan kegiatan—termasuk seminar atau KKR—harus mempertimbangkan hari tersebut. Di kolom forum pembaca The Jakarta Post (24 Juli 2015) fenomena ini disebut sebagai paradox of tolerance. Beberapa tahun lalu, sebelum terjadi kerusuhan di Maluku Utara 1999—sebagai imbas dari konflik Ambon 1998—selebaran ‘Sosol Berdarah’ yang berisi perintah dari gereja untuk mengusir umat Islam di Halmahera juga tersebar, dan terjadilah baku-hantam sesama anak bangsa. Ini memang paradoks.

Pada peneliti dan analis umumnya menganggap bahwa selebaran seperti itu hal biasa, dan tidak terkait dengan konspirasi. Tapi, kalangan tertentu, menganggap bahwa ini bagian dari konspirasi untuk memusuhi umat Islam, terkait kristenisasi, atau dalam konteks nasionalisme ada upaya untuk memecah-belah Indonesia. Maka, dalam konteks Tolikara, muncul isu bahwa ini semacam test-case untuk membuat kerusuhan kembali, kemudian mengundang perhatian internasional, dan terjadilah referendum (seperti Timor Timur) untuk kemerdekaan Papua, selanjutnya Aceh, dan seterusnya. Singkat kata, ada upaya untuk memecah-belah Indonesia menjadi negara-negara kecil yang dikendalikan oleh negara-negara luar. Isu ini sebenarnya sudah lama tersiar, paling tidak setelah reformasi. Benar tidaknya tentu saja yang paling tahu adalah pemerintah atau kalangan tertentu yang mengkaji isu konspirasi secara dalam.

Dalam konteks politik timur tengah, isu konspirasi juga bukan sesuatu yang baru di negeri-negeri tersebut. Penggalian terowongan di sekitar kota tua Jerussalem (termasuk Masjid Al Aqsha) misalnya, kerap dianggap sebagai bagian dari “plan to destroy Al Aqsha Mosque” (Al Arabiya, 27 Maret 2008). Kelahiran ISIS adalah contoh lain dari cerita konspirasi, yang mengutip Edward Snowden, gerakan tersebut dibuat oleh Amerika, Inggris, dan Israel untuk menciptakan destabilisasi kawasan Timur Tengah dengan cara menciptakan organisasi teroris dari seluruh dunia yang terpusat dalam satu wadah, sekaligus untuk melindungi Israel (Time, 19 Juli 2014). Harus dicatat dalam pergerakan ISIS adalah: target gerakannya lebih fokus pada sesama umat Islam yang berseberangan ide dengan mereka. Eksekusi bakar pilot Yordania Muath Safi Yousef Al Kasasbeh misalnya, dikecam banyak tokoh Islam, salah satunya oleh Grand Syeikh Al Azhar Ahmad Al Tayyeb yang menyatakan bahwa aksi itu bukanlah representasi dari ajaran Islam.

Lantas, bagaimana menyikapi isu-isu konspirasi baik yang terjadi di negeri kita atau di luar? Hemat saya, kita jangan mudah tersulut dengan berita-berita yang ada. Dewasa ini banyak sekali berita yang tersebar—apalagi di media sosial—yang kontennya tidak bisa dipercaya. Tugas paling berat dalam bagian ini ada pada media massa. Mereka perlu menyajikan berita yang berimbang, tidak berat sebelah, dan akurasinya terjaga. Selanjutnya, semua komponen bangsa, para pemimpin agama dan tokoh masyarakat untuk tidak mudah terpancing dengan berita-berita miring yang belum tentu benar.

Di Indonesia, konflik paling rentan terjadi jika menyinggung agama. Agama menjadi kekuatan perekat paling kuat untuk dibela. Umumnya penganut agama akan membela agamanya, apalagi jika dilihat dari sejarah trauma perang antar agama juga sampai sekarang masih ada, dan kerap diajarkan di sekolah-sekolah dengan pendekatan konspiratif.

Selanjutnya, jika memang ada indikasi kuat konspirasi menghancurkan Indonesia itu benar, maka kekuatan intelijen kita haruslah memainkan perannya secara maksimal dan pemerintah mengantisipasi dengan berbagai cara. Keberhasilan intelijen dalam meminimalisir konflik dan teror—dan ini mungkin tidak banyak diliput media—patut diapresiasi, namun dalam kasus-kasus tertentu terjadi juga teror dan konflik—ambil contoh di Tolikara. Kita berharap, di tengah banyak isu yang tersebar dimana-mana—dan salah satunya tentang konspirasi—kita bisa tetap berpikir jernih, tidak mudah terprovokasi, dan negara dengan kekuatan civil society kita dapat terus menjaga keutuhan negeri ini dari berbagai konspirasi baik itu dari luar atau yang berasal dari dalam. [Yanuardi Syukur]  

In Memoriam Ust. Arham Yusuf: Guru dan Pejuang di Pesantren Darul Istiqamah


Ust Arham Yusuf
Pada sebuah siang saya terlibat kirim-kirim komentar dengan salah seorang anak dari Ust. Arham Yusuf. Singkat kata, saya diajak makan ke rumahnya. Saya yang lama tidak tinggal di Pesantren Darul Istiqamah—karena mengajar tetap di Universitas Khairun, Ternate—bertanya dimana rumahnya. Pada suatu pagi, beberapa jam sebelum ayahnya Ust. Arham Yusuf wafat, saya baru tahu—dan teringat kembali—letak rumahnya yang hanya sekitar lima rumah dari rumah mertua saya sekaligus dekat sekali dari Masjid Istiqamah III, Kompleks Pesantren Darul Istiqamah.

Terlambat, Punya Hikmah

Pagi tadi, 27 Juli 2015, seharusnya saya sudah berada di Pusat Bahasa ITB mengikuti lanjutan kursus IELTS, akan tetapi beberapa hari lalu tidak ada tiket saya dapat, dan saya baru dapat tiket untuk besok, Selasa 28 Juli 2015. Dengan tidak jadi berangkat ke Bandung segera, maka pada 27 Juli pagi saya berkesempatan mengantar anak-anak saya sekolah di Madrasah Ibtidaiyah dan TK Darul Istiqamah. Sepulang dari SD, saya lewati jalan menuju rumahku, dan berbelok ke Masjid Jami’ Pesantren. Setelah rumahnya Ust. Hafid Amri, salah seorang anggota DPRD Maros, istriku berkata, “Nah, yang itu rumahnya Ust. Arham, Abi.”

Di depan rumahnya pagi tadi, ada istri Ust. Arham, salah seorang anaknya, dan seorang lagi, yang tengah memperbaiki sesuatu di bawah pohon nangka. Sempat kita memberi salam, dan menyapa sekilas. Waktu itu, saya mau mampir—sebagaimana ‘undangan’ anaknya—untuk makan di rumahnya. Saya, istriku, dan abang Fikri pun langsung ke TK Darul Istiqamah yang terletak di lantai dasar Masjid Jami’.

