Senin, 22 Juni 2015

Cinta Kita Pada Manusia

Cinta pada manusia dibawah cinta pada Allah

ORANG yang beriman mencintai segenap manusia. Itu karena manusia lainnya adalah saudaranya juga. Dirinya dan manusia-manusia di manapun mereka berada, adalah keluarganya, berasal dari satu bapak yaitu Nabi Adam as dan Siti Hawa yang mulia.
Allah Swt menerangkan kepada kita semua perihal satu nenek moyang kita sebagai berikut:
"Hai manusia! Patuhlah kepada Tuhanmu yang menjadikan kamu dari satu diri, dan dijadikan istrinya dari bangsanya sendiri, dan diperkembangbiakkan dari keduanya laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan patuhlah kamu kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu satu sama lain menuntut hak dan menjaga pertalian keluarga. Sesungguhnya, Allah itu Pengawas kamu semua." (QS. An-Nisa: 1)
Dari ayat ini teranglah kita bahwa kita semua berasal dari "nafsin waahidah" (satu diri) yaitu Nabi Adam as. Ini berarti, klaim kaum evolusionis tentang evolusi manusia dari tingkat yang rendah hingga menjadi manusia adalah tidak berdasar karena dilihat dari segi agama dan ilmu pengetahuan, hal itu bertentangan. Buku-buku Adnan Oktar yang memakai nama pena "Harun Yahya" sangat intens mengkritik pemikiran ini yang bersumber dari al-Qur'an dan penemuan sains modern.
Dari satu diri ini kemudian kita semua diperkembangbiakkan. Dari Adam kemudian lahirlah Siti Hawa. Dari Hawa kemudian lahirlah anak cucunya yang begitu banyak. Keturunan dari nabi Adam ini pun dilihat dari karakternya terbagi dua, antara pengikut QABIL dan HABIL, atau bisa disebut dengan "Qabil-isme" dan "Habil-isme".
Peristiwa pembunuhan Qabil atas Habil adalah disebabkan rasa dengki yang mendalam karena tidak diperkenankan menikahi Wadhiah saudari kandung Qabil. Akan tetapi ia diperitahkan untuk menikahi saudari Habil yaitu Damimah. Selain itu, juga karena kurban yang diberikan Qabil kepada Allah tidak diterima sedangkan kurban Habil diterima, dengan demikian maka Habil-lah yang berhak menikahi Wadhiah. Karena dendam-kesumat itu terus dipelihara, maka Qabil pun tak terbendung lagi hingga membunuh Habil agar ia tidak dapat menikahi Wadhiah.
Dan, seterusnya seperti itu. Masalah zaman dari Nabi Adam dan keturunannya sampai selalu sama. Masalah dendam, iri hati, ada orang baik, ada orang buruk, ada peiba hati, ada provokasi, hingga konspirasi. Semua masalah itu terus saja berulang. Karakter seperti Fir'aun misalkan, ada saja di zaman-zaman selanjutnya dengan variasi kediktatoran yang berbeda. Sedangkan, orang-orang yang baik, para penyeru kepada Tauhid yang terusir, bahkan dilenyapkan nyawanya juga tetap ada.
CINTA yang berlebihan biasanya akan membuahkan sengsara, kecuali cinta kepada Allah Swt. Cinta pada manusia yang berlebih ada kalanya membuat orang kecewa. Ambillah contoh, sebelum menikah sepasang kekasih mengatakan kepada pasangannya bahwa dia akan tetap setia hingga akhir. Baiklah, kita terimalah ucapan manis itu. Namun, pada rentang berjalannya sejarah, kerap saja kita temukan orang-orang yang dulunya pernah berkata setia, kemudian malah berpaling dari perkataannya.
Ini adalah berlebihan. Jangan terlalu melampaui batas dalam cinta. Sebaliknya, cintailah sesuatu pada kadarnya, pada porsinya yang tepat. Dengan demikian, jika suatu saat kita toh akan kecewa, maka kekecewaan itu telah kita antisipasi dengan tidak terlalu berlebihan dalam mencintainya.
Dalam mencintai sesama manusia, kita kerap merasa tidak puas dengan yang sudah ada. Sudah dapat seribu, minta lima ribu, seterusnya ketika dapat seratus ribu, minta lima ratus bahkan sejuta. Manusia itu tidak ada puas-puasnya. Punya istri satu, tidak juga dia merasa puas. Maka berkelanalah dia mencari istri baru. Bahkan, pada budaya kerajaan, ada kalanya sang ayah itu tidak tahu siapa-siapa nama anaknya, dan berasal dari istri yang mana. Selalu tidak puas. 
Lantas, kapankah kita akan merasa puas? Selama kita masih bernafas, kita tidak akan pernah puas. Kecuali, kalau kita telah berkalangan tanah di pekuburan yang sempit nan gelap. KITA SEMUA BERASAL DARI KETURUNAN YANG SAMA. Olehnya itu, karena kita satu nenek moyang, maka saling cinta kepada sesama manusia harus kita miliki dalam batas-batas yang tidak melanggar pada ketentuan Allah Swt. Cinta kita pada manusia haruslah semakin mendekatkan kita kepada-Nya, jangan sampai malah menjauhkan kita dari cahaya kebenaran. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Achmad Fedyani Saifuddin: Antropologi Kekuasaan (5)

Mata kuliah Antropologi Kekuasaan adalah salah satu mata kuliah yang diminati oleh banyak mahasiswa. Dalam perkuliahan tersebut, Professor ...