Minggu, 21 Juni 2015

Sebelum Kita Pergi



RASULULLAH Saw memberikan kita panduan sebelum keluar rumah, yaitu dengan membaca doa keluar rumah, "Bismillahi tawakkaltu 'alallahi Laa Hawla wa Laa Quwwata Illaa Billah." Artinya adalah, "Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah." Sebelum keluar, ada baiknya kita mengamalkan do’a ini.
Kenapa Rasul kita yang mulia menuntun kita untuk berdoa sebelum keluar rumah? Setidaknya, itu karena beberapa hal: PERTAMA, Doa adalah PERISAI. "Doa adalah perisai/senjata kaum mukmin," demikian salah satu sabda beliau. Artinya bahwa doa adalah senjata kita yang sangat berguna yang menemani kita dalam aktivitas sehari-hari.
Dalam segala hal, Rasul memberikan kita tuntunan, untuk berdoa. Kita keluar rumah ada doanya. Kita belajar ada do’a-nya. Kita makan. Minum. Masuk kamar mandi. Keluar kamar mandi. Dan, berkumpul antara suami istri juga ada aturan dan doanya agar tidak ada intervensi setan dalam "ibadah" kita yang mulia itu.
KEDUA, Tanda kita taat kepada Allah. Siapa yang taat kepada Allah, maka dia tentu akan mengikuti perintah Allah dan rasul-Nya. Kita taat pada risalah yang dibawa oleh Rasulullah Saw, olehnya itu maka kita berdoa.
Orang yang tidak taat, atau sombong, dan bangga akan dirinya sesungguhnya telah dipedaya oleh setan. Ini yang pernah diucapkan oleh Qarun tentang hartanya yang melimpah, kurang lebih: "ini adalah jerih payah saya!", "Ini hasil keringat saya!"
Orang yang sombong, dan lupa daratan bahwa Allah-lah yang memberikan dia rezeki adalah orang yang lalai pada Allah. Orang yang lalai akan selalu merasa baik, padahal apa yang dilakukannya bertentangan dengan aturan dari Allah Swt. Kita taat, maka kita berdoa. Kita ingin mendapatkan pahala, surga, maka kita berdoa.
Di media massa waktu peristiwa kematian menimpa seorang direktur yang disinyalir melihatkan seorang petinggi, beritanya jadi heboh. Dalam sebuah perjalanan, seorang dengan sepeda motor menembakkan ke dalam mobil, dan singkat kata, meninggallah sang korban. Terlepas dari apapun motif, konspirasi, dan siapa pelaku dibalik kejadian itu, kita sebagai seorang muslim perlu mengambil ibrah. Marilah kita berikan pertanyaan bagi diri kita, "Bagaimana kalau dalam perjalanan saya tiba-tiba meninggal?" "Sementara dosa saya sangat banyak ini, apakah saya siap untuk begitu cepat dipanggil oleh-Nya?"
Tidak ada yang menyangka bahwa 9 orang mahasiswa di Malang yang baru pulang menghadiri sebuah pesta ulang tahun temannya kemudian ditimpa kecelakaan. Di malam hari, mobil mereka menabrak sesuatu, sehingga membuat mereka pergi untuk selamanya. Dan, tak ada yang menyangka juga kalau di Aceh yang aman-aman saja itu harus ditimpa dengan Tsunami, Padang tak ketinggalan. Pada 2010, Di Wasior (Papua), banjir juga melanda. Gunung Merapi di Jogja juga sepertinya tak mau ketinggalan. Mbah Marijan sudah direnggutnya, begitu juga ratusan korban dari awan panas yang dikenal dengan nama wedhus gembel itu. Tak cukup di Jogja, Mentawai juga diterjang tsunami. Hmm, cobalah kita merenung. Banyak sekali peristiwa akhir jaman yang melanda, dan kematian datang begitu saja, tak sempat terkira-kira.
Kita tidak pernah tahu kapan kita mati. Dan, tidak ada yang pernah tahu. Tapi, kalau kita pikir, sekiranya kita mati dalam keadaan yang penuh dosa, apakah kita siap untuk mendapatkan pertanyaan dari para malaikat, atau apakah kita akan bisa membela diri ketika datang suatu masa dimana mulut-mulut kita terkunci. Mulut yang suka membela diri, yang suka memutarbalikkan fakta itu, apakah dia masih bisa membela diri sang empunya?
Sebaliknya, tangan yang selama kita hidup tidak pernah berbicara apa-apa. Tangan yang sekarang kita anggap dia merestui segala ketidakberesan kita. Tangan itu akan berbicara di suatu saat nanti. Kemudian, tasyahadu arjuluhum (kaki akan memberikan kesaksian). Kedua kaki kita akan memberikan kesaksian juga bahwa selama hidup si fulan melakukan ini dan itu.
Sungguh, di dunia ini kita masih bisa ada peluang untuk lari dari hukum manusia. Kita masih bisa ber-apologi. Masih bisa menang dalam persidangan hakim. Tapi, di akhirat sana, mampukah kita untuk lari dari hukum Allah? Itulah yang membuat kenapa Khalifah Umar bin Khattab ra, ketika tahu bahwa anaknya telah berbuat dosa besar, dia kemudian mencambuknya sebanyak 100 kali. Para sahabat disamping Umar memintanya untuk tidak meneruskan cambukan yang sungguh pedih itu. Sampai pada cambukan yang ke-100 dan sang anak meninggal, Khalifah Umar tetap berpegang pada keputusannya itu.
Apa pertimbangan Umar ketika meneruskan cambukan bagi anaknya itu? Bayangkan! Ini anaknya. Anak yang berasal dari benihnya sendiri. Anak laki-laki, yang di kalangan bangsa Arab ketika itu adalah berkah mendapatkan anak laki-laki. Umar berkeyakinan bahwa, kalau tidak menjalankan hukum Allah di dunia ini, maka kelak dia yang akan dihukum. Kalau sekarang anaknya merasakan sakitnya hukuman dunia, maka kelak dengan taubatnya, dia insya Allah akan mendapatkan kebaikan dan ampunan dari Allah di akhirat.
Saudara pembaca sekalian. Kita semua pasti pernah berbuat dosa dalam variasi yang berbeda-beda. Mumpung kita masih diberikan nafas untuk hidup, marilah kita berubah. Kalau dulu kita pernah berbuat dosa, yakinlah bahwa Allah sang penerima taubat. Umar bin Khattab ra dulunya adalah orang yang pernah mengubur hidup-hidup putri perempuannya. Tapi kemudian beliau taubat. Panglima Khalid bin Walid, waktu belum Islam, gara-gara dia banyak kaum muslimin berguguran dalam perang Uhud. Tapi ketika dia taubat, masuk Islam, maka dia pun mendapatkan tempat terbaik dalam Islam. Dan, masih banyak lagi kisah orang-orang yang dosanya sangat banyak, namun mereka sadar sesadar-sadarnya, bahwa mereka juga nanti akan mati, dan kalau mati, apakah mereka akan siap menghadapi dua hal: SURGA atau NERAKA? Kalau bukan surga, maka neraka-lah tempat manusia akan berada nanti.
Kita berdoa kepada Allah semoga Allah mengampuni segala dosa kita dan menunjukkan kita selalu jalan-Nya yang terbaik. Rabbana, janganlah engkau palingkan hati kami setelah kami mendapatkan petunjuk... Subhaanakallahumma wabihamdika Nasyhadu An Laa Ilaaha Illa Anta Nastaghfiruka wa natuubu Ilaik...[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagi dengan Orang Aceh

Berbagi dengan FLP Aceh Setelah berakhirnya Munas IV FLP, saya diminta oleh beberapa kawan FLP Aceh untuk sharing pengalaman. Sejak iku...