Rabu, 24 Juni 2015

Jalan Adan di Ramadhan

Adan waktu sehat
Saat sedang di kelas pada sebuah pagi menjelang siang, sebuah telepon masuk ke ponselku. Dari Usda, relawan Lingkar Donor Makassar yang hobbi membantu pasien rumah sakit yang butuh darah. Kata Usda, "Kak, Fajri meninggal tadi subuh." Saya pun segera menghubungi Yani, relawan Sedekah Rombongan Makassar--yang ditugaskan menangani Fajri--untuk meluncur ke lokasi dan jika memungkinkan membawa bantuan dari SR.

Cerita dari Sebuah Helm

Kali pertama bertemu Adan dan bapaknya
Suatu waktu, saat hendak ke kampus, seorang anak kecil menggunakan helm lewat depan kosan saya di Jalan Salim Fabanyo, Tanah Raja, Kota Ternate. Saya heran, kok siang-siang ini ada anak yang pakai helm sampai helm-nya itu tidak dilepas ketika mau masuk ke kamar tetangga. Sekilas saya lihat, ada sesuatu di mata kirinya. Berbeda sekali dengan mata biasa. Ingin segera bertanya, saya malu dan takut orang lain--atau keluarga dekatnya tersinggung.

Akhirnya, lewat istriku saya tahu bahwa Fajri atau yang biasa disapa Adan sakit tumor mata.

"Terus, pengobatannya gimana sekarang?" tanya saya.

Kata istri saya, ia sudah berobat di dokter di sini, tapi kayaknya butuh dirujuk ke Makassar.

Dengan segera saya bertemu Ecy Fabanyo, keluarga Adan yang juga tetangga saya dan mengutarakan bahwa saya berniat untuk membantu. Paling tidak sekecil apapun kita perlu sama-sama membantu untuk kesembuhan anak ini. "Masa depannya masih panjang," kata saya dalam hati.

Adan pertama kali saya foto tahun 2013 di rumahnya
Siang itu, sepulang dari kampus--biasanya saya pulang sore atau malam--saya meluncur ke rumah Fajri di Soa-Sio. Rumahnya lumayan bagus, karena sudah diperbaiki oleh pemerintah lewat program Barifola yang digagas Walikota Ternate Burhan Abdurahman. Bertemu dengan Asyad atau yang biasa disapa dengan Ad, ayah Fajri. Saya mengutarakan niat untuk membantu. Dengan tangan terbuka ia menyatakan iya. Saya pun foto-foto beberapa dokumen pendukung, hasil dokter, termasuk foto Fajri. Ketika saya foto itu, memang dari dekat saya lihat biji matanya menonjol keluar, dan di sekeliling mata kirinya itu bengkak. Selanjutnya, foto ini kemudian dipakai oleh beberapa relawan pencari dana, baik di Ternate, Makassar, Jogja, atau di Jakarta.

Sebuah figura terpajang di dinding rumahnya, anak kecil berkostum tentara di belakangnya ada helikopter. Saya pikir, mungkin ia sangat diharapkan kelak menjadi aparat tentara di negeri ini sehingga sejak dini orang tuanya telah memberikan sugesti lewat foto yang terpajang di dinding.

Saya pun buat proposal kecil berjudul "Bantuan operasi mata." Saya kirim ke berbagai lembaga, umumnya di luar Ternate; lembaga-lembaga zakat, lembaga sosial, hingga bank-bank yang saya pikir ada bantuan sosialnya. Tidak banyak yang merespon, mungkin hanya 1 persen dari belasan lembaga yang saya kirimkan itu merespon. Dari Jakarta. Mereka sangat ingin membantu sampai selesai, akan tetapi guna administrasi mereka butuh estimasi anggaran (seluruhnya) yang dikeluarkan oleh rumah sakit secara resmi. Sedangkan yang saya kirimkan--sekitar puluhan juta--barulah perkiraan kasar saja. Ketika di Makassar, bersama Fajri, bapaknya, dan neneknya, saya pun bertanya tentang estimasi itu, tapi memang agak sulit, karena sakit tumor mata jenis retino blastoma ini memakan waktu lama dan biayanya tidak bisa diprediksi. Akhirnya karena tidak dapat rincian itu, saya pikir, mungkin bukan rezekinya.
Ketika matanya hendak dibersihkan

