Minggu, 21 Juni 2015

Dari Ayunan Hingga Liang Kubur



PROSES belajar tak terbatasi sekat kampus ataupun umur. Istilah yang paling tepat untuk ini adalah Long Life Education atau yang bisa diartikan sebagai “Pendidikan Seumur Hidup. Dimanapun kita berada, kita harus belajar! Tua muda tak ada urusan, belajar tetap menjadi kebutuhan. Seseorang berkata—dan ini relevan sekali, “Setiap orang adalah guru dan di saat yang sama adalah murid.” Yang lain berkata, “Setiap tempat adalah sekolah.”
Tiap orang punya nilai lebih, maka dari itu kita harus mengambil pelajaran dari mereka. Pun demikian di tiap tempat, selalu ada pelajaran yang bisa kita petik dari situ. Sebagai contoh, jika suatu saat jalan-jalan ke Afrika, janganlah kita lupa ke Mesir. Mari kita belajar dari sejarah besar yang pernah terjadi di sana. Dulu, kota bersejarah di sebelah utara Benua Afrika itu, sangatlah terkenal se-antero bumi karena peradabannya yang besar. Peradaban Mesir kuno berada dalam waktu yang sama dengan negara kota yang berada di Mesopotamia yang dikenal sebagai satu di antara peradaban tertua di dunia dan dikenal dengan pengorganisasian negara dan paling maju dalam tatanan sosial di jamannya.
Fakta bahwa mereka telah menemukan tulisan/huruf pada millenium ke-3 Sebelum Masehi (SM) dan menggunakannya, bahwa mereka juga memanfaatkan sungai Nil dan mereka terselamatkan dari berbagai bahaya luar dalam kaitannya dengan setting alamiah negara tersebut, nyata-nyata telah memberikan sumbangan yang besar terhadap bangsa Mesir dalam peningkatan peradaban mereka.
Namun, masyarakat yang ‘beradab’ ini, pada masa berlakunya ‘Pemerintahan Fir'aun (Pharaoh)’ menggunakan sistem kafir yang disebutkan secara jelas dalam Al-Qur'an. Mereka bersifat congkak, angkuh, bangga dengan dirinya sendiri, mengesampingkan dan mengutuk. Akhirnya baik peradaban mereka yang maju, tatanan sosial politik bahkan dengan tentara yang kuat sekalipun tidak bisa menyelamatkan ketika mereka dihancurkan.
Kata-kata Pharaoh (Fir'aun) disebutkan dalam al-Qur'an yang digunakan dalam percakapannya dengan Musa, hal ini membuktikan bahwa mereka percaya atas ketuhanan Pharaoh. Ia mencoba mengancam Musa dengan mengatakan:
"Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan." (QS. Asy-Syu'ara: 29)
Berkata Fir’aun kepada orang-orang di sekelilingnya, "Hai Pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku." (QS. Al-Qashash: 38) Ia mengatakan ini semua karena menganggap dirinya adalah tuhan. Dalam pentas sejarah kita saksikan bahwa Fir’aun yang sombong itu pun tewas ketika mengejar Musa dan Bani Israil. Mayatnya oleh Allah tidak dihancurkan, akan tetapi masih tetap utuh hingga sekarang agar manusia-manusia sesudah Fir’aun mengambil pelajaran.
Marilah, kita tidak berhenti untuk belajar. Dimanapun dan kapanpun, marilah belajar, belajar, dan belajar. Mari kita dengarkan sebuah kutipan bagus dari Abu Asyfairi:
Nilai hidup yang tinggi terletak pada amal, juang, jasa, dan bakti. Bila berangkat ke alam baka tanpa jasa dan mati tanpa bakti hidup ini tiada arti. Karena itu berilah nilai hidup ini. Hiasi ia dengan jihad dan bakti. Anda akan hidup sepanjang jaman. Sebab manusia dapat menikamti jasa yang anda tinggalkan.”

