Minggu, 21 Juni 2015

Pembeda



“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”  (QS. Al-Mujadilah: 11)

KITA semua pasti sadar bahwa kita bisa bicara, jalan, tertawa itu karena belajar. Kita bisa beraktifitas dan menjadi seperti sekarang ini karena kita belajar. Belajar membuat kita pintar, mahir, alias tidak jadi orang jahil sesat dan dibodoh-bodohi orang lain yang berhati culas!
Menuntut ilmu itu penting. Tanpa ilmu, manusia tak lebih sama dengan binatang. Maukah kamu disamakan dengan binatang? Tentu tidak. Olehnya itu dalam konteks apapun, selalulah menuntut ilmu karena mereka yang menuntut ilmu sejatinya berada di jalan yang diridhai Allah. Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang keluar menuntut ilmu, maka dia berada di jalan Allah sampai dia kembali.” Pentingnya menuntut ilmu juga terekam dalam ungkapan ini, “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina.”
Ilmu akan membuat kita selamat. Ilmu itu juga yang akan membuat seseorang dihormati atau tidak di masyarakat. Sebuah pepatah mengatakan, “Orang berilmu itu besar walaupun masih muda, sedangkan orang bodoh itu kecil walaupun umurnya sudah tua.” Hmm, betul.
Cobalah lihat di masyarakat. Pasti insan berilmulah yang sangat dihormati. Jika kita baca lembaran demi lembaran buku, dapatlah kita mengambil kesimpulan bahwa mereka yang dikenang dalam sejarah adalah orang yang berilmu. Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Muhammad, Umar bin Khattab, Leonardo Davinci, Johann Gutenberg, adalah beberapa nama orang besar yang termasuk dalam 100 orang berpengaruh di dunia.
Dalam buku yang oleh Roger Bonham dalam Columbus Dispatch dianggap sebagai buku yang merangsang pikiran dan sangat mengasyikkan ini, juga mengangkat nama Tsai Lun (sekitar 105 M) pada urutan ketujuh. Ia menempati urutan tersebut semata-mata karena dia telah menemukan kertas. Tsai Lun adalah seorang pegawai negeri pada pengadilan kerajaan yang mempersembahkan contoh kertas kepada kaisar Ho Ti di Cina. Akhirnya, kaisar pun menaikkan pangkatnya dengan gelar bangsawan dan mulai tersohor namanya di seluruh daratan Cina.
Lama setelah wafatnya Tsai Lun, muncullah Johann Gutenberg (1400-1468) yang oleh Hart dimasukkan dalam urutan kedelapan. Gutenberg bisa begitu dihormati itu karena dia berhasil menemukan mesin cetak. Itu karena dia tidak lalai dalam menggunakan akalnya, dalam menuntut ilmu dan berkreasi.
* * *
Coba kita lihat kucing. Dari dulu begitu terus gayanya. Dari dulu perilakunya juga tidak berubah. Selalu kalau mau cari ikan di dapur, berlagak pura-pura malu. Kita menyebutnya “malu-malu kucing”. Padahal, hatinya itu mau. Dari dulu sampai sekarang, pemikirannya tidak berubah. Mereka tidak pernah buat inovasi dengan telepon selluler, foto-foto, membuat rumah, atau terbang! Mereka tetap saja sama. Tapi manusia itu berbeda. Dulu berbulan-bulan baru tiba di tempat tujuan. Tapi dengan akalnya, manusia berhasil menemukan pesawat, kapal laut yang mempercepat tiba di tempat tujuan. Dulu kirim telegram atau kawat harus berminggu-minggu, saat ini tinggal tekan HP saja, pesan kita telah terkirim. Canggih dan berbeda.
Allah swt berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. At-Tin: 4-6)
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra: 70) []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Achmad Fedyani Saifuddin: Antropologi Kekuasaan (5)

Mata kuliah Antropologi Kekuasaan adalah salah satu mata kuliah yang diminati oleh banyak mahasiswa. Dalam perkuliahan tersebut, Professor ...