Minggu, 21 Juni 2015

Jangan Putus Asa!



ALKISAH. Kejadian ini ditulis Frits Pachtner yang terjadi pada tahun 1859 di California, Amerika. Beberapa pencari emas telah tiba di satu tebing yang diduga ada emas di dalamnya. Tentunya emas itu tidak terletak di atas bumi, tetapi terbenam di bawah tanah. Tidak seorang pun mengetahui berapa tebalnya tanah batu-batu itu. Segera setelah para pencari emas memasang tenda mereka, mulailah mereka melakukan penggalian. Mereka mengeruk tanah, membongkar batu-batu dan menggali terus ke dalam tanah. Sementara itu sinar matahari semakin terik dan peluh pun mengalir perlahan dari muka mereka.
Sudah pada hari pertama menjelang maghrib, salah seorang penggali menggerutu. Sambil melemparkan kampak dan seroknya dia berteriak lantang: “Aku tidak mau lagi.” Di malam harinya ia meninggalkan kawan-kawannya untuk mengadu nasib di tempat lain. Sehari kemudian, penggali kedua juga demikian. Disusul dengan yang ketiga, keempat dan kelima.
Akan tetapi, ada seorang penggali yang tidak terpengaruh dengan kawan-kawannya. Dia terus menggali.  Dia mengisahkan usahanya yang berhasil waktu itu seperti ini: “Seolah-olah ada suara yang terus menerus membisikkan ‘galilah terus yang lebih dalam’. Lalu saya kerjakan penggalian. Tidak lama setelah itu saya menemukan sumber emas, yang berkilauan di bawah sinar matahari.... Apabila kemudian ada salah seorang anak saya yang ingin mengentikan rencananya, dengan alasan tidak dapat dicapai, maka saya selalu mengingatkannya pada kejadian ini. Jangan lekas putus asa.”
Kata La Taisu asalnya dari Bahasa Arab, artinya Jangan Berputus Asa. Di dalam al-Qur'an disebutkan, "Laa taiasuu min rahmatillah." Artinya, "Janganlah berputus asa dari rahmat Allah."
Dalam bedah buku De Winst, Afifah Afra, sang penulis menyebutkan tentang karyanya yang ditolak oleh sebuah penerbit. Padahal, karya itu adalah karyanya yang ke-30 sekian. Artinya, dengan sudah banyaknya buku beliau, setidaknya kualitas karya sudah bisa diketahui. Tapi, kali ini naskahnya Afra ditolak oleh penerbit.  Lantas, apa yang dilakukan Afra? "Saya membuat penerbit sendiri!"
Afra Publishing, yang bisa kita lihat buku-bukunya di toko, adalah penerbit baru yang dibuat oleh Afifah Afra, salah satu alasannya, sebagaimana penuturan beliau pada bedah buku De Winst (Ahad, 01/03/09) di Islamic Book Fair, adalah karena ia "kecewa" dengan naskahnya yang ditolak itu. Tapi, anehnya, ketika De Winst diterbitkan oleh Afra Publishing (grup Indiva Media Kreasi), malah buku itu menjadi best seller. Apa yang salah di sini?
Kita kembali ke beberapa tahun lalu. Sebelum terkenal, Ayat-Ayat Cinta-nya Kang Abik ternyata naskah tersebut juga awalnya pernah ditolak oleh penerbit. Walau ditolak, sang penulis tetap yakin, bahwa sesuatu yang baik tidak akan sia-sia. Menurut Ahmadun Yosi Herfanda, redaktur Republika, sebuah naskah ditolak oleh penerbit itu karena banyak alasan. Bisa karena tidak sesuai dengan mood dari sang editor atau penyeleksi naskah, atau bisa juga karena pandangan bahwa naskah itu tidak layak jual, karena mau tidak mau dalam dunia penerbitan tetap memperhitungkan yang namanya pasar.
Yang bisa kita pelajari dari ditolaknya naskah Afifah Afra, juga Kang Abik, adalah sebuah kata, Jangan Berputus Asa. Biar naskah kita berkali-kali ditolak oleh penerbit, itu bukan berarti bahwa naskah kita itu tidak layak terbit. Dalam beberapa kasus, ada yang menerbitkan naskah bukunya sendiri, dan malah dengan begitu jadi best seller.
Jadi, tantangan dari menerbitkan karya jelas selalu ada. Bisa karena perasaan kita yang merasa rendah. Kita merasa bahwa naskah kita ini tidak ada apa-apanya. Atau, kita merasa bahwa kita ini kan orang kampung, kita merasa jatuh mental dari orang yang sudah duluan tinggal di kota. Atau, kita merasa rendah diri karena memang lingkungan membentuk kita seperti itu. 
Jangan berputus asa rasanya begitu penting bagi kita yang ingin melahirkan banyak karya. Kalau ada yang salah, terus perbaiki. Kalau ada naskah yang sudah jadi, jangan dibuang, pelajari lagi apa yang kurang dari naskah tersebut. Dengan begitu, naskah-naskah kita lama kelamaan akan menjadi baik, dan suatu saat tidak menutup kemungkinan akan diburu oleh banyak penerbit, atau bisa saja malah ketika diterbitkan oleh penerbit lain akan menjadi best seller, dan bermanfaat bagi banyak orang. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagi dengan Orang Aceh

Berbagi dengan FLP Aceh Setelah berakhirnya Munas IV FLP, saya diminta oleh beberapa kawan FLP Aceh untuk sharing pengalaman. Sejak iku...