Yang Pergi Lebih Awal



"MATI muda," begitu seseorang pernah berkata. Katakanlah, kita mengutip ini dari salah satu tulisannya Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa tahun 66. Gie bilang, kalau ia ingin sekali mati muda, dan betapa sialnya umur tua, maka dia pun menemui ajalnya di salah satu gunung, sesuai dengan keinginannya.
Masalah mati muda atau tua, sebenarnya kita nggak bisa mematok itu. Kita nggak tahu kapan kita mati, itu jelas, karena mati itu dari Tuhan, kecuali kita loncat dari gedung tinggi seperti mahasiswa YAI beberapa tahun lalu, atau juga seperti mahasiswa UI, seorang perempuan yang menurut kabar, loncat dari lantai paling tingginya gedung Pusat Grosir Cililitan (PGC) Jakarta Timur.
Beberapa bulan belakangan ini, entah kenapa orang-orang yang dekat dari lingkungan saya pada pergi duluan. Tapi yang paling alhamdulillah dari kepergian mereka adalah mereka pergi dalam keadaan yang baik-baik, mereka tidak pergi dalam keadaan maksiat. Pada Maret 2010, bahkan dua keluarga kami, paman dan sepupu yang meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Kami berdoa semoga mereka yang telah pergi diberikan tempat yang terbaik.
Seseorang ditabrak dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Ia bolak balik kerja, untuk menyanggupi nafkah bagi anak dan istrinya, dan ketika ia ditabrak, ia meninggal. Maka meninggalnya termasuk dalam kebaikan, oleh karena dia bertanggungjawab atas anak dan istrinya.
Seseorang yang lain, perempuan, dia sangat bersemangat dalam belajar. Waktu dia sakit, dan baru sembuh, dia langsung mau ke kampusnya untuk belajar. Kalau saya tidak masuk sekarang, saya bisa mengulang pelajaran ini tahun depan,kata dia begitu. Orang-orang di dekatnya bilang, istirahat ajalah dulu. Tapi, dia memaksa, karena dia ingin selalu pintar, dapat nilai yang baik, dan memiliki masa depan yang cerah.
"Mak, tolong pijit saya, badanku agak sakit, " kata dia begitu pada mamanya. Di waktu yang tidak terlalu lama, dia juga berkata kepada mamanya, "Ma, begini mungkin rasanya sakaratul maut." Dia merasa tubuhnya agak sakit, olehnya itu dia dipijit-pijit oleh mamanya. Dia berkata, "Ma, saya mau sekali salat Isya, tapi badanku kayaknya nggak kuat, bisa ditunda aja ya nanti malam.." Tapi, saat dia dipijit itulah, dia kemudian terdiam untuk selamanya, menyusul suaminya yang beberapa bulan lalu meninggal, menyusul anak semata wayangnya yang lagi lucu-lucunya kurang lebih dua tahun lalu.
Seseorang yang lain, adalah guru, umurnya 30-an. Dia biasa imam di masjid. Saya biasa bertemu dengannya kalau salat Dzuhur atau Ashar. Selain beliau, yang biasa menjadi imam adalah Ustad Mukhlis Bakri, seorang guru alumni master dari salah satu kampus di Sudan, dan Profesor Veny Hadju, guru besar di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin.
Seseorang ini, dipanggil oleh Allah dalam keadaan sakit. Awalnya dia dinyatakan sembuh. Akhirnya keluarganya pun berencana untuk memulangkannya, tapi ketika mau pulang itulah kesehatannya drop. Tak lama kemudian, dia dinyatakan pergi untuk selamanya. Yang paling membuat kita salut kepada beliau adalah karena beliau sangat menjaga puasa Daud-nya. Puasa Daud adalah puasa selang seling yang pernah dipraktekkan oleh Nabiyullah Daud alaihissalam. Hari ini puasa, besok tidak, dan seterusnya.
Selanjutnya, ada juga seseorang yang berjasa bagi saya. Dia low profile. Dia pernah menjualkan buku saya Menemani Bidadari 20 buah di kantornya. Dia lahir tahun 70-an pertengahan. Dia punya istri masih muda, kira-kira bedanya hampir 15 tahun antara dia dengan istrinya itu. Nama istrinya sangat baik, yaitu kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia berarti Perempuan yang Salehah. Si lelaki ini namanya bagus, nama anaknya Nabi Ibrahim yang pernah hendak disembelih namun kemudian sosoknya diganti dengan sebangsa domba yang kemudian dari situ kita disyariatkan untuk berkurban.
Si lelaki ini rajin salat berjamaahnya. Orangnya ganteng itu pasti. Kalau dilihat-lihat, di lingkungan saya, dia salah seorang ganteng yang Tuhan ciptakan. Tubuhnya putih, bodinya bagus, dan murah senyum. Dia punya anak dua. Saya pertama kali bertemunya waktu makan bareng di sebuah warung lesehan. Si lelaki ini saat ini telah pergi untuk selamanya. Kabarnya dia menabrak sebuah truk waktu pulang dari kantornya. Kebetulan malam itu dia ada rapat larut, dan pulangnya itu ajal menjemputnya.
Mereka-mereka yang sudah pergi itu sebenarnya mereka juga tidak tahu kenapa mereka harus pergi dahulu. Adik saya yang paling terakhir, malah pergi dalam perut ibu, katanya karena ibu terlalu aktif membuat adik saya terganggu dan meninggal di dalam perut.
Mereka-mereka yang sudah pergi itu, tidak ada yang tahu kapan mereka harus pergi. Seperti juga mereka, seperti kita nggak tahu menahu kenapa bisa kita yang dilahirkan dengan bentuk yang seperti ini dan menjalani hidup yang seperti ini. Rasanya, kita hanya menjalani takdir kita sebagai manusia, walau tetap dengan memiliki keinginan-keinginan, rasa dalam hidup kita.
Mendengar kepergian mereka, kita yang masih belum pergi, kadang kaget banget. Oh, kenapa begitu cepat mereka dipanggil-Nya.
Dalam perjalanan dari Palembang ke Lampung di sebuah mobil, kurang lebih 13 tahun lalu, saya masih terngiang sebuah lagu dari Deddi Dores, "Oh, Tuhan mengapa begitu cepat Kau panggil dia.." Syair itu sepertinya ditulis oleh Deddi untuk mengenang Nike Ardilla yang baru saja wafat. Belakangan, syair itu juga kembali teringat di kepala saya ketika ada orang terdekat kita yang pergi.
Sebagai yang masih tertinggal, kita perlu mengambil ibrah (pelajaran, hikmah) dari mereka-mereka. Kita berharap jika suatu saat tiada, kita tiada dalam keadaan beriman, dan semua masa lalu yang buruk terkikis dengan pahala kebaikan.
Karena kita nggak tahu kapan kita akan pergi, maka alangkah baiknya dari sekarang kita siapkan diri kita untuk itu. Konon, agar lebih mengingat kematian, seorang sahabat Nabi ada yang membuatkan lubang kubur di rumahnya, dan kadang masuk ke situ membayangkan bagaimana rasanya kalau suatu saat jadi ahli kubur. Bagi kita yang masih ada ini, apa yang sudah kita persiapkan kalau-kalau suatu saat panah ajal menembus tepat di jantung kehidupan kita yang membuat kita menjadi tiada? []

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berbagi dengan Orang Aceh

Kuliah, Kerja, dan Pencarian Kebahagiaan

Kenapa Menulis buku Buya Hamka?