Minggu, 21 Juni 2015

O, Masihkah itu Kau?



ORANG-ORANG kampung yang datang ke kota kalau imannya tidak kuat, akan terjerumuslah dia. Ini Jakarta, bung! Artinya, Jakarta ini keras. Kalau malas, maka bersiap-siaplah tergusur oleh tirani kota besar!
Orang-orang kampung yang masih lugu-lugu dari kampungnya datang ke kota. Pertama kali mereka datang, pakaian mereka masih rapih. Ada yang pakai kemeja, juga baju berbahan kain. Di kota, dia bertemu dengan banyak kalangan. Ada yang senasib dengannya, juga ada yang sudah jauh lebih "modern" dengan style ala orang kota.
Jakarta ini kejam, bung!
Komentar itu muncul dari lidah seseorang. Betapa tidak, di kawasan Kramat Senen Jakarta Pusat, ada dua lelaki sedang jalan, dan kemudian mendekatlah sebuah motor, dan sontak yang dibonceng menyiramkan AIR AKI pada kedua lelaki itu. Tau nggak? Badan si lelaki itu langsung berasap. Dia kepanasan sekali, dan parahnya air panas itu juga menyiram matanya. Duh.
Tidak seberapa waktu, di tempat lain di Tangerang, seorang yang dibonceng juga menembakkan tepat di kepala Nasruddin. Tak lama kemudian, karena timah panas itu masuk di kepala, maka berakhirlah lelaki itu. Dari berita yang kita dengar, para pelaku ada yang berasal dari kalangan bawah. Di antara mereka—tanpa bermaksud merendahkan profesinya--ada yang pernah betugas sebagai Satpam. Dari kampung mereka datang ke kota, dan di kota karena diiming-imingi oleh duit yang banyak, akhirnya melakukanlah dia tindakan kriminal.
"Siapa suruh datang Jakarta
Siapa suruh datang Jakarta
sendiri suka sendiri rasa
edoe, sayangg..."

Petikan lagu ini pasti pernah kita dengar. Betapa orang-orang malang yang berasal dari daerah kerap menjadi bertambah kemalangannya ketika tidak mendapatkan tempat yang kondusif. Bergaul dengan pencopet, bisa-bisa dia jadi tukang copet. Dengan guru ngaji, bisa-bisa ketularan pinter mengaji (dan ini lebih mulia, apalagi jika diajarkan pada orang lain). Pada point ini, hukum alamnya adalah "mau tahu siapa dia, lihat temannya."
Para mahasiswa yang merantau ke Jakarta, mereka belajar. Ada yang sembari belajar juga bekerja. Ada juga yang tetap menganggur dalam statusnya sebagai mahasiswa. Para pencari kerja yang datang ke Jakarta, juga ada yang berhasil menaiki strata sosial yang mapan, juga ada yang tetap terbelit dalam kungkungan status seperti pertama kali mereka datang dalam jangka waktu yang tidak bisa dibilang lama.
***
Masihkah kita bisa bertahan di kota? Mahasiswa terbaik di negeri ini, banyak dikirim ke luar. Mereka belajar dari negeri yang jauh di sana. Waktu masih mahasiswa disini, pemikiran dan akhlaknya masih sama seperti kita, namun ketika sudah mendapatkan fasilitas dan berstatus sebagai orang "modern", secara perlahan apa yang dulu pernah mereka perjuangkan menjadi pudar. Ada yang tetap konsisten, namun ada juga yang larut dalam gemerlapnya kota.
Para santri yang dulu pernah nyantri beberapa tahun. Ketika tamat dari pesantren, ada saja yang larut dalam gemerlapnya kota. Mereka pernah belajar agama. Bahasa Arab mereka tahu. Pelajaran agama dari akidah, akhlak, hingga syair-syair Arab mereka hafal. Tapi, ada saja di antaranya yang entah kenapa tidak kita temukan sisa bahwa mereka pernah mempelajari hal tersebut. Ada orang yang pernah belajar agama, lamaa sekali, tapi anehnya sisa-sisa pelajaran mereka menjadi tidak terlihat sama sekali.
Kota memang menggiurkan. Di awal tahun 1990-an pakaian perempuan begitu longgar. Namun, ketika mode berkembang begitu pesat, para perempuan menjadi tidak malu untuk menggunakan pakaian yang ketat, bahkan memperlihatkan auratnya yang juga punya kesan "berpakaian tapi telanjang". Dan, ini dilakukan oleh orang Islam sendiri, bahkan yang pernah belajar di lembaga pendidikan agama.
"Kejahatan yang dilakukan oleh orang baik-baik adalah keburukan!" demikian salah satu kutipan berkata. Kalau orang yang tidak tahu agama melakukan segala dosa, itu wajar karena mereka memang tidak tahu agama. Tapi, kalau seorang yang beragama, pernah belajar agama melakukan kejahatan, itu adalah tindakan yang sangat buruk.
Kota mengandung dua sisi sebenarnya: baik dan buruk. Kebaikannya adalah adanya progress yang begitu signifikan bagi kemajuan kita. Sedangkan buruknya adalah trend budaya barat yang permissif menjangkiti begitu cepat. Sebagai muslim, kita tidak bisa mempersalahkan kota. Namun, usaha kita untuk menjadikan kota kita lebih damai dengan mendapatkan berkah sangatlah perlu kita lakukan.
Orang-orang yang sudah pernah ke kota, apakah mereka masih seperti dulu ketika jiwanya masih begitu "desa"? Apakah akhlak mereka, cara bertutur kata, kerendahan hati, istiqamah mereka pada ajaran Islam, apakah masih ada jiwa-jiwa mulia itu?
O, masihkah itu kau? []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagi dengan Orang Aceh

Berbagi dengan FLP Aceh Setelah berakhirnya Munas IV FLP, saya diminta oleh beberapa kawan FLP Aceh untuk sharing pengalaman. Sejak iku...