Diskusi dengan Professor Greg Fealy dan James Haire (10)

Greg Fealy


Dengan Prof Greg Fealy

Sebelum menghadiri diskusi dengan Professor Greg Fealy, paginya kami jalan-jalan di pinggir Lake Burley Griffin. Danau seluas ini memang tidak cukup jika dikunjungi hanya satu hari. Dari situ kami menuju ke National Arboretum Canberra (NAC), sebuah lokasi konservasi hutan seluas 250 hektare yang selain ditanami lebih dari 44.000 pohon, juga ada pohon bonsai. Kata brosur mereka, “it is a place of beautiful landscapes, award-winning architecture and spectacular views.”

Ya, memang betul sih. Dari sini—karena ini ketinggian—kita bisa lihat Canberra. Malam sebelumnya, kami berada di ketinggian menara pemancar Telstar, dan melihat kota Canberra. Walau tidak begitu jelas, akan tetapi landscape kota kelihatan oleh kami. 

Dari NAC yang berjarak sekitar 6 KM dari Kota Canberra, kami ke kampus The Australian National University (ANU). Diskusi dihadiri oleh Prof Greg Fealy, Prof. Virginia Hooker, Dr. Sally White, dan mahasiswa PhD di Indonesia yang sandwich satu tahun di ANU atau yang disebut dengan program PIES. forum membahas tentang fenomena Islam di Indonesia. Tiap orang diberi berkenalan dan menyampaikan pendapatnya tentang tema tersebut. Beberapa waktu sebelumnya, ada kasus seorang dosen Aceh yang membawa mahasiswanya untuk belajar di gereja. Ini dibahas dalam forum.


Sebuah buku saya untuk Prof Greg Fealy (adanya cuma yang ini)
Simpulannya, memang di Aceh isu Kristenisasi cukup sensitif terutama setelah tsunami. Dan, apa yang dilakukan oleh dosen IAIN Ar-Raniry tersebut—yang juga alumni MEP dan alumni Australia—adalah karena ‘tidak biasa’, dan di tulisannya yang dimuat di Australia Plus ia mengatakan bahwa di Australia ia melepas jilbabnya dengan alasan agar mudah diterima dan tidak dicurigai membawa bom. Isu Kristenisasi dan jilbab memang sensitif. Akhirnya, berbagai penentangan pun berdatangan padanya, hingga ia ke Jakarta.

Setelah pertemuan ini saya bertemu kawan lama saya, Ahmad Dhiaulhaq. Enam tahun saya berteman dengan beliau di Pesantren Darunnajah. Waktu saya dan beberapa teman memprakarsai berdirinya Perhimpunan Profesional Indonesia (PPI), Dhiaulhaq juga hadir. Waktu itu tampaknya ia lagi mempersiapkan diri untuk lanjut studi. Tamat S2 dari Melbourne University, Dhiaulhaq lanjut PhD di Crawford School dalam bidang lingkungan. Sebelumnya ia pernah bekerja di Thailand.
Di Kampus ANU

Setelah berdiskusi dengan Greg Fealy, kami lanjut makan siang di ANU Cafetaria dan berfoto di sebuah taman dengan beberapa bola yang kabarnya itu landmark-nya ANU. “Tidak lengkap orang ke ANU kalau tidak foto di sini, Mas,” kata Fajran Zain, guide kami.

Dengan Prof James Haire

Nama James Haire saya baca di sebuah buku karyanya tentang Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH) yang dijual di Toko Favorite, Tobelo. Saat ngobrol dengan si empunya toko, Aseng, ia cerita bahwa untuk penelitian tentang kerusuhan Tobelo 1999, James Haire bisa jadi salah satu informan karena ia pernah penelitian di sini.


Kampus Charles Sturt di Canberra
Dalam paparannya via teleconference, Haire juga cerita bahwa setelah kerusuhan, untuk menuju perdamaian Malino 2, ia diminta Gusdur untuk membujuk orang Kristen agar mau berdamai. Karena waktu itu kondisi masih tidak aman, Haire ditemani oleh tentara agar mengantisipasi jangan sampai ada dari kalangan Kristen yang tidak senang dengan ajakannya tersebut. Waktu mengungsi di Kompi C 732, kalau tak salah ingat, di radio Gusdur bilang korban kerusuhan Tobelo hanya 5 orang. Sontak ini membuat masyarakat marah, dan tidak percaya kepada Gusdur. Korban sudah ratusan di kedua belah pihak, tapi hanya dihitung lima. Tapi, mungkin Gusdur punya pertimbangan lain.

Kepada Haire saya katakan bahwa saya besar di Tobelo, dan pernah mengajar di Universitas Halmahera (Uniera). “Berarti kita sama-sama dosen Universitas Halmahera, ya,” komentar dia. Uniera dulunya bernama Sekolah Tinggi Teologia (STT), kemudian menjadi Uniera seiring dengan bertambahnya fakultas dan jurusan. Di sini saya pernah mengajar satu semester, selanjutnya saya pindah menjadi PNS dosen Universitas Khairun di Ternate. Saya utarakan niat untuk menulis disertasi tentang Kerusuhan Tobelo.

James Haire sangat senang dan siap membantu. Ia katakan bahwa ada lulusan PhD ANU yang menulis tentang itu, tapi tentu berbeda jika ditulis oleh orang sana langsung. Keinginan untuk menulis tentang Kerusuhan Tobelo sebenarnya sudah ada sejak lama, terutama waktu saya dan keluarga harus mengungsi di Kompi dan dua minggu tidur di emperan rumah tentara bersama ratusan orang muslim lainnya. Waktu itu saya bertekad suatu saat akan menulis tentang kejadian ini. Ketika berdialog di ANU beberapa jam sebelumnya, keinginan untuk menulis topik itu muncul kembali, dan saya pikir saya cukup punya gairah untuk itu.

Teleconference dengan Haire ini dilakukan di Board Room 2015 Charles Sturt University dengan sebuah alat seperti pesawat. Waktu itu ia sedang di Melbourne, jadi tidak bisa kami bertemu langsung. Tapi suaranya yang jelas menjadikan diskusi jadi menarik, walaupun saya lihat teman-teman—termasuk saya juga sebenarnya—cukup letih dan pada ngantuk. Kayaknya, semingguan berpindah-pindah dengan kegiatan yang padat cukup membuat letih juga. Tapi walau letih tetap pada sehat, alhamdulillah.

Dinner dengan Rowan Gould
Dari kampus CSU, kami mampir sebentar membeli souvenir ANU, kemudian ke Australian War Memorial, dan lanjut ke bandara untuk terbang ke Sydney. Inilah kota terakhir yang kami kunjungi dalam program MEP 2015 ini. Dengan Virgin Australia VA 661, saya duduk di kursi 4F, siap untuk menjelajahi beberapa destinasi di salah satu kota terramai di dunia itu. Di Sydney nanti kami sudah janjian bertemu Rowan Gould yang terbang dari Melbourne dan akan menginap di Meriton Serviced Apartment di 528 Kent St, Sydney. 

Fasten your seat belt while seated – life vest under your seat.
Bismillah *

Komentar