Senin, 22 Juni 2015

Luka Anak Duka Dewasa



SEORANG teman berangkat, menghadiri sebuah pameran internasional. Olehnya itu, dia titipkan dua lembar uang sebagai makan malamnya anak-anak di asrama. Maka, pesanlah kami jus alpukat dan nangka serta martabak telor dan terang bulan. Saat menunggu jus sedang dibuat tak seberapa jauh dari Jl. Kramat Pulo Dalam Senen Jakarta Pusat, kami bercengkerama; berbicara dari masalah makanan sampai kenapa akhir-akhir banyak perempuan yang pakai celana ketat, bahkan bajunya juga transparan dan tipis.
Itu sama saja dengan telanjang kan?” kata salah seorang.
Saat duduk itulah seorang anak kecil mendekati saya. Umurnya mungkin tiga atau empat tahun. Dia menyodorkan tangannya, itu isyarat bahwa dia ingin meminta uang. Di kening sebelah kanannya ada sebuah perban menempel. Saya bertanya kepadanya, "tinggal dimana dek?"
Dia tidak menjawab. Tak jauh dari situ, kakaknya juga masih berdiri. Kakaknya yang akhirnya menjawab, "di tanah tinggi." Melihat perban itu, saya tertarik. Saya minta anak kecil itu mendekat. Saya tanya, ini kenapa. Kakaknya bilang, "jatuh." Untuk meyakinkan diri, saya menyentuh perban itu, dan benar, di situ ada dua jahitan masih terpasang, belum menjadi daging. Itu berarti, anak tersebut baru beberapa hari dilanda kecelakaan.
Nun jauh beberapa tahun silam, waktu saya kecil. Saya termasuk anak yang suka sekali mengumpulkan barang-barang bekas. Biasanya saya turun di bawah rumah masyarakat untuk cari-cari siapa tahu ada barang yang bisa diambil. Saya pernah mendapatkan kaset, aksesoris hingga uang recehan. Pada suatu waktu, kaki saya kena sebuah pecahan gelas. Bayangkan, gelas yang pecah, dan di pantat gelas itu masih utuh. Darah yang keluar bukan main. Maka dibawalah saya ke rumah sakit. Saya merasakan sakit yang luar biasa, kadang terasa pingsan, tapi itulah resikonya. Tapi, bersyukur ibuku walau waktu itu jualan kacang goreng dan kelontongan apa adanya bisa membiayai pengobatan saya. Empat jahitan di kaki kiri, walau sakit membuat saya sadar bahwa di situ ada kasih sayang.
Di kali lain, saya terkena seng bekas, sakitnya minta ampun. Kaki kiri saja, di sekitar betis berdarah-darah, akhirnya dijahit beberapa jahitan. Kadang kalau melihat itu, saya teringat masa lalu dimana kita harus "berdarah-darah" dulu untuk mencapai yang namanya "pengetahuan." Walau tidak harus berdarah, setidaknya kita harus alami juga yang namanya penderitaan untuk merasakan kenikmatan.
Kembali ke anak tadi. Saya seperti dibawa ke masa lalu. Saya sedih melihat anak tersebut. Tetangga saya, masih kecil pernah juga jatuh dari rumahnya ke pantai, pelipisnya robek. Melihat itu dengan jelas, saya jadi seperti ketakutan sendiri. Saya serasa hampir pingsan saat melihat atau merasakan hal-hal yang seperti itu. Seperti juga saat melihat anak kecil yang menyodorkan tangannya itu.
Luka anak, sebenarnya adalah luka orang dewasa juga. Kalau ada anak-anak di sekeliling kita yang kelaparan, atau tidak jelas pendidikannya, itu termasuk tanggungjawab kita. Betapa kita banyak saksikan orang hanya sibuk dengan dirinya sendiri, dan melupakan kondisi orang lain. Ada yang rela membeli handphone seharga satu juga, lima juta, tujuh juta, bahkan lima belas juta. Ada juga yang rela membeli sebuah bunga seharga lima belas, bahkan dua puluh juta, itu dalam sebuah pot. Kalau saja uang yang sebanyak itu diberikan kepada mereka yang nggak mampu, maka tentu pahala kita akan lebih meningkat dan masyarakat kita lebih meningkat taraf pendidikannya.
Saya merasa sedih sekali, sampai tulisan ini dibuat, kenapa ketika anak kecil itu menyodorkan tangannya saya hanya memberinya segitu. Kalau dipikir, itu lumayan bagi dia, tapi bagi saya itu masih sangat kurang untuk orang yang pernah "senasib" dengan saya. Saya merasa sedih sekali kenapa belum totalitas dalam mengeluarkan dana untuk membantu mereka yang kesusahan. Kita ini sudah untung bisa sekolah yang tinggi, sampai sarjana, di perguruan tinggi negeri lagi, bahkan bisa lanjut sampai jenjang master. Kita beruntung punya relasi yang baik. Ini berbeda dengan mereka yang berada dalam ranah kesusahan, makan susah, apalagi mau pikir pendidikan.
Saya sedih karena belum bisa membantu banyak anak yang pernah "senasib" dengan saya itu. Saya berdoa, semoga Allah ta'ala memudahkan kesembuhan anak tersebut, dan bersekolah hingga ke jenjang yang tinggi. Amin ya Allah. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar