Minggu, 21 Juni 2015

Optimisme Edison



KETIKA Thomas Alva Edison berusia kurang lebih sembilan tahun, ibunya memberikan sebuah buku ilmu alam karangan Richard Green Parker. Buku ini dibacanya dengan sekejap mata dengan penuh perhatian dan minat. Saat membaca, ia merasa seolah-olah tiap baris dalam buku menggerakkan semangatnya untuk melakukan penyelidikan-penyelidikan hingga diperoleh pemecahan atas masalah-masalah yang dibacanya.
Ketika berusia dua belas tahun, ia telah memiliki usaha kecil-kecilan. Tiap hari Edison melakukan perjalanan dengan kereta api antara Port Huron dan Detroit pulang pergi, dengan maksud untuk menjual koran, buah-buahan serta makanan kepada para penumpang sepanjang perjalanan itu.
Apabila berada di Detroit, segera setelah selesai membeli barang dagangan untuk dijual dalam perjalanan, ia menuju ke perpustakaan besar. Ia bermaksud untuk membaca seluruh isi buku dari awal sampai akhir. Perhatian serta minatnya tidaklah ditujukan pada suatu hal khas, tetapi untuk segala sesuatu yang dapat dibacanya.
Mulailah ia meminjam buku-buku dalam urutan yang terletak dalam rak. Dengan cara ini ia telah berhasil membaca buku-buku yang tebal seluruhnya, kurang lebih lima meter. Ia menguasai bahan yang dibacanya. Bahkan buku Principia karangan Newton dibacanya dengan penuh perhatian.
Suatu hari, pada penelitiannya yang kurang lebih ke-700 kali, ia selalu gagal. Asistennya pun mengeluh. ”Orang yang gagal dalam hidup ini,” kata Edison,  “Ialah orang yang hidup dan gagal belajar.” Pada kesempatan lain ia berujar optimis, “Saya pasti akan sukses karena telah kehabisan percobaan yang gagal.” Dan betul, dia berhasil setelah sepasukan kegagalan bosan menggempurnya. Dia berhasil, dia juga menang. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Achmad Fedyani Saifuddin: Antropologi Kekuasaan (5)

Mata kuliah Antropologi Kekuasaan adalah salah satu mata kuliah yang diminati oleh banyak mahasiswa. Dalam perkuliahan tersebut, Professor ...