Lewat beberapa mahasiswa, proposal saya berikan. Beberapa aktivis LDK, KAMMI, dan beberapa lainnya menghubungi kawan-kawannya, termasuk di kota selain Ternate. Mereka berpanas-panasan di jalan raya, di tikungan jalan membawa poster Fajri. Terlihat mereka begitu tulus membantu saudaranya--sesuatu yang menurut saya sangat baik dan luar biasa. Bersyukurlah saya ternyata banyak dari anak muda kita yang peduli pada sesama. Dana yang terkumpul mereka kirim ke rekening saya secara bertahap. Ada yang kirim 18juta, 6juta, dan seterusnya. Belum lagi ditambah teman-teman Facebook saya, baik di Indonesia maupun luar negeri, yang dengan sukarela membantu. Mereka walaupun sedang studi (dan pastinya butuh uang), mereka tetap mau bantu. Tapi sayang data-data saya itu ada di Tobelo, rumah saya sekarang dan tidak bisa dihadirkan di sini. Perkiraan total uang masuk di saya untuk pengobatan Fajri sekitar 30 juta. Itu baru dari saya, belum lagi dana yang sebelumnya digalang oleh Milanisti--penggemar AC Milan di Ternate--yang terkumpul lebih dari 20 juta, menurut Izar salah seorang relawannya. Teriring doa semoga semua amal para donatur mendapatkan pahala terbaik di sisi Allah swt, amin.

Berangkat ke Tamalanrea

Adan main game
Dengan uang yang seadanya saya pesankan tiket untuk Fajri, bapaknya, neneknya, dan saya ke Makassar. Saya pikir di Makassar nanti bapaknya Fajri dan neneknya bisa saling-bantu jaga Fajri (selanjutnya Nana, kenalan bapaknya, sangat banyak bantuannya dalam merawat Adan). Ketika di Makassar, subhanallah, akhirnya datang bantuan dari banyak pihak--yang jumlahnya lebih 30 juta itu. Untuk memudahkan transport, sering kali kita naik taksi. Juga, saya ajak ke tempat makan yang relatif enak di Tamalanrea. Semata agar perasaannya lebih santai, rileks, keluarganya juga merasa tidak berat, yang itu berpengaruh bagi kesembuhannya.


Beberapa hari di Makassar, saya harus kembali ke Ternate karena urusan kampus yang belum selesai. Belum lagi ditambah deadline yang datang silih-berganti. Saya pun kembali ke Ternate, dan di Makassar Fajri dibantu pula oleh mahasiswa asal Ternate yang tinggal di salah satu BTN di Tamalanrea.

Setelah cek dokter
Hingga suatu saat, saya dengar kabar katanya Fajri sudah kembali ke Ternate. Saya pikir mungkin sudah selesai kemoterapi-nya. Tapi ternyata belum, masih rawat jalan. Menurut dokter mata, kemo ini butuh 16 siklus, dan itu tidak boleh terputus. Kalau terputus, akan berpengaruh pada tubuhnya. Ketika di Ternate itu memang matanya terlihat membaik, tapi bukan berarti di dalam sel-sel kanker-nya sudah mati.

Keputusan kembali ke Ternate diambil oleh keluarga Fajri karena biaya di Makassar memang cukup besar. Walau pakai Jamkesmas, tapi biaya obat yang tidak tersedia di rumah sakit dan biaya sehari-hari juga harus dipertimbangkan. Akhirnya bapaknya berpikir kembali sementara ke Ternate untuk cari uang lagi. Bapaknya sebelumnya berprofesi sebagai ojek, dan juga penjual batu bacan di sekitar Salero, tak jauh dari istana Kesultanan Ternate dan Hypermart.



Petikan-Petikan Hikmah

Terakhir saya jenguk Adan di Daya, Makassar
Dalam proses perkenalan pada tahun 2013 hingga wafatnya Fajri pada tahun 2015, saya mendapati banyak sekali hikmah. Pertama, jika kita tersentuh untuk membantu orang lain, maka kita harus segera bantu. Jangan tunda lama-lama, karena kesempatan berbuat baik bisa jadi hanya diberikan satu kali. Terkadang memang kita akan bahkan harus berkorban untuk itu, tapi yakinlah bahwa tak ada kebaikan yang sia-sia. Toh apa yang kita dapat hari ini juga berkat pengorbanan orang lain. Kita menjadi diri kita yang sekarang karena begitu banyak orang yang telah memberikan sumbangsih terbaiknya, sekecil apapun itu. Artinya bahwa, kalau kita ada juga karena orang lain maka kebutuhan orang tetap harus kita jaga, dan kita bantu.