Sepulang ke rumah, saya segera menyelesaikan sebuah tugas untuk dikirim ke Jakarta. Saat sedang menyelesaikan tugas tersebut, ada kabar dari kamar sebelah, katanya, “Ust. Arham kecelakaan, dan meninggal.” Istriku minta segera buka Facebook. Saya buka Facebook Ust Arham, tak ada info bahwa ia meninggal. Akhirnya, saya buka Whatsapp, di grup Darul Istiqamah Bangkit, Pimpinan Pesantren Darul Istiqamah Ust Muzayyin Arif mengabarkan bahwa Ust Arham kecelakaan, meninggal, dan meminta kita segera merapat. Ismawan AS, relawan Sedekah Rombongan (SR), juga mengirimkan foto jenazah Ust Arham yang terbaring di RS. Salewangang.

Setelah selesai mengirimkan tugas ke Jakarta, saya bersama istriku, Om Amwal, dan Muta’addibah Ashri, mahasiswi LIPIA Jakarta, merapat ke RS. Salewangang yang sekitar 10 menit dari Darul Istiqamah. Di sana, telah berkumpul beberapa orang. Tak lama kemudian, jenazah Ust Arham dikeluarkan depan UGD, dan dimasukkan ke dalam ambulans SR.

Tiba di rumahnya, orang-orang telah berkumpul. Bersama seorang kawan, saya naik ke rumah panggung milik Ust Arham. Ini kali pertama saya masuk ke rumahnya. Di atas, di sekeliling jenazah sudah berkumpul sanak family dan warga Pesantren yang mendengarkan ta’ziyah, nasihat-nasihat dari KH. M. Arif Marzuki. Setelah salat zuhur, saya bertanya terkait tanda-tanda jelang kematian Ust Arham kepada KH. M. Arif Marzuki. Beliau menjawab, bahwa kematian beliau adalah husnul khatimah.

Satu hal penting lagi adalah, beberapa waktu sebelum kecelakaan Ust Arham sempat mengantarkan anaknya ke bandara. Ketika ia kecelakaan, ternyata anaknya yang di Bandara Hasanuddin juga pesawatnya delay—terlambat jam terbang. Tertunda. Akhirnya, ketika mendengar ayahnya wafat, anaknya langsung menuju ke rumah dan tidak jadi berangkat pada penerbangan tersebut.

Ungkapan populer Arab mengatakan, “Ana urid, wa anta turid. Walllahu yaf’alu ma yurid” (Saya mau, dan kamu pun mau, tapi Allah melakukan apa yang Allah mau). Selalu ada hikmah di balik setiap peristiwa.

Panjang Umur dan Pemenang Ramadan

Berita wafatnya Ust Arham Yusuf menyebar dengan cepat lewat media sosial. Banyak yang berduka atas kepergiannya. Muh Yusuf Madeamin, menulis di wall almarhum, “Selamat jalan saudaraku Ust Arham Yusuf, teman diskusi dan bercanda di Pesantren Darul Istiqamah.” Anwar Alif berkomentar, “Meninggalnya karena apa?” Jawab Muh Yusuf, wafatnya karena kecelakaan sepulang mengajar dari salah satu sekolah.

Masih di wall yang sama, sebelumnya Ust A’mal Hasan—dengan ID Eyank Vhazollee Biru—menulis, “Hatiku sedih. Kita baru saja memulai episode baru, tapi sudah berangkat duluan ke surga-Nya. Secepat itu. –Feeling sedih sekali bersama Arham Yusuf.” Di bawahnya berkomentar Ust Mushaddiq Arif, Lc—dengan ID Abu Zed—“ Yang kekal hanya milik Allah. Semoga Allah mengampuni semua kesalahan beliau dan senantiasa merahmatinya, dan menempatkan beliau dalam surga-Nya.” Dilanjutkan di bawahnya lagi dengan komentar Sultan Watasila, “Allahumma amin”, dan testimoni dari Iqbal Jufri, “Turut bersedih. Banyak teman yang saya sarankan baru saja berteman dengan Bpk. Arham Yusuf di dunia maya, dan ternyata Allah swt memanggilnya...”

Status terakhir yang ditulis Ust Arham di Facebooknya, pada Sabtu 25 Juli 2015 pukul 16.53, “Hari sekolah 2 hari lagi. Ponakan-ponakan dari kampung so pada datang. Alhamdulillah panjang umur. Kumpul lagi semua.” Kata ‘panjang umur’ berarti kedatangan keponakan-keponakannya adalah bagian dari silaturahmi yang dapat memanjangkan umur. Adapun wafatnya pada dua hari setelah beliau menulis status ‘panjang umur’ tersebut bisa bisa diartikan sebagai bagian dari amal jariyah kerja kerasnya menjadi guru di Pesantren Darul Istiqamah dan beberapa sekolah di luar, sebagaimana dalam salah satu hadis Nabi yang menerangkan bahwa jika seorang anak cucu Adam meninggal maka terputusnya amalnya kecuali tiga perkata: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan kedua orangtuanya.

Sebelumnya, masih dalam suasana Idul Fitri, alumni Matematika Unhas itu sempat menulis status, “Ramadhan telah lewat, bulan latihan telah berlalu. Kini saatnya kita bergegas menyongsong 11 bulan berikut sebagai bulan-bulan aplikasi dari hasil latihan kita selama 1 bulan di Ramadan yang lalu. Yang dapat lulus dalam ujian di 11 bulan nanti, baru disebut pemenang.”

Ust Arham paling kanan saat bertemu Bupati Maros 
Ust Arham paling kanan saat bertemu Bupati Maros


Keluarga Guru, dan Pejuang Pesantren

Keluarga Ust Arham Yusuf sudah tinggal puluhan tahun di Pesantren Darul Istiqamah. “Mereka keluarga guru,” kata seseorang pada saya. Salah satu saudaranya, Ibu Lia—tetangga rumah saya—adalah guru tahfizh Al Quran. “Ustad Mudzakkir juga pernah diajar oleh Ibu Lia,” kata seseorang lagi.
Seiring dengan perkembangan zaman, dalam beberapa tahun terakhir Pesantren Darul Istiqamah mengadakan perubahan atau transformasi dari tradisional ke modern. Ketika tampuk pimpinan pesantren diserahkan dari KH. M. Arif Marzuki kepada Ust. Muzayyin Arif, dengan segera Ust Muzayyin menyusun formasi kepengurusan eksekutifnya. Dalam Badan Eksekutif Pesantren (BEP), Ust Arham Yusuf menjadi Sekretaris Eksekutif.

Dalam penjelasannya pada 27 Ramadhan lalu, Ust Muzayyin menjelaskan tentang rencana masa depan Pesantren Darul Istiqamah yang memiliki visi “Kota Ilmu dan Peradaban.” Kota ilmu bermakna bahwa, Darul Istiqamah ingin menjadi pusat pendidikan Islam terbesar dan dalam kompleks ini juga terintegrasi pusat perbelanjaan (mal), wisata kuliner, dan pemukiman Islam yang bercorak modern.

Masih terkait dengan transformasi pesantren, ia pernah berkata, “bahwa yang paling penting sekarang ini adalah apa yang terbaik yang akan kita lakukan untuk lembaga ini.” Ia juga mengajak agar bersama-sama membangun Pesantren Darul Istiqamah.

Ust. M. Iqbal Coing, dari Pesantren Darul Istiqamah Bulukumba, menulis di grup Darul Istiqamah Bangkit, bahwa Ust Arham Yusuf adalah “seorang pejuang Pesantren Darul Istiqamah.” Sementara itu, Ust Mudzakkir Arif, MA menulis, “Kita semua berduka. Kita semua kehilangan. Kita semua mendapat musibah. Kita semua terkejut. Kita semua mendapat banyak pelajaran dan nasehat Rabbaniyah. Kita semua mendoakan beliau, keluarga beliau. Kita semua saling mendoakan.”

Pada suatu waktu, setelah beliau menjadi imam di Masjid Istiqamah III, saya ingin mengajak ngobrol. Tapi tidak sempat. Beberapa waktu sebelumnya, Ust Arham menjadikan saya temannya di Facebook. Anaknya juga mengajak untuk mampir ke rumahnya. Waktu pertemuan Pesantren Darul Istiqamah dengan Bupati Maros terkait Ruang Terbuka Hijau, saya rencana ikut, tapi tidak jadi. Di situ, hadir juga Ust Arham. Di waktu yang lain, ketika saya mengisiasi Focus Group Discussion terkait rencana penulisan buku “Darul Istiqamah: Kota Ilmu dan Peradaban” di Hotel Aerotel Smile, Jln. Mukhtar Luthfi, Makassar, Ust Arham tidak hadir.

Paling tidak, semoga tulisan ini bisa menjadi kebaikan bagi kita semua, termasuk upaya kita untuk meneladani hal-hal terbaik dari Ust Arham Yusuf almarhum salah seorang pejuang Pesantren Darul Istiqamah. Ust Arham meninggalkan kurang lebih tujuh anak. Di antara anaknya ada yang berfokus pada penghafalan Al Qur’an, dan pengobatan holistik. [Yanuardi Syukur]

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Allahummagfirlahu warhahmu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu. *

Sabtu, 18 Juli 2015

Kalau Rezeki Nggak Akan Kemana-mana

Setelah menemani anak-anak saya berenang di kolam Ustad Hasbi (Uhas), rencana kita langsung pulang. Tapi di perempatan, terpikir untuk belok kiri ke rumah salah seorang ustazah-nya istri saya waktu sekolah dulu.

Tiba di sana, setelah minum dan makan kue, kita diminta makan siang. Ternyata, apa yang saya inginkan ada di situ: udang. Udah beberapa hari ini memang saya ingin makan udang. Gayung pun bersambut. Akhirnya makan udang.

Udang ini ternyata asalnya dari Sulawesi Tenggara, dibawa ke Maccopa di Maros. Sedangkan saya, beberapa hari lalu berangkat dari Bandung ke Jakarta, dari Jakarta terbang ke Makassar, dari Makassar ke Maros. Di Maros inilah 'jodoh' itu tiba.

Memang, ini kelihatannya sih sepele. Tapi ini soal rezeki. Jika memang sudah rezeki kita, nggak ada orang lain yang bisa menahan-nahan. Rezeki telah diturunkan Allah kepada seluruh hamba-Nya. Jadi, kita nggak boleh putus harapan dengan rezeki Allah. Semua sudah ada rezekinya, sudah dapat ketentuan pembagian dari Allah. *

Kamis, 16 Juli 2015

Mushaf Al Istiqamah dan Kebangkitan Pribadi Istiqamah

Mushaf Al Istiqamah
Pada sebuah sore saya bertemu Ust Muzayyin Arif di Bandung. Pertemuan di Masjid Salman ITB. Di dalam mobil, saya diberikan sebuah Al Quran bernama Mushaf Al Istiqamah. Warnanya hijau, keemasan, dan terlihat lux.

Isi Al Quran ini sama dengan Al Quran lainnya yang ditashih oleh Kementerian Agama RI. Namun, ada beberapa tambahan yang tidak ada pada terbitan Al Quran lainnya, yaitu kumpulan ayat-ayat keyakinan yang dipilih oleh KH. M. Arif Marzuki. Ayat-ayat keyakinan adalah ayat-ayat pilihan yang pendek-pendek dan menjadi hafalan wajib para santri, warga, dan simpatisan Pesantren Darul Istiqamah.

Sampai saat ini, alhamdulillah, anak saya sudah pada hafal ayat-ayat keyakinan sebanyak 15 ayat dari 33 ayat. Memang, baik sekali kalau anak-anak dilatih menghafal Al Quran per juz. Tapi jika belum bisa, mereka bisa memulai dengan ayat-ayat pilihan.

Sebagai contoh, ayat "Tiadalah balasan kebaikan kecuali kebaikan pula" (Ar Rahman: 60) termasuk mudah dihafal. Teks ayatnya: Hal jazaul ihsan illal ihsan.

Coba teman-teman yang baca artikel ini, bagi yang belum hafal, bisa hafal langsung:

Hal jazaul ihsan illal ihsan
Hal jazaul ihsan illal ihsan
Hal jazaul ihsan illal ihsan
Hal jazaul ihsan illal ihsan
Hal jazaul ihsan illal ihsan

Hafal, kan?

Hafalan sebenarnya mudah, apalagi kalau pendek-pendek. Lebih baik lagi kalau artinya juga dihafal, ditambah dengan tafsirnya. Untuk tafsir, baiknya beli buku tafsir seperti Ibnu Katsir.

Selain ayat-ayat keyakinan, di Mushaf Al Istiqamah juga ada asbabun nuzul (sebab turunnya ayat Al Quran), panduan hukum tajwid, dan zikir pagi dan petang.

Hadirnya mushaf ini diharapkan dapat menguatkan hati-hati warga Pesantren Darul Istiqamah pada khususnya dan umat Islam pada umumnya untuk menghadirkan Al Quran dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan kehadiran Al Quran dalam tiap hari kita, insya Allah paling tidak akan menjaga kita untuk taat pada Allah swt. Menjadi pribadi istiqamah.

Kita semua pasti ingin sekali menjadi orang baik. Dan, senantiasa belajar dari Al Quran adalah baik untuk menjadi orang baik. Siapapun kita, jangan pernah merasa terlalu jauh dari Al Quran. Mari terus belajar, dan tidak bosan untuk belajar dari Al Quran. *


Selasa, 14 Juli 2015

Buku-Buku di Rak Lemari Saya

Beberapa buku karangan saya (rak tengah) waktu di kos Ternate
Sejak kecil saya hobi baca buku, termasuk di dalamnya adalah membeli buku. Ketika jadi mahasiswa, hobi ini makin bertambah apalagi setelah mendapatkan uang beasiswa dari Penanggulangan Kerusuhan dari Unhas dan dari Dompet Dhuafa.

Biasanya kalau bukan di toko buku depan Kampus UIN Alauddin Makassar, saya beli buku di jalan Urip Sumoharjo, toko buku di Pasar Sentral, atau sekaligus jalan-jalan saya ke Gramedia di Mal Ratu Indah atau Mal Panakkukang.

Tapi kebiasaan saya baca dan beli buku itu rasanya belum cukup. Maka saya mulai membiasakan diri dengan menulis. Ketika masih berjaya jejaring sosial Friendster, saya aktif sekali di situ. Tiap online di warnet, saya biasa mengirimkan pesan berantai ke teman-teman, baik itu resensi buku, atau sekedar pengalaman sehari-hari. Belakangan hari, beberapa tulisan di situ saya kumpulkan. Walaupun belum masuk dalam buku, tapi saya masih simpan hasil karangan saya waktu itu.

Kemudian, saya mulai melatih diri menulis di koran kampus. Identitas Unhas pernah beberapa kali menerbitkan tulisan saya. Tak puas dengan itu, saya kirim juga ke Fajar. Dimuat beberapa kali. Dan saya kirim lagi ke Tribun Timur. Dimuat juga beberapa kali. Selanjutnya saya kirim ke media-media yang tidak begitu dikenal, dengan pemikiran bahwa setiap tawaran untuk menulis--baik yang ada honor atau tidak--saya tetap layani. Saya pikir, lebih baik proses pada pembelajaran daripada duit. Duit kelak bisa dicari, tapi pengalaman susah datang dua kali.

Akhirnya, saya pun memberanikan menulis buku. Dari buku Menemani Bidadari Suara Hati Seorang Mahasiswa yang saya tulis selama enam hari, hingga Ensiklopedia Allah yang saya tulis selama tiga bulan (atas nama: Abu Fikri Ihsani). Kemudian dari buku biografi seperti Fatimah Az-Zahra, hingga Presiden Mursi, Anies Baswedan, dan Hidayat Nurwahid. Saya selalu berpikir, bahwa menulis kebaikan adalah ibadah. Ini adalah dakwah. Mau ada honornya atau tidak, mau terkenal atau tidak, niat utama saya adalah dakwah.

Dari tulisan yang pernah saya buat, sering sekali tidak ada honornya. Tulisan paling mahal saya dapatkan untuk beberapa halaman berasal dari majalah-nya Garuda. Waktu itu ada seorang kawan yang whatsapp minta saya menulis tentang destinasi Ternate, akhirnya saya iyakan. Kawan baru itu rekomendasikan nama saya dari kawan saya lainnya yang saya belum pernah bertemu, kecuali hanya pesan-pesan di grup whatsapp. Memang, silaturahmi itu penting sekali, dan memperluas rezeki.

Buku-buku yang ada di rak kos saya--sebagaimana dalam foto ini--lahir dari semangat saya untuk terus berdakwah dalam menulis. Saya berprinsip, jika saya lemah di satu sisi saya nggak boleh lemah di sisi lainnya. Persis seperti kata Buya Hamka, kalau kamu buruk rupa jangan sampai buruk budi. Artinya, kalau kita kurang di satu sisi kehidupan, janganlah sampai di sisi lainnya kurang kurang juga alias tidak ada yang dapat diandalkan. Paling tidak, harus ada satu yang bisa diandalkan dari diri kita. Beberapa buku karanganku yang ada di rak adalah proses dimana saya berusaha untuk mencari amal terbaik, paling tidak semoga bisa menjadi amal jariyah di akhirat kelak. Insya Allah. *

Jatuh Bangkitnya Umat Islam


Pada 15 Juli 2015 saya membawakan materi Kuliah Subuh di Masjid Jami Pesantren Darul Istiqamah Pusat, yang berada di daerah Maccopa, Kabupaten Maros, Sulsel. Belum banyak yang saya persiapkan materi ini, karena baru semalam disampaikan oleh kawan saya, Ust. Fakhruddin Ahmad, ST. Sementara, saat itu kondisi fisik saya juga masih belum pulih betul selama dua hari. Tapi, untuk dakwah, saya pikir saya harus bisa.

Materi yang saya sampaikan pada kesempatan baik ini adalah beberapa faktor yang menyebabkan jatuh atau mundurnya umat Islam. Menyelisihi faktor-faktor ini berarti bangkit dan majunya umat Islam.

Faktor pertama adalah karena umat Islam meninggalkan Al Quran dan Sunnah. Rujukan dalam berislam adalah dua ini. Ini yang paling utama. Dalam umat, ada kelompok yang hanya fokus pada Al  Quran saja, dan ada juga yang mengambil hadis tapi tidak semua, atau dipilih-pilih. Untuk hadis, memang sebaiknya yang sahih saja yang dipakai dalam rujukan. Tapi saya pernah dengar, untuk hadis dhaif kalau memang isinya bagus, itu bisa dipakai juga. Tapi didahulukan yang sahih. Saya pribadi tidak banyak tahu tentang Ilmu Hadis walaupun pernah belajar beberapa tahun. Tapi, meninggalkan hadis atau memilih-milih sesuka hati bisa menyebabkan umat mundur.

Kedua, karena tidak menuntut ilmu. Ayat pertama iqra' mengajarkan umat untuk mencari ilmu. Tentu tidaklah sama orang yang berilmu dengan yang tidak. Kebangkitan umat akan menjelma jika umat memiliki semangat untuk mencari ilmu. Dengan ilmu inilah umat akan bangkit dalam banyak segi kehidupannya.

Ketiga, tidak menguasai media massa. Ini penting, karena berpengaruh pada perspektif umat manusia. Siapa yang menguasai dunia, pasti menguasai media massa. Atau bisa dibalik, siapa menguasai media massa, dia menguasai dunia. Saat ini berita-berita yang kita konsumsi banyak dari barat dan cenderung berat sebelah--walaupun tidak semua tentu saja. Umat Islam perlu memiliki media Islam yang luas cakupannya dengan kekuatan modal yang baik.

Paling tidak, ini tiga hal yang berpengaruh pada jatuh atau bangkitnya umat Islam. Kebalikan dari ketiga hal ini akan membangkitkan umat Islam. *

Mimpi-Mimpi dari Tobelo

Pantai belakang rumah saya


De Facto & De Jure
Di akhir tahun 1981, dari Tobelo, sebuah kota kecil di bagian utara Pulau Halmahera, ibu saya berangkat menuju Pelabuhan Ahmad Yani Ternate, Tanjung Perak Surabaya, Tanjung Priok Jakarta, dan terus ke Lampung. Di Lampung inilah saya dilahirkan pada tanggal 13 Januari 1982. Saat lahir, jika tak salah ingat, ayah saya pernah cerita bahwa ia bermimpi ada anak bayi yang bermain-main di atas kepalanya. Mungkin itu tanda dari kelahiran saya.
Tak seberapa lama di Lampung, saya pun dibawa kembali ke Tobelo oleh ibu, karena keluarga kami menetap di Tobelo. Waktu pengurusan akte lahir, petugas di Tobelo tidak mau menerbitkan akte tersebut karena saya lahir di Bandar Jaya, Terbanggi Besar, Lampung Tengah. Akhirnya, untuk kepentingan masuk sekolah, di akte saya tertulis lahir di Tobelo. Hingga kini, jika tanya lahir dimana? Saya menjawab begini: “secara de facto saya lahir di Lampung, tapi secara de jure lahirnya di Tobelo.”
Orang tua saya adalah pedagang. Saya anak kedua dari tiga; kakak bernama Abdillah Syukur, dan adik Efriani Syukur. Ayah saya bernama Rasyidin Syukur dan ibu Haryanti Sjam. Di jamannya, kakek saya dari ayah, adalah pedagang yang sukses; kebunnya banyak, ia ahli agama, dan duitnya melimpah. Sedangkan kakek dari ibu adalah seorang nahkoda kapal asing yang di jaman tersebut sudah berkeliling dunia dengan kapal tersebut. Menurut pengakuan Alfi Sjam, om saya yang mengajar di PPM Menteng, ketika masih kecil ia sudah biasa dengan hal-hal yang terkait luar negeri ketika masyarakat sekitar rumahnya di Jakarta Timur belum banyak yang keluar negeri. Dari jalur kedua kakek saya, mereka memiliki kesamaan: sama-sama orang Minang perantauan. Kakek saya (Abdullah Syukur) adalah perantau dari desa Panyinggahan yang terletak di pinggir danau Maninjau ke jazirah Moloku Kie Raha, persatuan empat kerajaan, yaitu: Ternate, Tidore, Bacan, Jailolo. Perantauan ini tampaknya punya dua misi: (1) misi perdagangan untuk memperbaiki hajat hidup, dan (2) menyiarkan agama Islam. Kedua hal ini saling terkait satu dan lainnya. 
Jika ditarik ke sejarah masa silam, keluarga kami telah berdiam di Maluku Utara sejak awal abad ke-20, empat abad setelah misi Portugis pimpinan Antonio de Abreu (atas perintah Alfonso d’Albuquerque) tiba di Maluku setelah bertolak dari Malaka, di akhir tahun 1511. Perantuan keluarga kami itu awalnya adalah satu orang tetua, dan ketika menemukan bahwa Ternate adalah tempat yang baik untuk merantau, ia pun mengajak sanak-saudara untuk merantau pula. Di kota Ternate, ada yang merantau ke beberapa kota lainnya, selain berdagang mereka juga menjadi penyiar agama Islam. Abdullah Syukur misalnya, ia pernah menyiarkan Islam pada “orang-orang pedalaman” di Galela yang saat itu belum beragama. Kegigihannya dalam berdakwah bisa jadi karena orang Minang selalu tak lepas dari Islam, dan dimanapun mereka berada, mereka tetap menyebarkan dakwah Islam.
Saya sekeluarga menetap di kota Tobelo. Rumah saya di atas air pantai, tak seberapa jauh dari pelabuhan.  Di depan rumah terlihat jelas beberapa pulau, seperti Kumo, Kakara, Tolonou, Tagalaya, atau sebuah pulau kecil tak berpenghuni, pulau Tulang. Jika bisa terbang dan kita terbang lurus, maka dari pantai Tobelo itu kita bisa tembus ke pulau Morotai (yang dipakai oleh Jenderal McArthur sebagai basis pertahanan sekutu untuk melawan Jepang di Perang Dunia II), dan bisa tembus Kepulauan Karolina, Marshall sampai ke Kepulauan Hawaii yang masuk dalam yurisdiksi Amerika Serikat dan Los Angeles. Tiap malam saya selalu merasakan sepoi angin yang menyusup lewat celah-celah lantai papan rumah kami. Pun, di tiap malam saya mendengarkan tembang-tembang kenangan yang diputar oleh ABK kapal-kapal kayu yang tengah bersandar di pelabuhan. Sepulang sekolah, biasanya waktu saya banyak habis di pantai. Di bawah rumah saya membuatkan tempat khusus untuk menangkap udang dan memelihara ayam kampung. Telur-telur ayam itu biasa saya jual seharga lima ratus rupiah kepada mereka yang kebetulan belanja di rumah kami. Sehabis sekolah juga, saya biasa mencari ikan, kepiting, dan kerang untuk dimasak.
Karena terlalu sering main di pantai, maka di umur 5 tahunan ayah saya berpikir untuk memasukkan saya ke sekolah. Awalnya kepala sekolah SDN 1 Tobelo menolak, karena belum cukup umur, tapi akhirnya menerima juga dengan pertimbangan: saya dalam posisi ikut-ikutan belajar, kalau naik kelas maka bisa naik kelas dua. Saat ujian selesai, nilai saya cukup baik dan akhirnya naik kelas dua. Begitu seterusnya hingga tamat kelas enam SD. Kepada kepala sekolah Pak Jusuf Tonoro dan guru-guruku di SD, saya ucapkan terimakasih banyak atas ilmu dan bimbingan yang luar biasa waktu itu.
Selain bersekolah di negeri, saya juga mengaji di luar sekolah. Pengalaman mengaji ini membuat saya berpikir: kayaknya lebih tertarik pada bidang agama ketimbang umum. Maka, saya lebih fokuskan minat saya pada pengajian. Saya pernah mengaji pada guru-guru seperti Om Bakar (alm.) di kompleks Dufa-Dufa, dan Ko Uceng (Husen Tjan, alm.) di TPA al-Badrun (sekarang bernama: al-Badru) di jalan TT. Marhaban, dan beberapa guru lainnya. Sebelum bertolak ke Jakarta misalnya, saya diajarkan bahasa Arab sedikit oleh Om Bakar. Kosakata seperti ana (saya), anta (kamu), antum (kalian), saya tahu dari beliau. Waktu mengaji di Ko Uceng, saya pernah menjadi peserta terbaik pada 1993. Senang sekali waktu itu. Rasa senang dua puluh tahun lalu itu masih membekas hingga esai ini ditulis pada 2013.
Pada 1993, bersama ayah saya naik kapal kayu Ternate Star ke Morotai dan Ternate. Di Ternate, kami menunggu sekira satu minggu untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Jakarta dengan KM. Umsini selama enam hari. Praktis perjalanan dari Tobelo-Jakarta waktu itu sekira 2 minggu. Setelah ikut tes, saya diterima jadi santri di Pesantren Darunnajah (DN). Ada banyak suka-duka selama di pesantren, namun itu semua menjadi “batu loncatan” (stepping stone) bagi saya untuk loncatan-loncatan ke depan. Tamat DN, saya gagal tes beasiswa ke Universitas al-Azhar, Mesir. Ingin juga mencoba ke Malaysia, dan Madinah, tapi kedua negara itu saya tidak punya progres memadai. Namun saya diterima di Jurusan Pidana Islam (Jinayah Siyasah) Fakultas Syariah IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan Jurusan Antropologi FISIP Universitas Hasanuddin, di Makassar. Saya pilih ke Makassar, meninggalkan IAIN, agar bisa hidup baru, dengan tantangan yang baru pula. Tamat S1 di Unhas, dua tahun kemudian saya lanjut S2 di kekhususan Politik dan Hubungan Internasional Kajian Timur Tengah dan Islam UI. Setamat kuliah saya tidak berencana jadi dosen sebenarnya, tapi takdir dari-Nya menjadikan saya dosen. Saya pun menjadi dosen di Universitas Halmahera, sebuah universitas yang mulanya adalah sekolah tinggi teologi Kristen, terletak di desa Wari Ino, Tobelo. Satu semester mengajar di Uniera (juga di Pondok Pendidikan Muhammadiyah, Tobelo), kemudian saya diterima menjadi dosen PNS di Universitas Khairun, yang terletak di bagian selatan pulau Ternate.
