Cari Hidup di Perpus

Saat ini aku berada di perpustakaan. Sebenarnya, aku harusnya berada di sebuah ruangan, tapi aku memilih untuk ke sini. Kupikir, tiap orang memiliki kecenderungan, dan pencarian akan apa-apa yang dapat membuatnya bertahan untuk menggapai cita-citanya.

Waktu mahasiswa dulu, diriku termasuk hobi jika berlama-lama di perpustakaan. Ketika ramai orang berlari-larian di sekitar gedung perpus karena terlibat tawuran, dari atas aku hanya melihat. Kupikir, tiap mereka yang tawuran mungkin juga tidak mengerti kenapa mereka harus melempar batu kepada kawan satu kosannya, tetangganya, atau juga mungkin sekampungnya. Yang mereka tahu hanyalah solidaritas. Terlepas dari itu, aku tetap di perpustakaan.

Kupikir, perpustakaan adalah tempatku untuk merenung, mencari, dan menemukan apa-apa yang mungkin tak sempat kutemukan dalam keadaan ramai.

Di perpustakaan aku bisa membaca banyak buku. Dari filsafat sampai agama, dari politik sampai humor. Kupikir, membaca banyak hal akan memberikan banyak hal pula.

Jika kita memperluas bacaan, maka horison pemikiran kita juga akan luas. Selanjutnya itu akan berpengaruh pada posisi kita di masyarakat. Kenapa pengetahuan terkait dengan posisi? Karena pengetahuan sejatinya adalah kuasa, dan tiap orang membutuhkan orang yang berkuasa. Sebagai contoh, kalau listrik di rumah kita mati, pasti kita akan panggil PLN, atau orang yang tahu listrik. Ketika datang, ia adalah orang yang sangat berkuasa di rumah kita. Mau tak mau kita harus turut pada kehendaknya, kalau mau listrik kita menyala.

Di bulan puasa seperti sekarang memang paling enak berada di perpustakaan. Di Jakarta dulu, waktu masih sekolah, saya biasa berlama-lama di perpus. Kini, di Bandung, saya juga ingin berlama-lama, walaupun sebenarnya tidak bisa lama juga, untuk duduk di perpustakaan ini.

Di depanku saat ini ada beberapa orang. Dua orang berdiskusi tentang teknologi dan agama, beberapa lainnya sedang khusyuk dengan laptopnya. Sementara itu beberapa rak buku tertata rapih, siap untuk dibaca oleh para pengunjung. Seperti biasa, kalau ke sini saya duduk di sebuah rak buku yang banyak memajang koleksi Dr. Imaduddin Abdulrahim, atau yang biasa disapa Bang Imad. []

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ma'rifat Danarto

Berbagi dengan Orang Aceh

Kuliah, Kerja, dan Pencarian Kebahagiaan