Bertanya pada Ahli Dzikir (5)


Al Anbiya 7

Dua orang siswi duduk santai di depan sebuah gawang kecil berwarna putih-oranye. Mereka baru saja bermain bola kaki dengan beberapa siswi lainnya. Pakai jilbab, kaos panjang, dan celana training.

Tak jauh dari situ beberapa siswa juga sedang duduk santai setelah setelah bermain bola. Ini pemandangan pertama saat kami memasuki Senior Campus Australian International Academy (AIA) yang terletak di 56 Bakers Road, North Coburg. Kata Rowan Gould, Coburg adalah salah satu kawasan yang banyak dihuni imigran muslim dari Timur Tengah. Mengutip Abdullah Saeed (2003) dalam Islam in Australia, untuk Melbourne komunitas Islam juga dapat ditemukan di Meadow Heights, Reservoir, Dallas, dan Noble Park.

Melihat jadwal, kami rencana bertemu dengan Abdul Karim Galea, pimpinan Kampus AIC Melbourne, akan tetapi karena beliau berhalangan, kami bertemu beberapa menit dengan pendiri sekolah ini, Mr. Salah Salman. Sertifikat yang dipajang di dinding kantor menjelaskan bahwa sekolah ini memiliki nomor registrasi 1874 dan terdaftar di Victoria pada 28 Maret 1983.

Kami juga bertemu dan mendengarkan penjelaskan aktivitas sekolah mulai dari visi misi hingga kurikulum sekolah yang dibawakan oleh salah seorang guru. Kata beliau, “kepada anak didiknya, sekolah ini mempromosikan konsep peace, harmony, dan understanding.” Konsep ini lahir dari pemikiran bahwa manusia diciptakan berbeda-beda. Tidak ada yang sama persis dalam pemikiran dan aktivitas. Untuk itu maka diperlukan kerjasama. Hidup yang damai, harmoni, dan saling memahami adalah bagian dari nilai-nilai orang Australia (Australian Values) yang menjadi pegangan para warga negara dan menjadi bagian dari kurikulum pendidikannya.

“Luaran yang ingin dicapai agar tiap murid dapat berkontribusi pada pembangunan masyarakatnya dimanapsun mereka berada,” kata ibu presenter.

Ia juga menjelaskan tentang kombinasi kurikulum Eropa dan Islam sebagai berikut,

“The AIA’s educational programme is well balanced between a secular Western European curriculum and an Islamic curriculum. Students are taught to be proud of their cultural identity. The basic language of instruction for all subjects is English. The Arabic language and Religious Studies are taught at all levels..”

Nilai-nilai ketakwaan (God Consciousness), kepedulian (Care), kejujuran (Honesty), integritas (Integrity), penghormatan kepada orang lain (Recpect to others), tanggungjawab (Responsibility), adalah beberapa nilai yang diajarkan di sekolah ini. Penjabaran nilai-nilai ini diharapkan tidak hanya berlaku bagi pribadi—atau yang bisa diistilahkan di Indonesia sebagai ‘kesalehan pribadi’—tapi juga pada sosial—atau ‘kesalehan sosial’. Dengan demikian maka seorang siswa tidak hanya dipersiapkan untuk menjadi orang baik secara personal, tapi juga mampu menjadi solusi problematika masyarakat.

Saat sesi tanya-jawab saya bertanya tentang adakah sistem pembelajaran penulis untuk mencetak para penulis dari sekolah ini. Ibu presenter menjawab bahwa mereka memiliki majalah yang di majalah itu para siswa dapat menulis artikel, puisi, esai, atau karya fotografi. Ada tutor khusus untuk itu. Namun, kata beliau, minat menulis ini dikembalikan kepada minat tiap anak. “By attending the Australian International Academy, all students can benefit in their spiritual and academic development while growing in self-esteem, in a caring educational and multicultural environment,” kata beliau lagi. Jadi, kombinasi cerdas spiritual, akademik, serta percaya diri siswa dibentuk di sini dalam lingkungan Islami. Walaupun ada beberapa siswa dan staf yang non-Muslim, tapi etos keislaman tetap terjaga di sekolah ini.

Setelah berdialog, kami berkeliling lihat-lihat kampus, masuk ke kelas dan perpustakaan. Di perpustakaan, saya melihat Al Quran terjemahan Abdullah Yusuf Ali, dan beberapa buku berjudul: Encyclopedia of World History (editor: Professor Jeremy Black), The A-Z of Great Writers (Tom Payne), The Oxford Children’s Illustrated Encyclopedia, The Oxford Children’s Book of Famous People, The Animal Kingdom, The Macquarie Thesaurus, Chronicle of the 20th Century, Atlas of the World, jejeran buku Encyclopedia Britannica, dan sejarah Australia.   

Dinding-dindingnya ada banyak tulisan di mading, jadinya sekolah lebih hidup. Kreativitas siswa juga diutamakan oleh sekolah. Pada salah satu mading, di kertas HVS, ada gambar Batman dengan empat gedung tinggi. Tertulis di situ, “Be the hero, stop bullying”, karangan Hamza Moeladawilah.
Di mading lainnya, ada duapuluhdua gambar kepala dan tertulis,“Who am i?”  Siapakah saya? Sebuah pertanyaan yang sejak zaman purba, Socrates, Plato, dan Aristoteles; Ibnu Rushd dan Al Ghazali, hingga para filsuf seperti Descartes, St Takdir Alisyahbana dan Sidi Galazba. Mereka berpikir-pikir, merenung-renung, berceramah dan beberapa menulis tentang apa yang diyakininya benar tentang diri manusia. 
Description: C:\Users\user\Desktop\MEP 2015\Foto MEP\19 March 2015 Meeting with AIA, EIC, tour of St Partick's Catholic Cathedral, & Dinner with AMWCHR\P_20150319_122039.jpg
Dinding Who am i?