Rusuh 99
Baru satu semester jadi mahasiswa, jelang lebaran 1999, saya pulang kampung. Dari Pelabuhan laut Soekarno-Hatta Makassar saya naik kapal ke Ternate; dari Ternate ke Sidangoli dan ke Tobelo. Dalam perjalanan, beberapa kali mobil yang saya tumpangi dicegat oleh sepasukan berikat kepala merah yang di tangannya memegang tombak. Sebelum itu, memang telah ada konflik tapal batas antara orang Kao (kristen) dan Malifut (Islam) yang banyak didiami suku Makian (Islam). Akhirnya, orang Kao pun sweeping orang Makian. Orang Makian dikenal progresif, edukatif, memiliki etos kerja yang baik, baik dari sifat paternalistiknya maupun militansi keagamaan. Karena bukan suku Makian, maka saya lebih aman, dan praktisnya “selamat” dari sweeping tersebut. Konflik ini memang serba kabur, karena banyak isu yang berkembang dan saling menyudutkan satu dan lainnya.
Tiba di Tobelo, malamnya kakak saya mengajari saya memanah. Panahnya terbuat dari besi, panjangnya satu jengkal setengah, depannya tajam (dengan lekukan kebelakang), dan di belakang panah ada renda-renda dari tali rafia. Saya mencoba, tapi tembakan saya tidak pas, malah panah itu lari ke belakang, bukan ke depan. Di televisi saya menonton komentar dari pimpinan TNI yang mengatakan bahwa di Maluku keadaan aman dan terkendali. Tapi, nyatanya tidak. Dua hari setelah tiba, tanggal 25 Desember (setelah natal), isu kuat berhembus: akan terjadi kerusuhan. Semua siap-siap. Termasuk saya. Saya pakai panah-panah tadi, parang, tombak, dan batu-batu di kantong celana. Malam setelah natal itu, di maghrib sudah terjadi baku hantam di kota Tobelo. Di tempat saya (komplek pelabuhan) belum. Malam itu tidur saya tidak pulas, bahkan berjaga-jaga jangan sampai pasukan Kristen datang. Senin pagi saya ikut penyerangan ke sebuah gereja di tengah kota. Di tengah penyerangan itu, saya berada di depan sayap kiri, ada sebuah bom meledak. Sepertinya molotov. Tangan saya berdarah. Saya kira tangan putus. Ternyata alhamdulillah tidak. Saya pun mundur. Setelah penyerangan itu, saya pun ke rumah. Di rumah saya berpikir, kenapa bisa seperti ini? Bahkan, saya berjanji dalam hati, suatu saat saya harus kembali ke sini.
Di senin itu, pasukan Islam berhasil memukul mundur Kristen. Tapi muncul isu bahwa besok (selasa, 27 Desember), akan ada penyerangan besar-besaran pasukan merah. Malam itu saya begadang. Ibu dan adik saya sudah diungsikan duluan ke pulau Tolonuo yang mayoritas Islam. Di rumah tinggal saya, kakak, dan ayah. Ayahku tidak mau mengungsi duluan. Ia, sepertinya menjaga saya jangan sampai ada apa-apa.
Dan, di pukul 7 pagi itu betul. Terjadi serangan besar-besaran. Waktu pasukan merah masih di pasar, saya dan beberapa kawan sempat menyerang ke pasar. Tapi, pasukan dari sana lebih besar. Saya mundur ke belakang. Tiba di depan gerbang pelabuhan, saya berdiri di tengah-tengah. Ternyata, serangan itu makin besar. Akhirnya mundur. Di samping rumah saya mencoba beberapa jurus tenaga dalam yang pernah saya pelajari, ternyata tidak ada reaksi apa-apa. Saya jadi bertanya dalam hati, apa benar tenaga dalam itu berkhasiat? (sejak itu saya agak tidak terlalu percaya dengan tenaga dalam). Akhirnya terdesak, kita terus mundur. Saya waktu itu berkemeja panjang kotak-kotak, pakai serban, celana kain hitam; di kantong celana ada batu, di tangan kiri tombak, tangan kanan parang; di kepala ada ikat kepala putih bertuliskan bahasa Arab: La Ilaha Illallah. Saya berdiri di tengah, ternyata ditembak lagi dengan panah panjang beracun. Beberapa panah itu tidak kena saya (tapi dalam hati saya sungguh khawatir). Tak seberapa lama, di kepala saya sakit. Sepertinya kena batu katapel. Berdarah. Di belakang saya ada ayah saya. Ia terus ikuti saya. Kami mundur setelah pelipis saya berdarah. Tiba di tikungan, tidak ada jalan lagi. Yang ada hanya lorong kecil di samping hotel President. Di sebelah jalan saya lihat ada tentara, tapi kami tidak tahu apakah itu tentara Islam atau Kristen. Saya berdoa cukup lama, 5 menit lagi. Berdoa dan memohon ampun, sekaligus berjanji bahwa ada ide-ide besar saya yang belum tertunaikan; saya ingin membuat pesantren. Tak seberapa lama, alhamdulillah, tentara itu memanggil kita agar maju, dan lari kencang. Saya lari kencang, dan juga teman-teman yang ada di situ. Di belakang tentara itu sudah banyak pasukan merah. Seandainya tidak ada tentara, mungkin pasukan merah sudah masuk (karena dari laut juga pasukan merah sudah mendekat, begitu juga dari belakang).
Tibalah di Masjid Raya. Sudah banyak orang berkumpul. Beberapa orang mau terus melawan, tapi tentara memberikan opsi agar kita angkat bendera putih, menyerah, dan selanjutnya keamanan ditangani tentara. Akhirnya, tentara yang tangani, dan menunggu mobil truk untuk diungsikan ke kompi Yonif C732 Banau tak seberapa jauh dari Masjid Raya. Dalam perjalanan di truk itu, saya mendengar banyak sekali kalimat-kalimat kasar yang dilontarkan tentang Islam, Nabi Muhammad, dan seterusnya. Memang, namanya perang, segala amarah memuncak hebat, dan itu sulit dihindari. Tapi, kami yang sudah di truk, tidak bisa apa-apa lagi, kecuali pasrah dan menerima takdir sebagai orang yang kalah, dan terusir.
Etoser
Menyadari banyaknya kerugian akibat kerusuhan, maka pemerintah mengalokasikan beasiswa kepada mahasiswa yang berasal dari daerah konflik, seperti Ambon, Maluku Utara, dan Poso. Saya beruntung dapat menerima beasiswa ini, setidaknya bisa membantu pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Keberuntungan itu bertambah lagi, saat Dompet Dhuafa Republika menjaring mahasiswa untuk menerima beastudi etos. Waktu itu, calon penerima masih umum, tidak dibatasi dari fakultas atau jurusan tertentu. Setelah berproses, alhamdulillah saya menjadi salah satu penerima, bahkan dipercaya oleh teman-teman sebagai Ketua Keluarga Penerima Beastudi Etos (KARIBIS) Makassar.
