Secangkir Teh di Kemlu (9)


Regatta Point

Di Regatta Point kami sarapan pagi. Dari sini terlihat pemandangan indah Lake Burley Griffin dan beberapa gedung seperti Commonwealth Bridge, The High Court, National Library of Australia, Questacon The National Science and Technology Centre, dan di sebelah sana lagi ada Parliament House, tempat berkantornya Perdana Menteri Abbot. Informasi tentang lokasi ini dapat ditelusuri di website-nya www.thedeckatregattapoint.com.au. Berfoto-foto di tempat sebagus indah sangatlah penting. Sayang kalau terlewatkan begitu saja.

Samping Regatta Point, ada National Capital Exhibition. Di situ kita bisa lihat sejarah kota Canberra. Pada sebuah maket, tertulis The Evolution of the Canberra Plan. Di situ juga ada sejarah singkat Australia sebagai berikut:

Australia is a continent and a collection of islands—a nation called the Commonwealth of Australia.
What is a nation?
A nation is an act of imagination and will.
In this act we create a place to which we belong.
A part of the earth for which we have collective responsibility.
A place of memory and tradition.
The Commonwealth of Australia was created in 1901 when six colonies united in a federation – a nation was forged.
Part of becoming a nation is to create a symbol of unity – a National Capital.
When Australia was created from the federation of the colonies of Australia, Canberra was made the National Capital.  

Di sini juga kita bisa melihat maket kota Canberra dari atas. Tata-kotanya yang teratur, dan penjelasannya yang baik memudahkan para pengunjung untuk paham. Berikut adalah Model Reserved for Educational Programme. Serombongan siswa yang tiba duluan di ruangan ini tentu sudah lihat maket berikut ini. Saya bayangkan sekiranya di tiap Provinsi atau Kabupaten/Kota ada maket kota seperti ini dengan penjelasan yang jelas, tentu akan memudahkan para pelajar untuk mengerti sejarah tempat dimana mereka hidup.

Morning Tea di Kemlu

Kami menuju ke R.G. Casey Building untuk menghadiri morning tea bersama staf Australia-Indonesia Institute (AII) dan Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) yang diatur oleh Fiona Hoggart, Direktur Southeast Asia Institute DFAT. Sebelumnya, nama Fiona Hoggart selain sudah kita baca di jadwal, juga karena pas di Melbourne kita bertemu anaknya yang kabarnya lagi belajar acting untuk jadi artis. “Nanti kalau sudah jadi artis, jangan lupa ya,” kata seorang temanku.

Di DFAT kami disambut secara resmi oleh David Binns, Assistant Secretary Indonesia Political and Economic Strategy Branch DFAT. Setelah pembukaan, dilanjutkan dengan perkenalan masing-masing kita. Beberapa yang saya masih ingat namanya adalah Katie Mead (Executive Officer Indonesia Economic and Timor-Leste Section), dan Zuly Chudori (Executive Officer Indonesia Political & Strategic Section). Zuly adalah kakak dari sastrawan Leila Chudori. Selanjutnya diskusi personal berganti-gantian. Topik diskusi saya dengan beberapa orang berganti-gantian terkait dengan terorisme—sebagaimana penelitian S2 saya di UI—dan rencana eksekusi mati dua warga Australia di Indonesia.

Gedung Parlemen dan Perpus



Dari sini kami menuju ke Parliament House. Guide kami seorang perempuan menjelaskan seluk-beluk gedung ini sambil jalan. Kata beliau, gedung ini dipersiapkan paling minimal bertahan 200 tahun. Gedung ini merupakan pindahan dari gedung Parlemen Lama. Selesai dibangun pada tahun 1988 dengan arsitekturnya yang unik.

“Come inside and see more beautiful architecture, se how laws are made, and learn about the political history of Australia,” tulis Canberra Guided Tours dalam brosur mereka.

Untuk belajar how laws are made, kami juga masuk ke ruang sidang anggota senat dan DPD. Waktu itu tidak ada sidang. Kami bisa masuk ke dalam, akan tetap hanya di bagian atas, tidak bisa sampai ke bawah di tempat sidangnya para senator. Setelah itu, kami naik lift di atap gedung. Dari sini jika ditarik garis lurus terlihat The Australian War Memorial. Di sini ada berbagai informasi tentang perang yang diikuti Australia, dan ada alat-alat perang seperti pesawat tempur, tank, dan peralatan militer lainnya.

Tak lupa kami berkunjung ke National Library of Australia (NLA) dan bertemu dengan Ibu Tieke Atikah, Pimpinan Koleksi Indonesia. Kami diperlihatkan koleksi surat kabar dan buku-buku elektronik yang direkam dalam bentuk seperti micro film. Asyik mendengarkan penjelasan beliau. 

Katanya, jika isi perpustakaan ini ditarik garis lurus, panjangnya sama dengan jarak Jakarta ke Bandung. Di lantai 3 ruang baca Asian Collection, sempat saya cek buku saya yang jadi koleksi di sini. Ternyata memang ada buku Anies Baswedan Mendidik Indonesia dan Tikar Pak Hidayat. Info lengkap tentang NLA dapat ditelusur di www.nla.gov.au.

Kami menunaikan salat maghrib di Masjid Canberra. Rencana awalnya di Canberra Islamic Centre, tapi ketika kami ke sana masjidnya masih ditutup. Kenapa ditutup? Karena beberapa waktu lalu masjid ini pernah menjadi sasaran anti-Islam. Akhirnya, setiap waktu salat baru dibuka. Tiba di masjid itu kami bertemu seorang brother, tapi tidak sempat masuk. Akhirnya kami kembali ke kota, dan menunaikan salat magrib di Masjid Canberra. Masjid ini kabarnya didirikan oleh orang Indonesia. Di sebuah sebuah tulisan saya lihat ada semacam prasasti yang ditandatangani oleh Duta Besar Indonesia untuk Australia waktu itu. *

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ma'rifat Danarto

Berbagi dengan Orang Aceh

Kuliah, Kerja, dan Pencarian Kebahagiaan