Kesuksesan tidak mengenal tua-muda. Jika umur Anda muda tapi Anda berprestasi, sungguh itu luar biasa! Bahkan, Anda masih bisa menjadi yang terbaik dari apa yang Anda peroleh hari ini, jika Anda terus menjaga semangat berprestasi itu.
Usamah bin Zaid, misalnya, umurnya masih 16 tahun waktu itu, tapi karena sudah matang emosi dan strategi perangnya ia diamanahkan oleh Rasulullah menjadi pimpinan perang bersama para sahabat senior melawan Romawi. Dan hasilnya ia pun berhasil keluar sebagai pemenang! Peranan kaum muda juga bisa kita lihat dalam kancah politik. Sutan Syahrir misalkan ia terpilih menjadi perdana menteri (PM) dalam usia 36 tahun; KH. Wahid Hasyim, menjabat sebagai pimpinan teras Nahdlatul Ulama (NU) dan diangkat menjadi menteri agama dalam usia 35 tahun; Bung Karno menjadi orang nomor satu di Indonesia tatkala berumur 44 tahun; dan Mohammad Natsir dari Masyumi menjadi perdana menteri (PM) pada usia 42 tahun.
Mereka-mereka secara usia masih muda, akan tetapi kematangan politik dan intelektualnya tidak bisa diremehkan begitu saja. Bung Karno menulis Indonesia Menggugat, Natsir menulis Capita Selecta, Hatta menulis Indonesia Merdeka, Syahrir menulis Renungan dalam Tahanan, dan masih banyak lagi deretan lainnya.
Dalam dunia Multi Level Marketing (MLM), banyak juga anak muda yang umurnya belum juga 30 tahun, akan tetapi sudah menjadi jutawan, bahkan milyarder! Di dunia seni peran, sering kita lihat anak-anak SD yang sudah bermain film dan mendapatkan penghasilan yang lumayan untuk anak seumur mereka. Bahkan mereka juga menulis buku yang diterbitkan dan beredar di seluruh Indonesia.
Ada orang tua yang menyesal dalam hidupnya. Mungkin karena di masa mudanya ia malas belajar atau nakal dan ketika tiba suatu masa yang menjadikannya harus taubat, ia pun menyesali apa yang pernah ia alami. Tiap orang pasti punya masa lalu yang kelam, termasuk juga dalam proses belajar. Saat ini ia telah melihat teman-teman se-angkatannya telah sukses, pintar berbahasa Arab, Inggris, Jepang dan Jerman. Temannya yang dulu ia pernah bersama-sama satu sekolah bahkan satu asrama/kost/pondokan, telah berhasil meraih masa depannya. Ia pun terjebak dalam penyesalan yang tiada tara.
Dalam kondisi seperti ini, sebuah kata sangat penting untuk mereka yang mengalaminya, “Tak ada kata terlambat dalam belajar!” Selalu ada kesempatan untuk orang yang mau berubah! Imam Ali bin Ali Thalib mengatakan, “Kesempatan datang bagai awan berlalu, maka pergunakanlah selagi ia nampak di hadapanmu.”
Umar bin Khattab adalah pemuda Makkah yang pernah mengubur hidup-hidup anak perempuannya sampai mati. Akan tetapi, ketika cahaya hidayah menelusup ke dalam lubuk hatinya, ia pun tersentuh, dan terpancarlah semangat yang menggebu-gebu untuk mempelajari dan mengamalkan dinul Islam. Akhirnya, karena kegigihannya dalam belajar, bertaubat, beramal dan berjihad, ia pun termasuk dalam 10 sahabat nabi yang dijamin masuk surga, dan menjadi khalifah rasyidah kedua menggantikan Abu Bakar as-Shiddiq.  
Nah, jika kita pernah menyesal karena tertinggal jauh dalam belajar, maka janganlah terlalu dirisaukan. Segeralah bangkit dari keterpurukan itu. Jangan patah arang, jangan remehkan diri sendiri. Mulailah belajar dari sekarang dengan sungguh-sungguh. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagi dengan Orang Aceh

Berbagi dengan FLP Aceh Setelah berakhirnya Munas IV FLP, saya diminta oleh beberapa kawan FLP Aceh untuk sharing pengalaman. Sejak iku...