Selasa, 23 Juni 2015

Tentang Para Guide yang Luar Biasa (17)

Rowan Gould, beberapa tahun lalu


Selama dua minggu di Australia, panitia Australia-Indonesia Institute (AII) menyiapkan guide. Kalau dipikir-pikir, posisi guide ini sangatlah penting untuk memastikan jadwal kegiatan yang telah diatur dalam berjalan dengan lancar. Secara umum kegiatan kita yang ada di jadwal terlaksana dan berjalan dengan lancar. Hal ini juga tidak terlepas dari peranan para guide. Untuk memastikan kapan berangkat dari lokasi, jarak perjalanan, berapa waktu yang harus kita habiskan di sebuah lokasi sebelum berpindah ke lokasi lainnya, ini sangat bergantung pada guide.

Christina Rafferty-Brown
Beberapa hari sebelum ke Australia, masing-masing kami dapat email dari Ibu Chris. Di emailnya pada bagian bawah, ia tulis Chris. Beberapa teman menyangka ini bapak-bapak, karena nama Chris sangat lekat dengan laki-laki, akan tetapi rupanya salah. Chris adalah kependekan dari Christina. Kami memanggilnya Ibu Chris. Bahasa Indonesia lancar. Pengalamannya bekerja di AUSAID membuatnya banyak tahu tentang Indonesia. Ibu Chris juga adalah ibu mertua dari Rowan. Rowan Gould menikah dengan anaknya Ibu Chris bernama Brynna Rafferty-Brown.

Pertama bertemu Ibu Chris di Bandara Melbourne. Ia memegang sebuah tulisan MEP 2015. Bersama seorang lelaki—belakangan saya tahu itu sopir taksi, awalnya saya kira panitia juga—mereka menunggu, dan membantu mengambil koper-koper kami. Kami pun menuju taksi. Karena sudah ditunggu oleh Professor Pookong Kee di Melbourne University, maka kami tidak ke apartment dulu, tapi langsung ke kampus. Wajah-wajah capek masih ada, tapi semuanya tidak terasa. Setelah bertemu Prof Kee, kami ke apartment, dan lanjut jalan ke Library of Victoria.

Selama tiga hari kami ditemani Ibu Chris. Bawaannya yang santai dan humoris tapi tetap waktu membuat kami bersemangat untuk terus kuat. Walau capek, itu tidak menghalangi untuk kita lanjut terus.

Rowan Gould

Tiap kita sudah kenal dengan Rowan waktu wawancara di Jakarta. Kami bertemu kembali dengannya ketika tiba di Melbourne University. Secara umum Rowan adalah direktur program MEP. Jadi, sejak tiba di Melbourne, ke Canberra, sampai kembali ke Jakarta dari Sydney, tanggungjawab ada di pundaknya. Saya lihat, seluruh yang ditanganinya berjalan dengan baik. Saya pikir, jika kita punya koordinator program seperti Rowan, paling tidak 99 persen sudah bisa ditebak akan sukses. Itu feeling saya.

Kebutuhan kita selama di Australia berada di ATM Rowan. Selama di Melbourne, kami beberapa kali bertemu dan beliau jadi guide-nya, akan tetapi di Canberra yang hanya dua hari, ia tidak ada. Mungkin urusan di Canberra bisa diselesaikan dengan mudah oleh Ahmad Muhajir dan Fajran Zain. Ketika kami tiba di Sydney, Rowan juga tiba di Sydney dari Melbourne. Dari situ kami sama-sama menuju Meriton Apartment.

Sikap terbaik yang saya pelajari dari Rowan adalah tenang. Ia pribadi yang tenang dalam menyelesaikan sesuatu. Tidak terburu-buru, dan tidak panik. Secara umum guide-guide kita memang begitu. Mereka juga pemberi informasi yang baik, dan bisa diajak cerita, bahkan bercanda. Grup 1 2015 ini kabarnya merupakan grup yang ‘hidup’, dan bisa dikatakan, ceria. 

Di Melbourne University, Rowan mengajar dan meneliti bersama Prof. Abdullah Saeed. Rowan menamatkan pendidikannya dalam bidang tafsir hadis. Ia pernah belajar bahasa Arab di Suriah. Paling tidak lelaki ‘setengah Australia setengah Indonesia’ ini bisa berbahasa Arab dan Indonesia sebagai bahasa ibunya.