Tiap minggu kami mengikuti kajian pembinaan yang diadakan di gedung LAN Jl. Andi Pangerang Pettarani, Makassar. Pak Andi Taufik dan Pak Yamin Aslan, adalah dua nama yang berjasa bagi kami penerima beastudi etos di Makassar. Pada waktu tertentu, kami juga ditraktir makan coto Makassar oleh Pak Andi Taufik. Kemurahan hati Pak Taufik menurut saya turut memberikan pengaruh juga bagi saya, bahwa kalau kita memiliki rezeki, haruslah kita bagi kepada orang lain. Sesungguhnya, dan ini yang saya rasakan juga, ketika kita berbagi pada orang lain, kita juga mendapatkan kebahagiaan yang sama, bahkan lebih dari itu semua. Kebahagiaan yang sifatnya ilahiah.
Beberapa tahun saya menerima beastudi etos. Setelah tak menerima lagi, saya kerap merasa berutang-budi pada Dompet Dhuafa. Maka, kerap dalam kegiatan etoser Makassar, saya turut berbagi pengalaman, terutama dalam dunia tulis-menulis dimana saya cukup aktif bergiat. Membagi pengalaman ini turut memperkaya pengalaman saya dalam dunia kepenulisan, sekaligus membantu teman-teman yang berminat untuk aktif mencurahkan pikiran dan ide-idenya lewat tulisan.
Menulis Buku
Mungkin, dari etoser Makassar lainnya, atau mahasiswa seangkatan di Makassar, yang membedakan saya dengan yang lain adalah dalam menulis. Dalam organisasi bisa jadi ada kesamaan. Saya pernah menjadi ketua di beberapa lembaga, sebutlah: Forum Kajian Insani (FKI) BEM FISIP Unhas, Ketua KAMMI Komisariat Unhas, Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Sulsel, dan beberapa lainnya. Aktivitas saya yang berbeda dengan teman lainnya adalah dalam tulis-menulis.
Awalnya, saya menulis karena melihat beberapa tulisan senior yang dimuat di koran kampus Identitas. Saya melihat betapa para penulis itu cerdas-cerdas, dan saya rasanya tertarik juga jadi cerdas, alias saya tidak ingin jadi mahasiswa biasa yang mungkin rute hidupnya hanya ke kampus, pulang kos, atau main ke mal. Saya pun mencoba menulis. Dimulai dari mading jurusan antropologi, kemudian di surat kabar kampus Identitas, selanjutnya ke koran Fajar, Pedoman Rakyat, dan beberapa lainnya. Sekarang ini, sebagai dosen tetap di perguruan tinggi negeri Universitas Khairun, maka selain mengajar saya juga menulis di koran lokal, dan tetap menulis buku untuk beberapa penerbit di Jakarta dan menulis buku teks untuk keperluan pendidikan dan pengajaran.
Buku pertama saya (sebagai uji-coba), adalah kumpulan tulisan Revolusi Intelektualitas Bangsa Indonesia. Buku ini saya cetak sendiri; difoto kopi, editing oleh teman, dan praktis tidak ada ISBN. Beberapa kawan yang lihat buku itu langsung tertarik, dan mengapresiasi positif. Selanjutnya, pada 2004 saya mulai menulis buku Menemani Bidadari: Suara Hati Seorang Mahasiswa. Buku ini saya selesaikan enam hari, dari deadline waktu 7 hari. Deadline itu saya buat sendiri untuk menguji diri sendiri apakah saya bisa menyelesaikan tantangan personal itu atau tidak. Ternyata saya bisa. Buku Menemani Bidadari (MB) selanjutnya diterbitkan oleh kawan saya Muzayyin Arif, seorang pengusaha muda di Jakarta, via Fakhruddin Ahmad, guru di Pesantren Darul Istiqamah, Maccopa, Kabupaten Maros. Buku MB yang diterbitkan oleh Darul Istiqamah Press (DIP) milik Muzayyin—yang pada 2013, ketika belajar di Griffith University, ia membuka restoran coto Makassar Lontara di Sydney, Australia itu—walaupun hanya enam hari ditulis, rupanya memberikan arti bagi beberapa orang. Ada yang bilang, ia kemana-mana bawa buku yang ditulis di rental komputer Alfat Kom, samping Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulsel tersebut. Ada juga yang bilang, ia terinspirasi dengan isi buku itu. Singkat kata, buku tersebut pernah dibedah sekira tujuh kali, baik di koridor kampus, radio, atau di gedung pertemuan ilmiah di Unhas.
Terbitnya buku MB tersebut memberikan saya energi untuk terus menulis. Apalagi waktu itu saya masih menjabat sebagai ketua FLP Sulsel, sebuah jabatan nirlaba yang beberapa kali ditawari saya tidak mau, kecuali setelah ketua sebelumnya (Kak Rahmawati Latief yang saat itu tengah mengurus proses kelanjutan studinya di Malaysia) mengatakan bahwa “FLP adalah lembaga dakwah dan sayang sekali kalau setelah kita bentuk, ia mati begitu saja, padahal banyak sekali yang berminat gabung dengan FLP.” Saya pun menulis beberapa buku lagi dengan cetakan indie, seperti Mari Hidupkan Tradisi Ilmiah!, Run for Your Life!, Percikan Hikmah Orang-orang Sukses: Syarah 23 Pelajaran Mahfuzhat, dan beberapa judul lainnya.
Pada 2008, saya menulis buku Facebook Sebelah Surga Sebelah Neraka. Buku ini beberapa tahun selanjutnya diterbitkan dalam bahasa Melayu oleh salah satu penerbit di Selangor, Malaysia. Saya juga menulis tentang kesabaran berjudul The Miracle of Sabar yang oleh salah seorang pembaca buku ini, ia tulis pula buku dengan judul yang sama. Mendobrak Pintu Rezeki dengan 7 Jurus Sakti Warisan Nabi, yang berisi tentang “quantum rezeki” juga saya tulis. Bahkan, ada seorang pembaca di Jogja yang sempat mengirim pesan, curhat tentang masalah hidupnya. Untuk mahasiswa, bersama Rulli Nasrullah, dosen jurnalistik UIN Jakarta yang baru menamatkan studi S3-nya di Cultural Studies UGM, saya menulis Mahasiswa Juga Bisa Kaya. Isinya tentang wirausaha ala mahasiswa. Dalam tauhid, saya juga menulis Ensiklopedia Allah selama tiga bulan kurang lebih. Tiga bulan menurutku, termasuk lama, karena biasanya saya bisa menyelesaikan dalam waktu dua bulan, satu bulan, dua minggu, bahkan hanya beberapa hari.
Buku yang saya tulis umumnya buku Islami Populer. Buku genre ini beberapa tahun terakhir cukup banyak peminatnya, sehingga berbagai penerbit membuat lini ini. Judul lain yang saya tulis berjudul Terapi Kejujuran. Di beberapa Gramedia saya temukan buku ini, juga buku lainnya atas nama saya, atau nama lain, yaitu Abu Fikri Ihsani. Terkait biografi, saya menulis biografi anak perempuan Nabi Muhammad, yaitu Fatimah az-Zahra berjudul Fatimah az-Zahra: Wanita Paling Berpengaruh. Buku ini agak sulit bagi saya karena referensinya tidak banyak saya dapatkan. Namun, dengan berbagai referensi yang ada, akhirnya buku ini selesai juga. Pada sebuah malam di Gramedia Matraman, saya menemukan buku ini telah terbit.
