Senin, 22 Juni 2015

Cantik


TIAP orang memiliki pandangan yang berbeda tentang kecantikan. Tiap orang juga punya paradigma masing-masing tentang itu. Miss Universe menurut orang Barat itu cantik. Tapi menurut orang Timur, belum tentu itu cantik. Seorang sunda berkulit putih datang ke tanah Afrika, belum tentu dia menjadi cantik di sana. Yang ada malah dia dijauhi, karena ada suku tertentu di Afrika yang menganggap bahwa orang kulit putih itu penyakitan dan tid
ak layak disebut cantik. Kecantikan, menurut salah satu suku di Afrika sana, adalah perempuan yang berkulit hitam dan memiliki postur yang relatif gemuk.
Tiap orang, juga budaya dalam skala lebih luas memiliki pandangan yang berbeda mengenai ukuran cantik. Hidung mancung belum tentu cantik, tapi di kalangan tertentu itu menjadi idola. Tubuh langsing, belum tentu menarik, sebaliknya yang gemuk juga belum tentu tidak menarik. Berfoto menggunakan kacamata hitam yang besar itu tidak juga cantik menurut sebagian orang. Tapi, sebagian orang yang tergila-gila oleh mode merasa tidak lengkap rasanya kalau belum berfoto dengan kacamata hitam dan tebal itu untuk kemudian diposting di jejaring sosial atau untuk koleksi pribadinya.
Yang kita anggap cantik belum tentu menarik. Orang Barat memang sudah biasa berpakaian ketat, tapi akhir-akhir ini banyak negara dunia ketiga yang tergila-gila dengan pakaian ala Barat. Kalau dulu ada perempuan pakai baju ketat, orang tua kita akan marahnya minta ampun. Hari ini, saat kita keluar rumah, di angkot kita langsung dihadapkan oleh pameran bentuk fisik sang perempuan. Di kalangan lain, kaum lelaki juga ada yang merasa tidak ganteng, gagah atau macho kalau tidak mengenakan pakaian ketat.
Bagi orang Barat, membuka aurat itu sudah budaya. Tapi, kalau mereka mau lebih konsisten, mereka juga perlu menggunakan penutup aurat yang baik. Di Gereja para biarawati pakaiannya menutupi tubuhnya dalam porsi yang banyak, namun para jama'ah gerejanya banyak yang auratnya terbuka dimana-mana. Dalam banyak poster tentang Bunda Maria (itu pun kalau bisa disebut poster itu benar) Bunda Maria digambarkan dengan pakaian yang mentupi tubuhnya dengan baik. Artinya, kalau orang Kristen ingin mengikuti agamanya, maka mereka harus menutup auratnya juga.
Di dunia Islam juga seperti itu. Masuk dalam masjid orang-orang begitu khusyuk mendengarkan ceramah, ataukah untuk beribadah. Namun, selesai shalat, pakaian shalatnya itu pun dilepas, tas dibuka, pun beraksilah. Buka kaca, gincu dioleskan, dan bedah merayap di pipi. Jika sebelumnya dari atas sampai bawah pakaiannya lengkap saat shalat, kini banyak bagian yang sudah open begitu saja. Kalau ini dilakoni oleh kalangan yang tidak beragama, itu diwajarkan saja. Namun, jika ini dilakukan oleh orang Islam yang dalam Islam diwajibkan menutup auratnya, betapa ini adalah kesalahan yang memang salah.
Apakah cantik itu disimbolkan dengan bedak, gincu, dan pakaian yang terbuka? Belum tentu.  Kecantikan yang sesungguhnya adalah berada dalam ranah hati nurani atau "hanura". Semanis-manisnya fisik seseorang kalau hatinya busuk, maka busuklah dia akan terasa. Sebetah-betahnya kita bergaul dengan orang yang disebut cantik oleh media massa atau oleh masyarakat secara umum, kalau hatinya tidak baik, maka kita tetap tidak akan nyaman.
Inti kecantikan berada di hati, bukan di bentuk fisik. Kita semua diciptakan Allah dengan bentuk fisik yang berbeda. Yang putih ada, yang gelap juga ada. Itu adalah keragaman tersendiri, yang dalam al-Qur'an dimaksudkan agar kita ta'aarafuu (saling mengenal), juga bekerjasama dalam hal-hal yang konstruktif.
Kecantikan fisik yang kita banggakan, juga sifatnya tidak lama. Satu goresan saja merusak tubuh kita akan mengurangi kecantikan itu. Atau, ketika orang sudah tidak bernyawa, apakah dia masih bisa dikatakan cantik? Misalkan, dia seorang artis atau perempuan yang banyak dikagumi sampai laki-laki rela mengorbankan apa yang dia punya untuk mendapatkan cinta sang perempuan. Kemudian, tak disangka perempuan itu meninggal. Nah, 100 lelaki yang sebelumnya masih mengagumi si perempuan dulunya, apakah ketika melihat si artis yang "tertidur" itu akan terbangkitkan nafsunya untuk memilikinya?
Boro-boro akan mendekat, membacakan do'a saja untuk si perempuan belum tentu si lelaki bisa. Makanya pernah saya mendengar betapa sedihnya seorang ayah ketika tahu anaknya tidak bisa membaca Al-Qur'an, dan tidak bisa berdo'a. Yang ada di pikiran sang ayah, "Kalau nanti saya mati trus anak saya tidak bisa berdoa untuk saya, rasanya sia-sia saja hidup saya." Dari pemikiran ini kemudian ada saja orang tua yang tersentuh hatinya untuk mengajarkan anaknya mengaji sejak dini.
Kalau anak kita (pada akhirnya) tidak bisa Bahasa Inggris (paling bagus lagi kalau bisa), itu tidak mengapa. Tapi, kalau tidak bisa mengaji, itu kesalahan. Tidak bisa Bahasa Inggris tidak akan membuat sang anak sengsara (kecuali kalau tinggal di daerah yang berbahasa Inggris). Kalau tidak bisa mengaji, tidak tahu shalat, tidak tahu hukum agama, maka do'a apa yang mau dia berikan kepada orang tuanya kalau mereka sudah tidak ada? Masyarakat kini lebih bangga anaknya bisa bahasa Inggris, bisa main gitar, piano, jadi penari, atau bisa berakting (apalagi kalau masuk tv). Sedangkan kalau anaknya tidak bisa membaca al-Qur'an dengan baik dan benar, atau anaknya tidak tahu agama, dibiarkan saja. "Agama itu kan tugasnya orang-orang dari sekolah agama!" mungkin itu yang keluar. Ini terjadi karena dunia kita yang sekuler, yang memisahkan antara urusan agama dan dunia, antara yang profan dan yang sakral.
Kita kembali ke masalah cantik. Sebuah pepatah mengatakan begini, "Bukanlah kecantikan dengan pakaian yang membaluti tubuh kita, tapi kecantikan itu adalah kecantikan ilmu dan budi pekerti." Dua hal di sini: ILMU dan BUDI PEKERTI. Seorang yang berilmu, dia akan berguna bagi masyarakat. Dengan budi pekerti dia akan sadar bahwa tidak boleh seorang anak berkata kasar sama orang tuanya seperti yang diajarkan di sinema-sinema kita. Bayangkanlah saudara, kalau suatu saat kamu memiliki anak dan dia berkata kasar kepadamu? Kamu akan berpikir pastinya, kenapa anak saya jadi begini. Saya sudah berjuang mati-matian untuk dia, saya sekolahkan dia tinggi-tinggi, tapi kenapa kelakuannya kayak begitu. Siapapun orang tua, pasti sedih kalau anaknya begitu.
Jadi, cantik itu relatif. Rajin merias diri itu bagus. Namun jangan sampai lupa pada riasan hati. Secantik-cantiknya permaisuri kalau hatinya gundah gulana, tidak ada ketenangan dalam istana, maka sungguh itu sangat menyiksa. Tapi, walau berada di gubung bambu, suka duka dilalui dengan hati yang tulus ikhlas, maka itu sudah lebih dari indahnya istana-istana para raja.
Kecantikan itu ada di dalam hati kita. Maka janganlah kita silau dengan dunia. Jangan juga kita iri melihat mereka yang kelihatan lebih cantik atau lebih gagah bagi lelaki. Mereka juga tidak pernah meminta kepada Tuhan untuk diciptakan secantik itu, begitu juga kita. Cantik yang paling baik adalah cantiknya hati dengan balutan akhlak mulia, sopan santun kepada orang tua, tidak berkata kasar. Olehnya itu, menarik juga berita beberapa waktu lalu ketika diadakan semacam kontes kecantikan di sebuah negara, tapi yang dilihat bukanlah seberapa mantab sang kontestan berlenggak lenggok di atas catwalk dengan baju yang sekenanya, akan tetapi seberapa baik dia dalam berbakti kepada kedua orang tuanya. Lebih cantik dari sekedar di panggung, bukan? []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar