Minggu, 21 Juni 2015

Ilmu untuk Amal



“Barangsiapa yang menyembunyikan ilmu maka Allah akanmengekangnyadengan kekangan dari api neraka.” (Hadis Nabi)

Cara mengamalkan ilmu bisa kita lakukan dengan dua hal: Mempraktikkan pada diri sendiri dan mentransfernya pada orang lain. Mempraktekkan berarti mengulangi-ulangi sampai menjadi karakter. Itu berarti kita berusaha terus-menerus untuk memperbaiki dan menambah ilmu pengetahuan. Cara mengajarkan ilmu pada orang lain bisa dilakukan di kelas, pertemuan, rapat, silaturrahim, surat, sms, atau lewat menulis!
Ya, dalam mentransfer ilmu, kita juga perlu menyuguhkan secara menarik. Begitu juga seharusnya yang kita lakukan ketika berceramah, presentasi materi, atau khutbah jum’at. Olehnya itu, kita perlu mempersiapkan baik-baik hal tersebut.
“Naik tanpa persiapan turun tanpa penghormatan,” begitu kata pepatah Yunani.
Dengan niat yang tulus, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tidak bosan-bosannya berfatwa walau berada dalam penjara dan menulis buku lebih dari 500 judul. Majmu’ Fatawa yang tebalnya kurang lebih dua meter itu adalah salah satu karya besarnya. Niat itu juga yang terpatri dalam jiwa para pengumpul hadits seperti Imam Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Daud, Nasai, Ibnu Majah yang karya mereka kita kenal dengan nama Kutubus Sittah. Niatan yang tulus itu kemudian diterangi lagi oleh Allah dengan memberikan kemampuan kepada mereka untuk mentransformasikan ilmunya dalam bentuk tulisan.
Sungguh luar biasa! Demi dakwah dan menjaga kelestarian sejarah negerinya, Ibn Asakir ikhlas mencurahkan hidupnya untuk menulis buku Sejarah Damaskus sebanyak 80 jilid! Bahkan untuk menyalin ulang karya tersebut diperlukan banyak sekali juru tulis yang menyelesaikan proyek itu selama dua tahun. Itu, karena jiwa mereka yang tak henti-hentinya beramal dengan materi (maaddah/content) yang baik dan cara yang menarik untuk menerangi umat manusia dari petaka kegelapan.
“Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti!” kata KH. Imam Zarkasyi. Ya, benar! Hidup kita hanya  satu kali, setelah itu mati! Hidup yang hanya sekali ini akan terasa rugi jika tidak dimanfaatkan sebaik mungkin.
Menjadi apapun  kita, jadilah yang bermanfaat! Rasululllah Saw bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Jadilah bagian dari solusi (part of solution), jangan jadi bagian dari masalah (part of problem)! Carilah potensi kecerdasanmu dan lejitkanlah!
Termasuk dalam hidup yang bermanfaat adalah membantu orang lain. Misalnya, ada seorang saudara kita yang terjebak dalam hutang yang susah sekali ditunaikannya. Sebagai saudara yang baik, kita perlu membantunya menyelesaikan hutangnya. Namun hal ini bukan berarti orang yang menghutang tidak bekerja keras untuk menyelesaikan hutangnya.
Dari sebuah riwayat, Nabi Muhammad Saw bersabda bahwa ada seorang laki-laki yang (suka) memberi hutang kepada orang lain, kepada pelayannya ia berkata, Jika engkau mendatangi orang miskin, maka bebaskanlah (hutangnya), mudah mudahan Allah membebaskan kita (dari siksa-Nya). Beliau yang mulia bersabda, “Maka orang itu menjumpai Allah dan Allah pun membebaskannya (dari siksa).”
Hidup ini begitu singkat. Waktu-waktu juga cepat sekali berlalu. Maka beruntunglah mereka yang menyibukkan dirinya dengan amal-amal saleh. Mari buat amal saleh setiap hari, bahkan pada setiap kita menghela nafas. Semua untuk kebaikan. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagi dengan Orang Aceh

Berbagi dengan FLP Aceh Setelah berakhirnya Munas IV FLP, saya diminta oleh beberapa kawan FLP Aceh untuk sharing pengalaman. Sejak iku...