Kedua, selalu ada orang baik yang siap membantu. Ketika memulai dengan cerita dari mulut ke mulut dan sebuah informasi di proposal, lama-lama bertambah barisan orang yang siap membantu. Angka 30 juta yang terkumpul waktu itu adalah angka yang lumayan untuk ukuran cari dana bukan dari pemerintah. Masyarakat kita sejatinya tipe masyarakat yang rajin memberi, apalagi untuk hal-hal yang sangat penting dan menyentuh sisi kemanusiaan mereka. Ini juga, di sisi lain menjadi tanda bahwa potensi zakat kita begitu besar di negeri ini yang jika dikelola secara baik akan menghasilkan distribusi keadilan yang baik pula.

Ketiga, sekuat usaha kita, tetaplah semua berada di takdir Allah. Kita ingin orang lain sehat, dan kita mati-matian untuk itu, tapi semuanya kembali kepada Allah. Allah saja yang menentukan kapan seseorang lahir dan kapan seseorang tiada. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sebagai manusia tentu saja kita tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Kita harus terus berusaha sampai pada titik dimana usaha kita sudah sangat maksimal. Usaha untuk memberikan yang terbaik, bermanfaat bagi orang lain sejalan sekali dengan sabda Rasul yang sangat populer, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Sebuah figura di dinding
Akhirnya, saya hanya bisa berdoa kepada Fajri, semoga beliau mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah swt. Terakhir ia sempat meminta coklat, karena ia suka sekali. Ketika saya harus menetap di Bandung, saya telepon istriku untuk luangkan waktu bertemu Fajri dan bawakan ia coklat. Ketika mendapat coklat, kata istri saya, wajahnya langsung cerah dan senang sekali.

Sebuah figura di dinding rumahnya mungkin akan tetap di situ sampai kapanpun. Sebuah harapan dari orangtua, agar kelak anaknya mungkin bisa menjadi salah seorang aparat penjaga keamanan negeri ini dari berbagai ancaman. Sebuah sugesti, sekaligus mengandung harapan.

Fajri atau Adan yang lahir di fajar Ramadhan, kini telah berpulang di bulan Ramadhan pula, tak lama setelah azan subuh berkumandang membangunkan orang-orang untuk menggapai kemenangan.  

Rabbigfirlahu warhamhu wa afihi wa'fu 'anhu.

Selasa, 23 Juni 2015

Kisah Opal Stone untuk Pak Dubes (20)

Mr. Paul Grigson

Orang Aborigin punya cerita tentang warna-warni pada batu Opal. Konon, ketika pelangi muncul, warna-warni pada pelangi itu kemudian masuk ke dalam batu Opal sehingga warna batu itu bervariasi. Terkait dengan ini, kehidupan multikultural masyarakat Australia juga tidak lepas dari warna-warni pada batu Opal-nya Aborigin. 

Saat kami tiba di Jakarta tanggal 29 Maret, besoknya tanggal 30 kami bertemu Dubes Australia untuk Indonesia Mr. Paul Grigson. Grigson adalah pejabat karir senior di DFAT. Sebelumnya pernah bekerja di Pakistan dan Afghanistan dan sebagai Dubes untuk Thailand, dan Burma. Grigson juga adalah Sarjana Sastra dari The Australian National University (ANU) yang mahir berbahasa Perancis.

Setelah beliau memberikan beberapa pendapatnya tentang program MEP yang baru saja kami lalui, tentang pentingnya hubungan antar kedua negara, Indonesia dan Australia, kami dipersilahkan memberikan pesan dan kesan kepada beliau. 

Ketika tiba giliran saya, saya menyampaikan sebuah pesan multikultural dari batu Opal yang dipercayai orang Aborigin sebagai saya tulis di atas. Indonesia dan Australia memang tidak bisa pernah hidup sendiri. Sudat dikodratkan kita untuk bertetangga. Maka, kebutuhan untuk menjadi tetangga yang rukun satu sama lain terasa penting dan mendesak. 

Adapun perjalanan kami mengikuti program MEP ini adalah bagian dari ikhtiar untuk saling kunjung-mengunjungi, saling cerita, saling berbagi untuk kemaslahatan bersama. Memang, di Indonesia kerap ada persepsi negatif ketika seseorang atau kelompok berhubungan dengan orang asing, akan tetapi jika direnungkan lebih jauh, kita semua pada dasarnya sama. Semua kita, apakah yang berkulit putih atau berwarna, sama-sama manusia. Takdir menjadikan kita berbeda, akan tetapi perbedaan warna dan sejarah itu tidaklah menjadikan kita saling jauh menjauhkan, tetapi harusnya saling dekat-mendekatkan. Jika dilihat dalam perspektif Islam, agama ini juga datang untuk mendekati, bukan menjauhi. Ketika banyak orang belum beragama, Islam hadir, mendekati, dan memberikan perspektifnya tentang dunia, tentang tauhid. 

Apa yang kami baru saja lalui selama dua minggu ini, tentu saja memiliki nilai positif untuk mendekatkan antar kedua negara. Kami bertemu dengan berbagai kalangan di Australia, dari Islam, Kristen, dan berbagai agama dan kepercayaan lainnya. Semua untuk saling mengenal, saling mengerti, dan saling bekerjasama. Dalam urusan kepercayaan, tiap orang memiliki hak asasi untuk memeluk kepercayaannya, akan tetapi dalam hal kemanusiaan, kita bisa bekerjasama.

Teman-teman saya--Ahmad Saifulloh, Hindu Anisah, Siti dan Lenni Lestari--juga memberikan kesannya selama ikut MEP. Secara umum, kesan teman-teman adalah positif. Sebagai tambahan, kami juga mendapatkan pelayanan yang baik dalam program ini. Kecuali mungkin satu hal, yaitu sulitnya menemukan waktu untuk salat berjamaah di masjid, karena tidak banyak masjid di Australia, dan waktu yang telah ditentukan untuk kami memang cukup padat. Akhirnya, salat berjamaah kami lakukan hanya beberapa orang.

Setelah bertemu Dubes, masing-masing kami juga diwawancarai kesan-kesan selama di Australia dan divideo sebagaimana sebelum berangkat. Video ini nanti jadi dokumen MEP. 

Akhirnya, perjalanan MEP 2015 ini merupakan sebuah pengalaman baru bagi saya. Sejak pertama berangkat, saya telah bertekad dalam hati semoga perjalanan ini menghasilkan kebaikan untuk diriku, untuk keluargaku, untuk daerahku, umat agama, dan untuk Indonesia secara umum. *

Kembali ke Jakarta (19)

Jakarta


Tak terasa sudah dua minggu kami di Australia. Berbagai kegiatan pun telah selesia. Kini saatnya untuk kembali ke Jakarta. Segala persiapan pulang sudah kami tuntaskan, termasuk memperkirakan berat oleh-oleh agar tidak over bagasi. Oleh-oleh dari Melbourne dan Sydney juga sudah kami beli untuk dibagi ke keluarga, rekan-rekan, atau kenalan.
Kembali ke Jakarta memberikan kita inspirasi untuk Indonesia, paling minimal untuk daerah atau komunitas kita masing-masing. Etos hidup positif harus ada dalam diri kita. Kita belajar hal positif dari Australia, namun tetap kita menghargai budaya kita sendiri. Mengambil yang baik dari negeri orang itu penting, untuk kemudian kita bawa bagi kemajuan daerah kita sendiri.

Kembali ke Jakarta siang hari kita lihat gunung-gunung Australia. Berbeda dengan kali pertama kali ke Sydney malam hari. Malam hari kami tidak bisa lihat apa-apa, apalagi duduknya di kursi bagian tengah. Saya duduk di bagian pinggir dan dapat menikmati padang tak berpenghuni manusia dari atas.

Program MEP 2015 telah mengantarkan saya menjelajahi Australia. Saya pikir ini kegiatan yang bagus, dan harus tetap dipertahankan. Kita berharap hubungan tetangga antara Indonesia dan Australia ini tetap terjaga. Jika ada konflik, harapannya bisa segera mereda, agar banyak hal positif bisa berjalan. Konflik politik terkadang membuat kegiatan jadi terganggu. Maka kedua negara harus sama-sama bangkit kembali, saling menghargai, dan bersama-sama menciptakan kehidupan di atas bumi dalam damai dan bahagia. *

Citadines, Darling Towers, Medina, dan Meriton (18)



Selain menariknya Australia, saya rasa beberapa apartment yang kami tempat juga menarik untuk ditulis. Sebelum dan sepulang dari Australia, di Jakarta kami menginap di Citadines. Di situ per harinya sekitar Rp. 1.200.000 harga korporat. Biaya kami ditanggung oleh Kedutaan Australia. Kami diberikan dua kamar; saya bersama Ahmad Saifulloh, dan satu lagi tiga rekan kami yang perempuan.
Meriton Apartment, Sydney
Selama di Melbourne, kami menginap di Darling Towers yang terletak di 233 Collins Street, Melbourne. Apartment ini dilengkapi dengan dapur, tempat cuci baju, cuci piring, AC, dan televisi. Adapun masalahnya bagi saya adalah kamar mandi. Ini berbeda dengan di Indonesia. tentang Darling Towers, dalam salah satu brosur mereka, tertulis, “Darling Towers on Collins is located in the centre of Melbourne’s most fashionable Collins Street between Swanston Walk and Elizabeth Street.”
 
Faktor lokasi strategis memang menjadi daya jual apartment yang berpengalaman 20 tahun ini. Ya, karena kemana-mana juga dekat sini. Selain di Collins St, Darling Towers juga ada di South Yarra dan Queens Road. Keunggulan lainnya, tinggal di sini juga tidak butuh mobil, karena akses ke berbagai tempat terjangkau. Selain itu, kalau pakai mobil, biaya parkirnya juga mahal!

Selama di Canberra kami di Medina yang terletak di James Court, 74 North Bourne Ave. di sini internetnya terbatas. Sehari hanya bisa beberapa MB. Kalau sudah habis limitnya, kita bayar lagi. Ruangan di sini cukup nyaman. Kasurnya bersih, dan secara umum apartment ini sama dengan yang lain. Jika di Citadines, Darling Towers dan Meriton kamar mandinya hanya satu, di Medina ada dua. Jadi, saya dan Mas Ahmad Saifulloh masing-masing punya kamar mandi di sini. Memang, terasa kayak di rumah sendiri.

Selama di Sydney, kami menginap di Meriton yang terletak di 528 Kent Street, Sydney. Meriton terletak di pusat kota. Di depannya ada Victoria University. Dari luar kamar saya lihat jejaran gedung bertingkat dan gemerlapnya kota Sydney di malam hari. Meriton adalah apartment milik orang Rusia dan telah berpengaruh lebih dari 50 tahun di Sydney, Brisbane, dan Gold Coast. *

Tentang Para Guide yang Luar Biasa (17)

Rowan Gould, beberapa tahun lalu


Selama dua minggu di Australia, panitia Australia-Indonesia Institute (AII) menyiapkan guide. Kalau dipikir-pikir, posisi guide ini sangatlah penting untuk memastikan jadwal kegiatan yang telah diatur dalam berjalan dengan lancar. Secara umum kegiatan kita yang ada di jadwal terlaksana dan berjalan dengan lancar. Hal ini juga tidak terlepas dari peranan para guide. Untuk memastikan kapan berangkat dari lokasi, jarak perjalanan, berapa waktu yang harus kita habiskan di sebuah lokasi sebelum berpindah ke lokasi lainnya, ini sangat bergantung pada guide.

Christina Rafferty-Brown
Beberapa hari sebelum ke Australia, masing-masing kami dapat email dari Ibu Chris. Di emailnya pada bagian bawah, ia tulis Chris. Beberapa teman menyangka ini bapak-bapak, karena nama Chris sangat lekat dengan laki-laki, akan tetapi rupanya salah. Chris adalah kependekan dari Christina. Kami memanggilnya Ibu Chris. Bahasa Indonesia lancar. Pengalamannya bekerja di AUSAID membuatnya banyak tahu tentang Indonesia. Ibu Chris juga adalah ibu mertua dari Rowan. Rowan Gould menikah dengan anaknya Ibu Chris bernama Brynna Rafferty-Brown.

Pertama bertemu Ibu Chris di Bandara Melbourne. Ia memegang sebuah tulisan MEP 2015. Bersama seorang lelaki—belakangan saya tahu itu sopir taksi, awalnya saya kira panitia juga—mereka menunggu, dan membantu mengambil koper-koper kami. Kami pun menuju taksi. Karena sudah ditunggu oleh Professor Pookong Kee di Melbourne University, maka kami tidak ke apartment dulu, tapi langsung ke kampus. Wajah-wajah capek masih ada, tapi semuanya tidak terasa. Setelah bertemu Prof Kee, kami ke apartment, dan lanjut jalan ke Library of Victoria.

Selama tiga hari kami ditemani Ibu Chris. Bawaannya yang santai dan humoris tapi tetap waktu membuat kami bersemangat untuk terus kuat. Walau capek, itu tidak menghalangi untuk kita lanjut terus.