“Act locally, think globally,” juga ada terpajang di dinding sekolah. Waktu kuliah di FISIP Unhas, saya hafalnya terbalik: Think globally, act locally. Berpikir global, bertindak lokal.
Dan, yang cukup menarik juga bagi saya adalah sebuah ayat surat Al Anbiya ayat 7, “…so ask the people ho have the knowledge (dhikr) if do not know.”  Fas-alu ahladzdzikri in kuntum la ta’lamun. Bertanyalah kepada ahli zikir, jika kalian tidak mengetahui.

Umumnya kita membedakan antara zikir (dhikr) untuk ‘berzikir’ dan fikir (fikr) untuk ‘berfikir’ mengikut pada ayat tentang ulul albab yang punya dua sifat: berzikir dan berfikir. Namun pada terjemahan versi Inggris ini ditulis ahlul dzikr (ahli zikir) dengan ‘people who have the knowledge’. Knowledge umumnya diartikan sebagai pengetahuan yang dihasilkan dari observasi atau aktivitas penggunaan akal untuk berpikir. Tapi, apakah aktivitas berpikir itu murni kerja akal, bukan kerja hati? Inilah yang sampai sekarang masih perlu kajian lebih dalam terutama kajian tentang konsep ‘aql, fikr, dzikr, dan seterusnya.

Dari Wellington ke Katedral

Setelah makan siang nasi lemak Al House, kami meluncur ke Katedral St Patricks. Sebelumnya itu kami menunaikan salat dzuhur-ashar di Masjid Albanian Australian Islamic Society (AAIS) yang berdiri sejak 1969 di 765 Drummond Street.

Di Katedral kami berdialog dengan tokoh Kristen yang tergabung dalam Ecumenical and Interfaith Commission (EIC), seperti David Schutz, Associate Professor Nasir Butrous, Fr Nick de Groot SVD, Herman Roborg, Elizabeth Hariyanti, dan seorang lagi. Kami dijamu dengan baik oleh David Shutz. Di ruang Wellington, David menjelaskan bahwa di Australia Katedral ini memiliki 26 local church. Mereka juga mengadakan dialog dengan berbagai agama seperti Yahudi, Islam, Hidu, Sikh, Bahai, dan seterusnya. Diskusi tentang dialog antar agama menjadi agenda penting dalam pertemuan ini. Pentingnya dialog dirasakan oleh peserta yang hadir. Dengan dialog maka kita akan saling tahu apa keinginan masing-masing orang atau kelompok. Isu 9/11 sampai konflik Timur Tengah yang lebih banyak disebabkan karena politik juga dibahas.

Setelah dialog kami tour ke Katedral melihat simbol-simbol, tata-cara ibadah, dan kehidupan yang dipahami orang Kristen. Di luar Katedral banyak terlihat patung, dan di dalamnya ada tempat menaruh lilin, ruangan pengakuan dosa, dan kursi-kursi panjang sebagaimana yang kita lihat pada gambar-gambar gereja.

Kepada salah seorang pastur, saya bertanya tentang pilihannya untuk tidak menikah. Katanya, ini panggilan jiwa. Awalnya beliau pernah suka kepada lawan jenis, tapi semakin ia mendalami ajaran Kristen, ia merasakan bahwa fungsi hidupnya adalah untuk melayani Tuhan. Maka ia terus mengikuti pendidikan kepasturan, dibimbing hingga mencapai tingkat yang benar-benar baik dan dapat memberikan pelayanan kepada umatnya. Mereka yang berbuat dosa datang padanya meminta pendapat dan minta didoakan agar diampuni oleh Tuhan. Perantaraan doa dari pastur dipercayai baik untuk membersihkan dosa-dosa. 
Description: D:\Foto Ausi\WhatsApp Images\IMG-20150319-WA0054.jpg
Foto bersama EIC di depan Katedral St. Patrick’s

Bertemu Aktivis Muslimat
Kami makan malam dengan para aktivis wanita muslim yang tergabung dalam Australian Muslim Women’s Centre for Human Rights (WMCHR). Tempatnya di Dean’s CafĂ©, 1/901 High Street, Thornbury. Di sini ada Tasneem Chopra, Rasheeda Cooper, dan beberapa aktivis lainnya.
Lembaga WMCHR awalnya berdiri pada 1991 dengan nama Women’s Welfare Council of Victoria, yang didirikan oleh wanita muslim untuk para wanita muslim. Pada tahun 2012, lembaga ini berganti nama dengan Australian Muslim Women’s Centre for Human Rights (WMCHR).

Secara umum, dinner hari ini diskusinya lebih banyak antara sesama wanita. Di sela-sela ngobrol, kami bertukar kartu nama, cenderamata. Kami diberikan beberapa buku hasil penelitian dan informasi kegiatan lembaga ini yang mendapatkan support dari lembaga pemerintah. Salah satu yang saya dapatkan adalah sebuah hasil penelitian berjudul Introduction to Muslim Diversity: Alawite & Alevi Traditions (2014) profile lembaga WMCHR. *

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berbagi dengan Orang Aceh

Kuliah, Kerja, dan Pencarian Kebahagiaan

Kenapa Menulis buku Buya Hamka?