Senin, 22 Juni 2015

Yang Tersisa dari Pak Jabbar



TIDAK tahu kapan akan bertemu dia lagi karena dia kini telah tiada. Dia bukan dari golongan orang terkenal, bukan juga dari yang berada, tapi setidaknya dia punya kepedulian yang besar "menghantarkan" orang lain menuju gerbang surga.
Kami mengenal namanya dengan Pak Jabbar. Dia asli Flores, Nusa Tenggara Timur. Awalnya, dia adalah seorang Kristen, kemudian masuk Islam dan berhijrah ke tanah Makassar. Orang-orang NTT juga NTB rupanya cukup banyak yang tinggal di Makassar. Menurut sejarah, kerajaan Makassar dulu pernah sampai menjangkau ke Nusa Tenggara Barat.
Saya baru saja mengenal Pak Jabbar. Tapi pengenalan lebih jauh saya dapatkan setelah menghadiri pemakaman KH. Ahmad Marzuki Hasan di dalam komplek Pesantren Darul Istiqamah. Kita ngobrol lebih dari sejam dalam keadaan berdiri dan duduk. Dia cukup betah kalau ngobrol dengan orang lain.
Entah sudah berapa banyak dia gali kuburan. Puluhan mungkin. Saya tanya, “Pak Jabbar tidak takut pas gali kuburan?”
Dia jawab, “tidak.”
Tidak ada perasaan takutnya. Dia pernah bercerita, bahwa di kampungnya dulu sering orang baku bunuh, jadi dia tidak takut.
Yang menarik dari Pak Jabbar adalah keikhlasannya untuk menggali kuburan. Saya pernah tanya berapa penghasilannya dari kerja itu? Dia jawab, kadang-kadang ada kadang juga tidak ada. Tapi, dia syukuri itu semua. Yang lebih penting baginya adalah dia telah masuk Islam, tinggal dalam lingkungan pesantren dan bisa beramal untuk dakwah.
Kata-katanya menarik, lugu sekaligus orisinil. Pertama kali datang ke Makassar, dia punya hajat terhadap suatu barang, dia bertanya, “Saya mau beli itu yang saya lihat dia dan dia lihat saya. Orang yang ditanya kaget. Apa ya? Oh, ternyata yang dia maksud adalah CERMIN.
Di lain waktu, karena banyak nyamuk mungkin, dia ingin membeli suatu barang yang bisa menjadikannya aman dari nyamuk. Dia tanya ke temannya, "saya mau beli itu yang digantung sini gantung sana, saya di dalam nyamuk di luar." Yang ditanya mencari-cari apa maksudnya. Oh, ternyata KELAMBU.
Pak Jabbar orangnya baik. Setidaknya, karena di suatu pagi dia pernah bantu-bantu saya melempar mangga di sekitar komplek SD Darul Istiqamah, kebetulan dia yang menjaga SD dan beberapa pohon mangga di situ.
Waktu saya bercerita dengannya, setelah pemakaman KH. Marzuki Hasan, dia bilang kalau lidahnya sakit. Saya memberikan masukan kepadanya untuk berobat tradisional. Dia bilang, sudah coba. Untuk berobat di dokter, dia bilang dokter juga tidak mau mengobatinya karena agak parah lidahnya. Seperti ada tumor.
Kurang lebih 8 bulan saya tidak ketemu beliau. Hingga pada suatu malam datang kabar pada kami bahwa Pak Jabbar telah dipanggil Allah pada suatu senja. Saya tidak tahu kapan bisa bertemu Pak Jabbar lagi. Saya ingin banyak belajar darinya, belajar tentang keaslian, jauh dari prasangka, jauh dari tipu daya, jauh dari konspirasi, dan keluguan manusia.
Semoga amalan kebaikan yang telah diperbuatnya di dunia, menjaga sekolah, menjaga mangga-mangga, membersihkan halaman sekolah, membesarkan anak-anaknya, mengislamkan dirinya, menjadi amalan jariyah untuknya yang pahalanya senantiasa mengalir walau dia telah ditimbun di tanah Flores sana. Innallillahi wa inna ilahi rojiun...[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar