Peter Gould, Desainer dan Seniman Muslim (12)

Peter Gould


Pagi itu kami sarapan di pinggir pantai. Saya pesan roti dengan ikan salmon. Tapi karena ikannya belum masak, rasanya jadi lain. Yah, begitulah ‘nasib’ mencoba menu baru. Tak berapa lama, datang Peter Gould dan Reuben Brand. Brand adalah seorang jurnalis independen, penulis tema-tema politik Timur Tengah, peneliti, dan juga kartunis politik. Beberapa karya dia dapat dilihat di laman pribadinya, www.reubenbrand.com.

Setelah berdialog beberapa lama sebelum kenalan, kami jalan ke studio Peter Gould. Ada websitenya juga: www.peter-gould.com. Di dalam studio ada dua orang stafnya yang lagi kerja. Gould mempresentasikan aktivitasnya di Creative Cubed. Ia membuat berbagai kartun, film, poster dakwah, game dan aplikasi yang dapat diunduh di Playstore. Ada buku Kids of the Ummah dan Allah Loves Me! karangan Peter Gould. Kavernya seorang anak berjilbab sedang keluar dari masjid. Ia juga terlibat dalam pembuatan buku Cat Stevens (Yusuf Islam) berjudul Why I Still Carry a Guitar: The Spiritual Journey of Cat Stevens to Yusuf. Ini semacam memoar hidup Yusuf Islam dari ‘jahiliyah’ hingga berdakwah dengan gitarnya.

Dari Peter Gould atau yang dikenal juga dengan nama Yasin, kami makan siang bersama Assmaah Helal, pelatih sepakbola wanita yang juga alumni MEP 2012 di sebuah Jasmin 1 Lebanese Restaurant. Hadir beberapa anggota klub Football United tersebut yang non-Muslim juga. Dua diantaranya adalah siswa di Inggris, tapi sedang magang di Australia. Setelah itu kami ke lapangan tempat latihan bola menumpang mobil Mazda-nya Asshmaah Helal berplat NSW BFX 47 T. Kami mencoba main bola, tapi cuaca cukup panas siang itu. Karena waktu juga agak mepet, akhirnya tidak sempat kita main bola yang serius kecuali hanya oper-oper satu-satu orang. 

Kami kemudian menuju ke Crescent Wealth, bertemu dengan Laila Ibrahim, alumni MEP 2014 yang bekerja di situ. Juga mendengarkan presentasi dari Mas Johan Harris CA (orang Malaysia), dan bertemu dengan Jamel Rathborne. CW adalah salah satu lembaga asuransi syariah yang saat ini berkembang di Australia.

Dari sini kami jalan kaki ke Sydney Opera untuk foto-foto dan merekam kesan selama berada di Australia.

“Bagaimana kesan Mba Siti untuk Mas Yanuardi?” 

Saya dengar pertanyaan Ahmad Saifulloh. Waduh, gimana kesannya tentang saya. Tapi saya dengar, alhamdulillah positif. Kata Siti, ia belajar dan termotivasi untuk menulis dari saya. Siti memang belum menulis satu buku atas namanya, tapi tulisan-tulisannya saya yakin suatu saat akan jadi buku. Ia juga rajin meng-update status di Facebook (ini talenta bagus menurut saya), dan di blognya ia tulis pengalamannya setelah pulang ke apartment. Saya pikir, itu ide bagus. Terkait dengan kesan positif, pandangan saya: ini bagian dari kebaikan, Insya Allah. Tapi saya harus banyak-banyak beristigfar juga, jangan sampai hal-hal tersebut menjadi ‘ujub, naudzubillah. *

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ma'rifat Danarto

Berbagi dengan Orang Aceh

Kuliah, Kerja, dan Pencarian Kebahagiaan