Tuhan Tak Pernah Salah

LAPTOP seorang penulis hilang. Laptop itu, menurutnya tidak terlalu mahal, akan tetapi harga belinya lumayan untuk membayar kos satu tahun. Mendengar itu, seorang kawannya yang bekerja di Kementerian Luar Negeri berkomentar, “Pena seorang penulis itu laptop. Kalau pena itu hilang, sulit juga aktivitas seorang penulis itu.” Di jaman ketika teknologi begitu terasa penting seperti hari ini, memang berat juga bagi seorang penulis tanpa laptop.
KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur pernah menulis buku, judulnya Tuhan Tidak Perlu Dibela. Jika dipikir-pikir, memang benar, karena Tuhan adalah Penguasa segalanya, maka segala pembelaan kita terhadap Tuhan sejatinya adalah pembelaan kita terhadap diri sendiri, atau pada masyarakat kita. Tuhan memiliki segala-galanya, Dia tidak membutuhkan pembelaan manusia, akan tetapi manusialah yang membutuhkan untuk menyandarkan dirinya pada hadirat Tuhan. Maka, ketika seseorang berjihad, sesungguhnya jihadnya itu untuk kepentingan dirinya sendiri. Tuhan menurunkan para Nabi dan Rasul misalnya, itu juga bertujuan untuk manusia juga agar mereka menyembah pada-Nya saja. Namun pembelaan kepada Tuhan atau kepada agama Allah, sejatinya itu bagian dari perjuangan untuk menegakkan kebenaran di muka bumi.
Suatu waktu, ada ada seorang sahabat Nabi yang kehilangan buah hatinya. Ibu dari anak itu sabar sekali menghadapi musibah. Saking sabarnya sampai sang ibu bisa menahan informasi kematian anaknya sampai mereka selesai menunaikan hajat bersama suaminya di malam itu. Setelah selesai, sang istri bertanya kepada suaminya tentang sesuatu yang dititipkan kepada kita dan di waktu yang lain si empunya mengambilnya.
“Karena si empunya mengambilnya, dan itu milik-Nya, maka kita ikhlaskan saja,” kata sang suami. Tak seberapa lama, sang suami baru tahu bahwa ada kabar sedih, yakni anaknya telah duluan pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Menghadapi ujian itu, keluarga ini tetaplah bersabar. Mereka yakin bahwa segala musibah ada maksud dan tujuannya. Karena sabar, mereka pun dapat buah yang manis. Belakangan hari, mereka pun melahirkan seorang anak yang menjadi penghafal al-Qur’an. Maka tak salah jika dikatakan, “Sabar atas musibah adalah solusi untuk menyelesaikan masalah-masalah kita.”
Begitu juga tentang pasutri yang belum punya anak. Nabi Ibrahim itu lama baru ada anaknya. Bertahun-tahun dia berusaha tapi anaknya nggak juga hadir. Hingga suatu saat di hari tuanya beliau yang mulia berdoa agar diberikan kepadanya keturunan yang akan meneruskan risalahnya. Akhirnya, lahirlah anak beliau yang mulia Nabi Ismail.
Tetangga kita mungkin ada yang sudah lima tahun, sepuluh, dua puluh, bahkan lima puluh tahun lebih menikah tapi belum juga dikaruniai anak. Sedih? Iya, itu alamiah sifatnya karena tindak lanjut dari cinta antara dua anak manusia adalah: KETURUNAN. Tapi kalau sudah berusaha kiri kanan tapi anak belum juga hadir, harus bagaimana? Sabar saja, itu mungkin jawaban yang nggak ada lagi yang lainnya. Sabar bukan berarti pasrah, tapi maksimalisasi pada tujuan yang hendak dicapai.
Salah seorang guru di Pesantren Darul Istiqamah Bulukumba, Sulawesi Selatan, namanya Iqbal Coing, nama lengkapnya Muhammad Iqbal Coing. Beliau keturunan Bugis, dan dari awal hayatnya sampai sekarang, dia belum juga (tepatnya tidak bisa) melihat atau buta. Bagi kita yang bisa melihat mungkin kebutaan adalah petaka, tapi bagi mereka yang nggak bisa melihat itu bisa menjadi berkah tersendiri. Ustad Iqbal hingga kini masih senantiasa menghafalaAl-Qur'an, ia telah hafal 30 juz dan kalau mengikuti sebuah materi ia cepat sekali menangkap pointer penting dari situ.
Tulisan-tulisannya yang dimuat di buletin Fastaqim menarik sekali dibaca. Saya sangat senang kalau membaca tulisan beliau. Renungannya berasal dari hatinya banget. Suatu waktu di sebuah pengajian, Ustad Iqbal menjelaskan surat al-Insan yang bercerita tentang manusia. Di ayat itu, Allah menceritakan kepada kita bahwa dulu kita itu nggak ada apa-apanya.
