Minggu, 21 Juni 2015

Agar Nggak Sesat



ADA satu pertanyaan mendasar: kenapa para pakar Islamic Studies (Kajian Islam) yang menguasai banyak ajaran Islam tidak juga masuk Islam? Atau, dalam kata lain, kenapa mereka-mereka yang ilmunya banyak, mereka tahu Bahasa Arab, ilmu keislaman, paling shahih membicarakan Islam ketimbang orang Islam sendiri, mengakui kebenaran Islam tapi tidak masuk Islam?
Pertanyaan ini terlontar dari Dr. Adnin Armas, salah seorang cendekiawan muda lulusan salah satu kampus di negeri jiran Malaysia. Berarti, ada yang salah di situ. Apakah salah dalam artian niatnya salah, ataukah perkara hidayah yang nggak juga datang pada dia. Atau, juga karena gengsi untuk masuk ke dalam ajaran Islam.
Menurut Adnin Armas yang aktif di lembaga pemikiran Islam Insists itu, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam menuntut ilmu agar pemikiran kita tetap selamat. Di bawah ini penjabarkan pointer intinya dalam bahasa saya sendiri.
SATU: Guru. Kita perlu mencari guru yang benar. Guru yang benar akan membawa kita pada kebenaran. Dalam tradisi Islam, guru menjadi salah satu unsur penting dalam proses mencari ilmu. Termasuk dalam hal ini adalah bagaimana keseharian sang guru. Itulah mengapa dalam ilmu hadits juga perlu diteliti perihal siapa perawinya. Karena perawi yang suka bohong atau pernah berbohong punya kemungkinan untuk berbohong juga dalam hadits.
Guru yang benar ini perlu kita cari. Tapi, bagaimana kalau kita belajar di tempat yang gurunya itu boleh disebut "nggak bener"—apakah secara akidah atau kesehariannya? Untuk kasus ini, kita perlu lebih selektif dan kritis dalam mencerna apa yang dikatakan oleh sang guru. Memang hikmah itu bisa ada dimana saja, tapi tetap kita nggak boleh asal ambil saja, kita harus kritis, ambil yang baik dan tinggalkan yang buruk.
DUA: Buku. Bacaan yang baik akan membawa kita pada kebaikan juga. Untuk belajar Islam kita perlu biasakan membaca buku yang bermutu, bukan yang "berkutu". Buku yang bermutu membawa kita pada mutu juga tentunya. Tapi buku yang "berkutu" membawa kita pada kesesatan dalam berpikir. Kalau sudah sesat dalam berpikir, maka kita akan menganggap apa yang kita lakukan itu benar, padahal itu salah.
Kita akan menganggap minum khamr itu boleh, padahal dalam Islam telah jelas keharamannya. Kita akan menganggap lesbian dan gay itu boleh, padahal itu nggak benar dalam Islam. Kita akan merasa benar, padahal rujukan kita ada penyimpangannya.
Memilih buku yang bermutu juga nggak bisa dipisahkan dari penulisnya. Kalau baca bukunya Hamka, setidaknya akidah dan keseharian kita lebih aman. Walau Hamka juga punya kekurangan dan kesalahan, tapi kita lebih aman karena faktor Hamka banyak yang menerimanya. Ia dianggap netral dan disenangi banyak kalangan.
TIGA: Lingkungan. Kita perlu lingkungan yang kondusif untuk belajar. Artinya ilmu yang kita punya kan sebenarnya bukan hanya untuk diri kita, bukan hanya untuk jadi pengetahuan belaka. Kita ingin ilmu itu bisa kita aplikasikan dalam realitas keseharian kita. Maka itu, teman, atau lingkungan sepermainan turut menentukan juga.
Kita perlu mencari lingkungan yang baik agar ilmu kita juga baik. Karena kalau lingkungan kita nggak baik sedangkan kepribadian kita masih suka goyah, bisa-bisa juga tambah jauh, dan jauh dari pengamalan ajaran Islam.
Tiga hal di atas adalah panduan singkat saja bagaimana agar dalam menuntut ilmu kita menjadi selamat dan dijauhkan dari sesat pikir dan gerak, baik yang disengaja maupun tidak disengaja. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar