Jihad di Lakemba (13)

Jihad Dib


WMA

Muslim Women’s Association (MWA) adalah organisasi yang pagi ini kami temui. Ini hari Jum’at 27 Maret 2015. Kami bertemu dan berdialog tentang program mereka dan bagaimana muslimat di Australia bisa eksis. MWA berdiri pada tahun 1983 dan beraktivitas khusus untuk memberikan pelayanan bagi wanita muslim dan keluarganya di negara bagian New South Wales (NSW). Inilah lembaga wanita muslim di Sydney dengan representasi lebih dari 72 sukubangsa di dalamnya. 
MWA punya banyak program, beberapa di antaranya Mothers Inspire Mothers. Kegiatan ini mempertemukan para ibu satu dan ibu lainnya untuk berbagi pengetahuan dan inspirasi. Dengan moto enlightening, inspiring, dan supporting, program ini berjalan setiap Jumat pertama tiap bulan.
Eksistensi lembaga ini juga terlihat dari penghargaan yang diterima aktivisnya. Pada 7 Agustus 2014, Maha Krayem Abdo, Pimpinan Eksekutif MWA, menerima penghargaan NSW Human Rights Award yang diserahkan oleh Menteri Urusan Kewarganegaraan dan Komunitas, Victor Dominello.

Tentang organisasi MWA yang telah serving the community for 30 years, lebih jauh dapat ditelusuri dalam website mereka, www.mwa.org.au.

Jihad di Lakemba

Saat ini sedang pemilihan umum di Australia. Untuk dapil Lakemba, Labor Party memilih Jihad Dib sebagai calon senator mereka. Saat salat Jumat di Masjid Imam Ali bin Abi Taleb, saya mendengarkan khutbah yang menyerukan agar para jamaah memilih orang yang dikenal dan berasal dari kalangan mereka. Artinya, wakil muslim memiliki peranan penting dalam menyuarakan kepentingan umat Islam di parlemen. Saya tidak dengar nama Jihad Dib disebut, tapi Ahmad Saifullah katanya dengar.

Setelah salat, saya sempatkan ke toko buku di lantai dasar. Ada banyak buku di situ, karangan Ibnu Qayyim sampai Ismail Raji Al Faruqi. Saya beli buku Al Tawhid: Its Implications for Thought and Life karya Ismail Raji Al Faruqi (1995) terbitan International Institute of Islamic Thought (IIIT, Herndon, Virginia, USA). Dalam buku ini Al Faruqi menulis 13 bab yang dimulai dari tauhid sebagai pengalaman religius, prinsip-prinsip pengetahuan berbasis tauhid, prinsip keteraturan sosial-politik, keluarga, dunia, dan prinsip estetik-artistik dalam Islam. Buku Bulughul Maram versi bahasa Inggris karangan Ibnu Hajar Al Atsqalani juga ada di sini.

Di sini juga saya lihat buku Iqro’ karangan KH. As’ad Humam dari Jogja. Dilihat dari bukunya yang sudah terpakai, tampaknya buku ini memang tidak dijual, tapi dipelajari di masjid yang didominasi orang Lebanon tersebut. Saya tidak sempat bertanya ‘status’ buku Iqro’ tersebut apakah dijual atau tidak. Tapi mungkin saja dijual untuk para jama’ah asal Indonesia atau Malaysia, karena berada dengan buku-buku jualan lainnya. 

Keluar dari masjid, saya bertemu dengan Jihad Dib di depan masjid. Ketika pemilihan, di sebuah gereja saya juga lihat Jihad Dib berkampanye. Tidak rame-rame amat kayak kita di Indonesia. Spanduk juga tidak sebesar baliho-baliho di Indonesia. Jihad Dib adalah salah seorang tokoh pendidikan muslim yang dikenal di Sydney. Salah satu selebaran yang diedarkan di depan masjid bertuliskan: How to Vote Labor. Jihad Dib for Lakemba. Dalam selebaran itu dijelaskan tiga tahap memilih Jihad.

Di dapil Lakemba, nama Jihad Dib ada di urutan 1, di bawahnya ada Chris Garvin, Rashid Bhuiyan, George El Dahr, dan Yahya Chehab. Di bagian belakang selebaran  ada panduan memilih dalam 15 bahasa, minus Indonesia: English, Chinese, Korean, Vietnamese, Tagalog/Filipino, Greek, Italiano, Macedonian, Russian, Spanish, Arabic, Assyirian, Bengali, Hindi, dan Tamil. Entah kenapa bahasa Indonesia tidak ada, mungkin karena imigran Indonesia di Australia tidak banyak ketimbang negara-negara asal tersebut. Atau, mungkin juga karena orang Indonesia dianggap cukup dengan bahasa Inggris saja.

Mission of Hope
Asma Yusra adalah keturunan Minang. Ia bisa berbahasa Minang, dan lancar bahasa Indonesia, walaupun lahir di Sydney. Asma adalah pendiri Mission of Hope. Saat dinner ini kami bertemu dengan Asma dan Suaminya, Abdurrahman. Benny Baharuddin, Ph.D, lelaki muda yang baru saja tamat S3 di usia 27 tahun. Ia orang Padang, tapi lahir di Sydney dan besar di situ. Selain itu, hadir juga Maha Najjarine, guide kita yang bekerja sebagai pengacara asal Lebanon dan Rowan Gould.
Sebelum pulang, saya dan beberapa teman sesama orang Minang di perantauan berfoto bareng. Ada Rowan Gould, Asma Yusra dan suaminya, Benny Baharuddin, dan saya sendiri. 

Perantauan Minang rupanya tidak hanya di Timur Indonesia seperti saya di Halmahera, tapi juga ada di Australia. Jika Cina Perantauan (Overseas Chinese) disebut-sebut punya kekuatan tersendiri bagi investasi dan hegemoni Cina di dunia (bahkan ada jurnal khususnya: Journal of Chinese Overseas), maka sebenarnya Perantau-perantau Indonesia (Overseas Indonesian) yang berjumlah 5.313.000 jika bersatu bisa menjadi potensi besar untuk kebangkitan Indonesia di kancah global. *

Komentar