Hal ataa 'alal insaani hiinum minaddahri lam yakun syai-am madzkuuro.. Dulu, pernah ada masa bagi manusia ketika mereka nggak bisa disebut. Maksudnya, bahwa dulu manusia itu pernah menjadi sesuatu yang nggak ada kelebihan, nggak bisa disebut (madzkuuro). Dulu, waktu orang tua kita belum berhubungan, kita belum ada apa-apanya. Waktu terjadi pembuahan, kita juga nggak ada apa-apanya. Cantikkah kita waktu masih menjadi telur dalam ovum? Gantengkah kita waktu masih menjadi sperma yang berlarian begitu cepat? Bisakah bisa ber-narsis ria waktu di alam rahim itu?
Jadi, dulunya kita nggak ada apa-apa. Hingga kemudian di ayat selanjutnya Allah memberikan kita penglihatan dan pendengaran. Itu untuk apa? Untuk menguji kita semua! Ya, menguji kita. Hasil dari optimalisasi penglihatan dan pendengaran itu ada dua: immaa syaakiran aw kafuura (menjadi SYAKIR—bersyukur atau KAFIR—berpaling dari Tuhan).
Dari pengajian Ustad Iqbal itu, kemudian saya menghafal Surat al-Insan. Subhaanallah, kadang saya menangis sendiri kalau membaca ayat itu. Betapa dulunya kita nggak pernah seperti ini, tapi kenapa ketika Allah memberikan kita rezeki yang banyak kita belum juga bersyukur? Hati yang berbicara akan menangis sejadi-jadinya, Ya Allah betapa bergunung dosa hamba, Ya Allah hamba-Mu mendekat kepada-Mu, Ampunilah hamba-Mu ini yang berlumuran dosa..
Tuhan Nggak Pernah Salah. Karena Maha Segalanya, maka Tuhan berhak atas apa saja yang ada. Itu sudah hak Tuhan. Kita diciptakan dengan mata yang bagus, dengan wajah yang cerah, atau bahkan sampai para bentuk yang berlainan antara satu dengan lainnya, itu nggak ada yang salah! Orang Afrika kulitnya gelap, itu nggak salah. Orang Barat kulitnya agak kemerahan, itu juga bagus. Orang Asia tidak terlalu tinggi ketimbang Orang Barat, itu sudah kadarnya. Jadi, apapun yang Tuhan berikan kepada kita, jangan ditangisi.
Aduh, kenapa ya saya ditakdirkan jadi orang semalang ini? Mungkin, kalau kita mencocok-cocokkan wajah kita dengan wajah artis yang penuh polesan make up itu, kita nggak akan cocok. Tapi, kita jangan menjadi diri orang lain. Manusia paling bagus adalah yang berusaha tampil alamiah, tidak dibuat-buat. Kalau dia cantik, cantiknya alami, kalau dia ganteng, gantengnya alami. Cantik dan ganteng itu hanya beberapa persen ditentukan oleh faktor wajah dan bentuk tubuh, selebihnya yang paling dominan adalah berada di hati. ”Inner Beauty” dalam bahasa populernya, kecantikan dari dalam, dari dalam hati.  
Orang cantik kalau jutek wajah dan bicaranya, tentu membosankan. Orang ganteng kalau bodoh (karena tidak mau belajar), otaknya ditaruh di dengkul, itu juga nggak laku. Kalaupun laku, akan laku pada beberapa fase saja dalam kehidupan kita. Itulah rahasianya hubungan yang bisa bertahan lama. Keberhasilan hubungan karena faktor fisik hanya bertahan pada tahun-tahun pertama saja dalam pernikahan, kalau sudah 10, 20 dan 30 tahun lebih menikah, apa istri cantik masih juga cakep kayak dulu? Nggak, kan? Maka dari itu, memang betul bahwa keterikatan hati itu lebih penting, apalagi ditambah dengan semangat dakwah dan pelayanan sosial itu akan lebih baik untuk kebahagiaan diri kita. Allah memilihkan kita pasangan yang pasti terbaik.
Terkait dengan itu, juga tentang musibah yang melanda negeri kita. Aneka gempa, tsunami yang datang sistematis, juga banjir dan erupsi gunung adalah tanda bahwa kita perlu merenungkan kembali. Apa yang perlu kita renungkan? Ya, bisa jadi cara berpikir kita yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Atau, bisa jadi karena cara kita yang tidak ramah terhadap lingkungan, yang pada gilirannya kemudian, alam-alam bersahut-sahutan mengadakan demonstrasi pemberontakan kepada manusia. Kalaupun musibah itu datang, salahkan Tuhan? Tuhan tentu tidak salah, karena Dia adalah pemilik ini semua. Dia telah memberikan berbagai firman kepada kita (termasuk di dalamnya tentang berita sedih dan gembira). Bisa jadi, musibah demi musibah yang datang kepada kita, itu karena memang ulah dari tangan dan pikiran kita sendiri. Maka solusi terbaik baik hal itu adalah, seperti kata musisi legendaris Ebiet G. Ade, ”...bersujud pada-Nya.”
Ya, ini adalah saat terbaik untuk kembali pada mendekatkan kening kita ke bumi. Maha Suci Engkau ya Allah, Yang Maha Tingggi dan segala pujian hanyalah untuk-Mu... []

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ma'rifat Danarto

Berbagi dengan Orang Aceh

Kuliah, Kerja, dan Pencarian Kebahagiaan