Pada awal 2010 saya menamatkan S2, dan tesis itu sudah lama saya akan terbitkan. Maka ketika menjadi dosen di Unkhair, saya menerbitkan buku tersebut berjudul Menelusuri Jejak al-Qaeda di Indonesia. Sebenarnya, saya agak kurang puas dengan tesis tersebut, bahkan saya merasa tidak dalam. Akan tetapi, memang karena dikejar “harus segera tamat S2 dengan cepat” (sebagai komitmen saya sejak awal kuliah), maka saya harus segera menyelesaikannya. Sempurna atau tidak, itu urusan nanti, karena memang sulit membuat karya sempurna. Prinsip saya, sebuah karya sempurna itu tidak perlu diniatkan menjadi sempurna. Kelak, pembacalah yang akan menentukan mana karya yang menurut mereka sempurna. Sempurna, dalam konteks ini adalah “bermanfaat”, atau senada dengan sabda Rasulullah saw, “sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Hingga kini saya masih terus menulis. Selain beberapa judul di atas, saya juga menulis buku lainnya seperti: Keluargaku Surgaku, Jadikan Musibah Sebagai Ladang Ibadah, Umur Singkat Bermanfaat Umur Panjang Penuh Berkah, 4 Jurus Aktivasi Kesuksesan Dunia dan Akhirat, Mahadaya Cinta, Tuhan Tak Pernah Salah, Struggle for Life: Kisah Orang-orang yang Bertahan Hidup dalam Kondisi Sulit, Kekuatan Memaafkan (bersama Muhammad Nahar ‘Pedang Kayu’), Islam dan Zionisme: Logika, Isu, dan Gerakan (satu eksemplar buku ini saya berikan pada Abdillah Onim, relawan Mer-C di Gaza dan kontributor TVOne), Nabi-nabi Ulul Azmi: Teladan Hidup Tabah dan Sabar, Rahasia Berbakti kepada Ayah dan Dahsyatnya Doa Ayah, Sahabat-sahabat Nabi Terpopuler, Siti Asiah: Kisah Teladan Keteguhan Tauhid Istri Fir’aun, Siti Masitah: Keteguhan Iman Seorang Wanita, Ensiklopedia Mengenal Jenis Narkoba, dan Berdiri di Pundak Newton. Buku pribadi yang saya tulis (baik yang telah terbit maupun dalam proses) telah di atas 20 judul, selebihnya ada antologi; beberapa dalam negeri, dan 1 antologi bersama penulis serumpun melayu (Indonesia, Singapura, Malaysia, Brunei), dan kata pengantar bagi beberapa buku kawan saya. Judul-judul di atas itu banyak yang lahir sebelum saya jadi dosen antropologi. Ketika jadi dosen, saya pun merasa tertantang untuk menulis buku-buku lainnya sesuai bidang kajian dengan penulisan yang lebih akademik dan dalam. Satu hal cukup membantu saya dalam menulis-menulis, bahkan juga mungkin bagi penulis lain, adalah internet. Perkembangan internet yang begitu pesat, dengan data-data yang tersaji, membuat kita lebih cepat membuat naskah. Tentu saja, dalam memilih rujukan kita juga pilih-pilih mana yang paling baik, relevan, dan kuat. 
Tips Sederhana
Ada dua tips sederhana yang ingin saya sharing di sini. Yang pertama, bagaimana menghadapi tantangan hidup, dan kedua bagaimana menulis buku. Untuk tantangan hidup, tentu saja kita harus dulu bahwa hidup kita ini bisa diibaratkan seperti perahu. Perahu itu tidaklah diciptakan untuk hanya berdiam di dermaga, akan tetapi perahu diciptakan untuk mengarungi laut yang kadang diterpa ombak dan gelombang. Untuk bisa bertahan di tengah lautan hidup itu, maka sebelum berangkat ke laut lepas, perahu itu harus bagus dulu secara fisik dan nahkoda perahu itu sudah jelas ia mau kemana. Dalam hidup juga begitu, kalau kita sudah tahu apa yang mau kita capai, maka segala persiapan akan kita buat untuk menggapai cita-cita tersebut. Selain itu, kemampuan kita untuk bertahan, bersabar dalam menghadapi masalah, sangatlah penting peranannya. Waktu kerusuhan melanda kampung saya, rumah saya dibakar abis. Kesedihan juga muncul, tapi buat apa berlama-lama sedih yang tak punya nilai dan manfaat guna. Maka saya pun berusaha keras bagaimana agar bisa kembali melanjutkan kuliah, dan memperbanyak amal-amal baik yang berkualitas, salah satunya dengan membuat buku. Intinya: sabar menghadapi ujian itu penting sekali, bahkan menjadi salah satu prasyarat dari kesuksesan.
Sekarang kita bahas yang kedua, bagaimana menulis buku. Sejak kecil, sebagaimana anak kampung lainnya, saya tidak punya cita-cita menjadi penulis. Tapi ketika berkuliah di Unhas, saya mulai terpikir untuk menulis, terlebih setelah saya mentafakkuri bahwa menulis itu sejatinya adalah dakwah yang mengandung pahala, insya Allah. Pun, saya teringat waktu masih sekolah dulu pernah membaca novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karangan Hamka, yang saya beli di sebuah toko buku di Pasar Mayestik, Kebayoran Baru. Dari novel menarik itu, saya merasa ada beberapa penggalan cerita atau karakter tokoh yang sama dengan saya, maka saya mulai mengkaji sosok Hamka. Hamka bernama asli Abdul Malik, namun sepulang haji ia pun dipanggil Haji Abdul Malik ditambah dengan nama ayahnya, Karim Amrullah, maka jadilah nama pena: Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka). Dengan Hamka, saya berasal dari leluhur yang sama dengan beliau, di pinggir danau Maninjau. Saya pun tiba-tiba menemukan sosok panutan dalam menulis. Maka, beberapa karyanya saya pelajari, sekaligus bagaimana kisah hidupnya yang ia tulis dalam bukunya Kenang-kenangan Hidup. Dari bacaan atas karya dan jejak perjalanan Hamka-lah saya termotivasi untuk menulis dengan niat semata untuk dakwah, untuk menjadi cahaya penerang bagi orang lain lewat tulisan.
Maka begitulah, untuk jadi penulis, kita harus punya kemauan dulu. Kalau sudah mau, maka mencarilah kita beberapa tokoh inspirasi. Lebih baik lagi kalau tokoh tersebut adalah penulis hebat yang karyanya dikenal luas. Artinya, menjadikan tokoh ternama sebagai motivator menulis itu tak ada salahnya, bahkan pada titik tertentu dapat menjadi inspirasi besar untuk kita menulis. Saya pun memulai dari situ. Saya mengumpulkan segala kemauan, kemudian mengidolakan Hamka, sebagai salah satu idola dalam menulis. Kemudian, setiap ada momen penting, saya berusaha menuliskan momen itu dalam buku harian, atau blog dan website pribadi. Waktu jejaring sosial friendster nge-trend, saya banyak menulis di situ. Dan ketika friendster tergeser oleh facebook, saya juga aktif menulis di situ, bahkan status yang bermanfaat maupun catatan sehari-hari. Belakangan, keresahan saya atas fenomena penyalahgunaan facebook membuat saya menulis buku Facebook, yang buku ini menjadi rujukan bagi beberapa orang ketika membahas tentang facebook.
Demikianlah beberapa pengalaman sederhana saya sebagai orang daerah yang berusaha untuk menjadi pribadi terbaik. Saat ini saya berfokus mengajar di perguruan tinggi, sekaligus tidak melupakan dunia tulis-menulis, serta aktivitas dakwah dan sosial. Artinya, semua aktivitas kita sepatutnyalah kita berharap akan turunnya rahmat dan ridha dari Allah semata. “Meniti jalan menuju mardhatillah”, sebagaimana mottonya Majalah Sabili itu rasanya penting menjadi bekal kita semua untuk menggapai cita-cita hidup. Wallahu a’lam bisshawab. []

Berbagi dengan Orang Aceh

Berbagi dengan FLP Aceh Setelah berakhirnya Munas IV FLP, saya diminta oleh beberapa kawan FLP Aceh untuk sharing pengalaman. Sejak iku...