Minggu, 21 Juni 2015

Banyak Kebaikan Banyak Teman



BERBUAT baik itu wajib. Kita diperintahkan Allah untuk berbuat baik pada diri kita, keluarga kita, teman kita, bahkan orang yang belum kita kenal sekalipun. Berbuat baik adalah salah satu hukum alam semesta kehidupan. Siapa yang banyak berbuat baik niscaya kebaikan itu akan kembali kepada dirinya sendiri. Siapa yang banyak investasi, banyak pula kesempatannya untuk punya teman.
Jika mau dapat teman yang banyak, mulailah berbuat baik. Jangan menunggu aksi dari orang lain. Mulailah beraksi, berbuat baik! Karena sungguh itulah sarana paling baik untuk keluar dari masalah yang mendera kita. Berbuat baik mendatangkan kebahagiaan dan ketenangan.
"Berusahalah untuk selalu menjadi pihak pertama yang menunjukkan cinta dan perhatian Anda kepada orang lain. Jangan menuntut perhatian dan cinta mereka untuk diperlihatkan lebih dahulu. Itulah satu-satunya cara yang saya ketahui untuk ke luar dari kegelapan hidup," demikian kata Eunice Chew (52 tahun), salah satu finalis pemilihan ibu teladan se-Singapura.
Nabi Muhammad Saw pernah bersabda:
"Sesungguhnya ahli kebajikan di dunia akan menjadi ahli kebajikan pula kelak di akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang paling awal masuk surga adalah ahli kebajikan."
Kebaikan yang kita tebarkan selalu akan membuahkan keberuntungan. Lihatlah permisalan shadaqah yang diumpamakan seperti benih yang menumbuhkan 7 tangkai, di tiap tangkainya ada 100 benih lagi, lihatlah! Begitulah Allah melipatgandakan kebaikan yang kita perbuat. Itu baru satu hari sedekah, jika tiap hari bersedekah, berbuat baik kepada teman, maka berapakah kelipatannya?
Dari Al-Fudhail bin Iyadh, ia berkata:
“Seorang laki-laki menceritakan kepadaku: ‘Ada laki-laki yang keluar membawa benang tenun, lalu ia menjualnya satu dirham untuk membeli tepung. Ketika pulang, ia melewati dua orang laki-laki yang masing-masing menjambak kepala kawannya.
Ia lalu bertanya, “Ada apa?”
Orang pun memberitahunya bahwa keduanya bertengkar karena uang satu dirham. Maka, ia berikan uang satu dirham kepada keduanya, dan iapun tak memiliki sesuatu.
Ia lalu mendatangi isterinya seraya mengabarkan apa yang telah terjadi. Sang istri lalu mengumpulkan perkakas rumah tangga. Laki-laki itu pun berangkat kembali untuk menggadaikannya, tetapi barang-barang itu tidak laku. Tiba-tiba kemudian ia berpapasan dengan laki-laki yang membawa ikan yang menebar bau busuk.
Orang itu lalu berkata kepadanya, “Engkau membawa sesuatu yang tidak laku, demikian pula dengan yang saya bawa. Apakah Anda mau menukarnya dengan barang (daganganku)?”
Ia pun mengiyakan. Ikan itu pun dibawanya pulang. Kepada istrinya ia berkata, “Dindaku, segeralah urus (masak) ikan ini, kita hampir tak berdaya karena lapar!”
Maka sang istri segera mengurus ikan tersebut. Lalu dibelahnya perut ikan tersebut. Tiba-tiba sebuah mutiara keluar dari perut ikan tersebut.
Dengan gembira, wanita itu berkata, “Suamiku, dari perut ikan ini keluar sesuatu yang lebih kecil daripada telur ayam, ia hampir sebesar telur burung dara.”
Suaminya berkata, “Perlihatkanlah kepadaku!” Maka ia melihat sesuatu yang tak pernah dilihatnya sepanjang hidupnya. Pikirannya melayang, hatinya berdebar. Ia lalu berkata kepada istrinya, “Tahukah engkau berapa nilai mutiara ini?”
“Tidak, tetapi aku mengetahui siapa orang yang pintar dalam hal ini,” jawab istrinya. Ia lalu mengambil mutiara itu. Ia segera pergi ke tempat para penjual mutiara. Ia menghampiri kawannya yang ahli di bidang mutiara. Ia mengucapkan salam kepadanya, sang kawan pun menjawab salamnya. Selanjutnya ia berbicara kepadanya seraya mengeluarkan sesuatu sebesar telur burung dara. Tahukah Anda, berapa nilai ini? ia bertanya.
Kawannya memperhatikan barang itu begitu lama, baru kemudian ia berkata:
Aku menghargainya 40 ribu. Jika Anda mau, uang itu akan kubayar kontan sekarang juga kepadamu. Tapi jika Anda menginginkan harga lebih tinggi, pergilah kepada si fulan, dia akan memberimu harga lebih tinggi dariku.”
Maka ia pun pergi kepadanya. Orang itu memperhatikan barang tersebut dan mengakui keelokannya. Ia kemudian berkata, Aku hargai barang itu 80 ribu. Jika Anda menginginkan harga lebih tinggi, pergilah kepada si fulan, saya kira dia akan memberi harga lebih tinggi dariku.”
Segera ia bergegas menuju kepadanya. Orang itu berkata, Aku hargai barang itu 120 ribu. Dan saya kira, tidak ada orang yang berani menambah sedikit pun dari harga itu!
Ya, ia pun setuju. Lalu harta itu ditimbangnya. Maka pada hari itu, ia membawa dua belas kantung uang. Pada masing-masingnya terdapat 10.000 dirham. Uang itu pun ia bawa ke rumahnya untuk disimpan.
Tiba-tiba di pintu rumahnya ada seorang fakir yang meminta-minta. Maka ia berkata, Saya punya kisah, karena itu masuklah.” Orang itu pun masuk. Ia berkata, Ambillah separuh dari hartaku ini. Maka, orang fakir itu mengambil enam kantung uang dan dibawanya.
Setelah agak menjauh, ia kembali lagi seraya berkata:
Sebenarnya aku bukanlah orang miskin atau fakir, tetapi Allah Ta'ala telah mengutusku kepadamu, yakni Dzat yang telah mengganti satu dirhammu dengan 20 qirath. Dan ini yang diberikan-Nya kepadamu adalah baru satu qirath daripada-Nya, dan Dia menyimpan untukmu 19 qirath yang lain.
Subhanallah, orang yang banyak baiknya, banyak kawannya. Orang yang banyak baiknya juga akan banyak rezekinya. Asal kita yakin, bahwa semua rezeki dari Allah dengan terus berbuat baik, insya Allah rezeki akan datang juga. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagi dengan Orang Aceh

Berbagi dengan FLP Aceh Setelah berakhirnya Munas IV FLP, saya diminta oleh beberapa kawan FLP Aceh untuk sharing pengalaman. Sejak iku...