Mari Hidupkan Tradisi Ilmiah



Sejarah telah mencatat kisah mereka yang menghidupkan tradisi ilmiah..

IMAM Ahmad bin Hanbal pernah berjalan sejauh 30.000 mil hanya untuk mencari hadits. Dari usaha dan kerja kerasnya, ia berhasil menghafal 1.000.000 hadits dan menulis 40.000 hadits dalam kitab yang terkenal, Musnad. Ia pernah ditangkap oleh penguasa di daerahnya bahkan dicambuk ratusan kali, namun ia tetaplah tabah dan tak patah semangat dalam menyebarkan ilmu. Akhirnya, dari kesabaran dan kekuatan jiwanya itu kita bisa rasakan ilmunya yang begitu luas itu.
Abu Hurairah menghafal hampir seluruh hadits nabi dan membagi malamnya menjadi tiga: untuk salat, untuk menghafal dan untuk tidur. Jabir bin Abdullah pergi mencari satu hadits ke Mesir selama satu tahun. Ibn Musayyab pergi selama tiga hari hanya untuk mencari jawaban atas satu permasalahan. Ibn Hibban meriwayatkan hadits dari 2000 orang syekh. Ia menulis kitab Shahih, dan mendalami seni hingga menjadi bintang di masanya. Al-Muzani pernah mengulang kitab Risalah karya Imam Syafi’i sebanyak 500 kali dan Al-Bukhari, seorang ulama dari Andalusia sebanyak 700 kali.
Lihatlah! Abu Ishaq Asy-Syaerazi biasa mengulang-ulang pelajaranya 100 kali, mengulang setiap bagian sebanyak 1000 kali dan mengarang 100 jilid buku! Hingga dengan semangatnya yang tinggi dalam belajar, tubuhnya pun menjadi kurus.
Dalam hal ini, seorang penyair mengatakan tentang beliau:
“Engkau melihatnya kurus karena kepandaiannya. Siapa yang mencelanya harus memberi bukti. Karena seorang pemuda yang gemuk kemuliaan. Tidaklah penting bagi tubuhnya yang kurus.”    
Kita kutip saja dari Aidh Al-Qarni. Berikut kutipan bebasnya:
Ibn Aqil, ia mengarang buku tentang seni sebanyak 800 jilid buku. Ia hanya memakan satu potong roti agar dapat membaca 50 ayat.  Ibn Taimiyyah, ia menulis 4 buah buku tipis dalam sehari. Satu di antaranya disempurnakannya dalam satu minggu. Ia menulis 1 buku lengkap dalam satu kali duduk. Lalu, lebih dari 1000 orang pengarang menulis tentang dirinya. Marilah kita tengok! Ibn Jarir menulis buku 100.000 halaman. Ibnul Jauzi pernah menulis 1000 judul buku. Dan bayangkan, Al-Anbari bisa menghafal 400 buku tafsir! Atha Ibn Abi Rabah, ia tidur di masjid selama 30 tahun hanya untuk menuntut ilmu. Sibawaeh menulis buku Nahwu (Tata Bahasa Arab) terhebat di usianya yang 30 tahun. Imam Nawawi, ia meninggal di umurnya yang ke-40 dengan mewariskan begitu banyak karya tulis. Riyadhus Shalihin, salah satu buku itu.
Ibn Abbas pernah menghafal hadis ketika usianya 8 tahun.  Ibn Hajar menulis kitab Al-Fath dan Mukaddimah Al-Fath pada usia 32 tahun. Al-Gharib, ditulis oleh Abu Ubaid di usianya yang 40 tahun. Al-Aghani, ditulis oleh Al-Ashfahani pada usia 50 tahun.
Ibnu Bathuthah, ia berkeliling dunia pada usianya yang ke-30 tahun. Dalam perjalanannya, ia menemukan berbagai keajaiban yang kemudian ditulis dalam sebuah buku yang membuatnya terkenal di masanya sampai sekarang. Ibn Khaldun meyendiri dalam kastil selama bertahun-tahun ketika menulis buku sejarahnya. Dan setelah itu, bukunya pun menjadi rujukan banyak kalangan. 
Ibn Asakir Al-Hafiz, menulis buku sejarah Damaskus pada usia 60 tahun. Hebatnya lagi, tidak seorang pun dari kalangan ulama, sastrawan atau penyair Damaskus yang luput dari rekamannya. Abu Thahir As-Salafi ditanya: “Dari mana Anda mendapatkan ilmu ini?” Ia menjawab: ”Dari duduk di rumahku bersama buku selama 70 tahun.”
Janganlah berhenti berbuat! Karena malaikat terus mencatat, umur terus berkurang, kematian semakin mendekat, dan setiap nafas yang telah keluar tidaklah akan kembali lagi.
Mari kita lanjutkan dari Al-Qarni:
An-Naisaburi membaca Shahih Muslim sebanyak 100 kali. Ibn Sina yang di barat dikenal sebagai Avicenna, mengulang buku Al-Farabi sebanyak 40 kali. Dan beberapa ulama membaca kitab Al-Mughni sampai 10 kali.
Perhatikan kekuatan hafalan ulama-ulama kita dulu! Buku-bukunya Ibn Hazm pernah terbakar semuanya. Tetapi, ia kemudian menyalin semuanya dengan hafalannya. Qatadah menghafal seluruh isi buku Haml Ba’ir dan As-Sya’bi pernah berkata: ”Aku hafal semua yang kutulis.” Ia berkata: ”Sesuatu yang paling sedikit aku hafal adalah syair. Tapi kalau kalian mau, aku bisa menyenandungkan syair selama 1 bulan penuh!”
Camkanlah! Orang-orang malas akan sengsara. Orang yang diam akan menyesal. Dalam gerak ada berkah. Dan barangsiapa banyak berkeliling akan bisa mengalahkan banyak orang.” Demikian nasihat al-Qarni.
Masih banyak lagi deretan para ulama yang juga sebagai penulis kitab-kita terkenal. Ada Ath-Thabari, Ibnu Katsir, Syekh Abdul Aziz bin Baz, Syekh Utsaimin, Syekh Al-Albani, Al-Qaradhawi, Said Hawwa, Harun Yahya, An-Nadawi dan lain sebagainya.
Di negeri kita, ada Ahmad Hassan Bandung yang menulis 80 buah buku dan telah dicetak sebanyak 531.000 eksemplar. Buya Hamka yang menulis 118 kitab dan Tafsir Azhar, karangannya di penjara menjadi banyak rujukan generasi penerus. Mahmud Yunus yang menulis 37 buku berbahasa Indonesia dan 27 berbahasa Arab. Ia menulis Tafsir Qur’an Karim dan di tahun 2004 telah masuk cetakan ke-73!
Mereka-mereka bisa menjadi penulis itu karena mereka berusaha. Itu karena mereka punya kemauan yang tinggi untuk meneruskan ilmu yang mereka miliki kepada umat Islam di zaman mereka dan sesudahnya.
Pada intinya, ketika kita mau dan berusaha, insya Allah kita bisa! Pepatah ”Alah bisa karena biasa!” itu seharusnya menjadi pijakan kita. Kita bisa karena kita mau dan kita biasakan untuk itu. Akhirnya, semoga kesuksesan bersama kita, semoga kecerdasan, kecemerlangan dan kegemilangan senantiasa bersama kita semua.
”Ya Allah, tambahkanlah ilmu kami dan berkahilah kepada kami pengertian yang baik.” []

Komentar