Senin, 22 Juni 2015

Optimisme Nabi Musa



SETELAH putus harapan Nabi Musa as kalau Fir’aun beserta kaumnya tidak akan beriman, maka beliau pun berdoa kepada Allah:
”Ya Rabb kami, binasakanlah harta benda mereka dan kunci matilah mereka, maka mereka tidak beriman hingga melihat siksaan yang pedih.” (QS. Yunus: 88)
Dari doa ini, kemudian turunlah perintah Allah kepada beliau untuk segera keluar dari tanah Mesir.
”(Allah berfirman): ’Maka berjalanlah kamu dengan membawa hamba-hamba-Ku pada malam hari. Sesungguhnya kamu akan dikejar.” (QS. Ad-Dukhan: 23)
Tiba di tepi Laut Merah, kaum Bani Israil merasakan bahwa tidak ada jalan lain untuk mereka. Mereka terjebak! Mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri, lautan di depan mereka, dan balatentara Fir’aun berada tepat di belakang. Dalam Al-Qur’an dikisahkan:
”Maka setelah setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, ’Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.’ Musa menjawab, ’Sekali-sekali tidak! Sesungguhnya Rabb-ku bersamaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. Asy-Syu’ara: 61-62).
Sekarang, bayangkanlah. Anda lagi terjebak. Pikiran Anda jadi kusut karena Anda sudah capek karena dikejar-kejar. Di depan Anda ada lautan yang terhampar luas dan di belakang sebentar lagi musuh dengan pasukannya yang puluhan ribu itu akan mendatangi Anda. Sementara Anda hanya ratusan orang, sebentar lagi akan menghabisi Anda!
Lihatlah. Bayangkanlah. Apa kira-kira yang akan Anda lakukan di masa kritis itu? Ada yang stress, kaget, tapi ada juga yang tetap yakin. Pasti ada hikmahnya! Pasti akan ada jalan! ”Wah, gawat! Kita sudah tertangkap ini? “Wah, gawat! Bagaimana ini? Kekuatan mereka banyak sekali, matilah kita!” Tapi, di saat yang genting itu, mendengar nada pesimistis dari kaumnya, Nabi Musa berkata dengan yakin: ”Kalla! Inna ma’iya rabbi sayahdiin!”
”Sekali-kali tidak! Kita tidak akan tersusul! Rabb-ku yang telah memerintahkanku untuk ke sini, pastilah Ia sebentar lagi akan memberiku petunjuk!” Akhirnya, dengan jiwa optimisme itulah yang menyemalatkan Bani Israil dari kejaran kaum kuffar Fir’aun. Akhirnya, itulah sunnatullah yang harus diterima oleh para penentang syariat Allah lewat lisan para nabinya.
Tentunya dengan kisah Nabi Musa ini mengertilah kita bahwa dengan sikap optimis kita akan berjaya. Dengan optimisme itulah kita akan sukses! Dengan optimisme itulah kita akan menang melawan penentang hukum-hukum Allah di muka bumi ini.         
”Lalu, Kami wahyukan kepada Musa, ’Pukullah lautan itu dengan tongkatmu! Maka terbelahlah lautan itu seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya.” (QS. Asy-Syu’ara: 63-65) []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagi dengan Orang Aceh

Berbagi dengan FLP Aceh Setelah berakhirnya Munas IV FLP, saya diminta oleh beberapa kawan FLP Aceh untuk sharing pengalaman. Sejak iku...