Cinta dalam Kesusahan

Segelap apapun itu, selalu ada cahaya!


KESETIAAN adalah salah satu syarat dari persahabatan. Kesetiaan akan mendatangkan kepercayaan antara satu dan yang lainnya. Seorang teman yang baik adalah yang setia kepada temannya. Kesetiaan akan mendatangkan kebahagiaan. Jika sifat ini tidak dimiliki dalam perkawanan, persahabatan, bahkan pernikahan,  maka hubungan tersebut memiliki kerapuhan dari dalam. Akibatnya akan terjadi ketidakseimbangan dalam menjalani kehidupan.
Teman yang baik adalah yang juga suka berkorban. Teman yang baik akan mengorbankan kepentingannya hanya untuk melihat sebuah senyuman terpancar dari mulut temannya. Dengan pengorbanan, persahabatan antar sesama menjadi semakin erat.
Cobalah kita lihat ketika pembagian daging kurban yang dibawa oleh panitia ke masing-masing pemilik rumah. Panitia telah mengorbankan waktu untuk melayani orang lain. Ada kebahagiaan di situ! Karena mengikuti risalah pengorbanan yang dibawa oleh khalilullah Ibrahim as.
Tatkala Nabi Ibrahim as. sampai di Makkah, ia bermimpi bahwa ada yang berkata kepadanya, “Sembelihlah anakmu!” Maka, Nabi Ibrahim berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, lalu beliau pun berwudhu dan menunaikan shalat. Namun, ia bermimpi lagi kedua kalinya dengan mimpi yang sama, sehingga ia menyimpulkan bahwa itu adalah mimpi yang benar.
Di dalam Al-Qur’an kita lihat kisah pengorbanan beliau kepada anaknya, “Ibrahim berkata kepada Ismail: Sesungguhnya aku melihat di dalam mimpiku bahwa aku menyembelihmu.” Bagaimana kira-kira perasaan Anda ketika orang tua Anda mengatakan akan menyembelih Anda? Dengan kesabaran dan pengorbanan menundukkan egoisme jiwa, masih dalam Ash-Shaffat 102, Ismail berkata dengan mantap:
“Wahai bapakku, lakukanlah apa saja yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah (dengan kehendak Allah), niscaya engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”        
Dari kisah nabi kita ini tergambarlah bagi kita bagaimana pengorbanan ayah dan anak kepada Allah. Dalam keadaan susah, kekeringan di Makkah, mereka bersabar dan tetap setia menjalankan perintah yang datangnya dari Allah. Jadi, para pembaca sekalian, yang baik adalah yang tetap cinta kepada kita walau kita dalam keadaan susah secara fisik dan psikis. []

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berbagi dengan Orang Aceh

Kuliah, Kerja, dan Pencarian Kebahagiaan

Kenapa Menulis buku Buya Hamka?