Natalia Gould

Natalia adiknya Rowan. Nama belakangnya sama: Gould. Tapi berbeda dengan Peter Gould, mereka cuma sama nama belakangnya. Natalia menjadi guide kami waktu bertemu dengan Dr. Hass Dellal, Nail Aykan dan Bilal Cleland, ke Islamic Museum of Australia, dan makan malam bersama beberapa artis muslim.

Alev Girgin

Alev menjadi guide kami ketika mengunjungi Queen Victoria Market (waktu itu saya tidak ikut karena ada janji di Deakin University), dan kunjungan ke Melbourne Museum. Waktu saya di Deakin, Alev sempat sms posisi saya dimana. Saya bilang, saya di Deakin dan rencana jam 12 sudah menuju ke Queen Victoria Market. Ternyata, keenakan diskusi dengan Prof Ismet Fanany membuat waktu saya lewat. Akhirnya setelah naik ke lantai 2 Perpustakaan Deakin, saya bergegas pamitan karena teman-teman akan menuju Melbourne Museum. Kami akhirnya bertemu di apartment, dan jalan berenam ke museum.

Ahmad Muhajir & Fajran Zain 

Keduanya adalah kandidat doktor dari The Australian National University (ANU). Kami bertemu pertama kali di bandara Canberra waktu mereka menjemput siang itu. Dari bandara kami jalan-jalan sampai ke apartment. Pelayanan keduanya bagus, dan menyenangkan. Keduanya adalah tipe pribadi yang senang bergaul, punya teman, dan berbagi.

Paling tidak kepada Mas Muhajir dan Mas Fajran saya meminta masukan terkait rencana PhD saya. Kedua memberi pertimbangan bahwa sebenarnya kuliah dimana saja bagus, semua kembali pada kita. Ini juga tergantung pada professornya. Jika kita sudah punya relasi dengan seorang professor yang siap membimbing dan penelitiannya juga cocok, itu akan memudahkan. Memang tidak bisa dimungkiri bahwa kuliah di kampus terkenal itu bagus, namun semuanya kembali pada diri kita sendiri.

Di sela-sela waktu kosong kami diajak jalan-jalan ke lokasi yang tidak ada dalam jadwal. Ini mumpung masih di Australia. “Lupakanlah tidur, tidurnya nanti di Indonesia,” kata Mas Fajran, kurang lebih. Akhirnya walau ngantuk dan capek, kami terus berjalan, dan menikmati perjalanan ini. Memang benar, untuk tidur di Indonesia juga bisa, tapi untuk bisa melihat hal-hal penting di Canberra tidak selalu bisa. Kesempatan juga datangnya hanya satu kali.

Maha Najjarine 

Maha adalah pengacara. Ia memandu kami waktu berkunjung ke Muslim Women’s Association (MWA), Masjid Ali bin Ali Taleb di Lakemba, Lebanese Muslim Association (LMA), dan pertemuan dengan Mission of Hope. Maha Najjarine juga humoris. Ia banyak bercanda. Jalannya agak cepat, tapi umumnya di Australia memang cepat-cepat jalannya orang.

Kepada Maha saya berikan salah satu buku saya waktu kami makan malam bersama Asra Yusra dan teman-teman di Auburn.

Subhi 

Subhi adalah guide kami yang berusia 24 tahun. Masih muda. Ia menemani kami waktu ke Opera, Manly Beach, dan Paddy’s Market. Selanjutnya ia mengantar sampai ke depan lift lantai kami di Meriton Apartment. Sebelum berpisah Lenni Lestari memberikan syal kenang-kenangan untuk Subhi. 

Mereka semua luar biasa bagi saya, dan bagi teman-teman saya. Saya merasa senang bisa berkenalan dan belajar dari para guide yang luar biasa melayani kebutuhan kami dengan baik. * 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagi dengan Orang Aceh

Berbagi dengan FLP Aceh Setelah berakhirnya Munas IV FLP, saya diminta oleh beberapa kawan FLP Aceh untuk sharing pengalaman. Sejak iku...