Rowan Gould

Tiap kita sudah kenal dengan Rowan waktu wawancara di Jakarta. Kami bertemu kembali dengannya ketika tiba di Melbourne University. Secara umum Rowan adalah direktur program MEP. Jadi, sejak tiba di Melbourne, ke Canberra, sampai kembali ke Jakarta dari Sydney, tanggungjawab ada di pundaknya. Saya lihat, seluruh yang ditanganinya berjalan dengan baik. Saya pikir, jika kita punya koordinator program seperti Rowan, paling tidak 99 persen sudah bisa ditebak akan sukses. Itu feeling saya.

Kebutuhan kita selama di Australia berada di ATM Rowan. Selama di Melbourne, kami beberapa kali bertemu dan beliau jadi guide-nya, akan tetapi di Canberra yang hanya dua hari, ia tidak ada. Mungkin urusan di Canberra bisa diselesaikan dengan mudah oleh Ahmad Muhajir dan Fajran Zain. Ketika kami tiba di Sydney, Rowan juga tiba di Sydney dari Melbourne. Dari situ kami sama-sama menuju Meriton Apartment.

Sikap terbaik yang saya pelajari dari Rowan adalah tenang. Ia pribadi yang tenang dalam menyelesaikan sesuatu. Tidak terburu-buru, dan tidak panik. Secara umum guide-guide kita memang begitu. Mereka juga pemberi informasi yang baik, dan bisa diajak cerita, bahkan bercanda. Grup 1 2015 ini kabarnya merupakan grup yang ‘hidup’, dan bisa dikatakan, ceria. 

Di Melbourne University, Rowan mengajar dan meneliti bersama Prof. Abdullah Saeed. Rowan menamatkan pendidikannya dalam bidang tafsir hadis. Ia pernah belajar bahasa Arab di Suriah. Paling tidak lelaki ‘setengah Australia setengah Indonesia’ ini bisa berbahasa Arab dan Indonesia sebagai bahasa ibunya.

Natalia Gould

Natalia adiknya Rowan. Nama belakangnya sama: Gould. Tapi berbeda dengan Peter Gould, mereka cuma sama nama belakangnya. Natalia menjadi guide kami waktu bertemu dengan Dr. Hass Dellal, Nail Aykan dan Bilal Cleland, ke Islamic Museum of Australia, dan makan malam bersama beberapa artis muslim.

Alev Girgin

Alev menjadi guide kami ketika mengunjungi Queen Victoria Market (waktu itu saya tidak ikut karena ada janji di Deakin University), dan kunjungan ke Melbourne Museum. Waktu saya di Deakin, Alev sempat sms posisi saya dimana. Saya bilang, saya di Deakin dan rencana jam 12 sudah menuju ke Queen Victoria Market. Ternyata, keenakan diskusi dengan Prof Ismet Fanany membuat waktu saya lewat. Akhirnya setelah naik ke lantai 2 Perpustakaan Deakin, saya bergegas pamitan karena teman-teman akan menuju Melbourne Museum. Kami akhirnya bertemu di apartment, dan jalan berenam ke museum.

Ahmad Muhajir & Fajran Zain 

Keduanya adalah kandidat doktor dari The Australian National University (ANU). Kami bertemu pertama kali di bandara Canberra waktu mereka menjemput siang itu. Dari bandara kami jalan-jalan sampai ke apartment. Pelayanan keduanya bagus, dan menyenangkan. Keduanya adalah tipe pribadi yang senang bergaul, punya teman, dan berbagi.

Paling tidak kepada Mas Muhajir dan Mas Fajran saya meminta masukan terkait rencana PhD saya. Kedua memberi pertimbangan bahwa sebenarnya kuliah dimana saja bagus, semua kembali pada kita. Ini juga tergantung pada professornya. Jika kita sudah punya relasi dengan seorang professor yang siap membimbing dan penelitiannya juga cocok, itu akan memudahkan. Memang tidak bisa dimungkiri bahwa kuliah di kampus terkenal itu bagus, namun semuanya kembali pada diri kita sendiri.

Di sela-sela waktu kosong kami diajak jalan-jalan ke lokasi yang tidak ada dalam jadwal. Ini mumpung masih di Australia. “Lupakanlah tidur, tidurnya nanti di Indonesia,” kata Mas Fajran, kurang lebih. Akhirnya walau ngantuk dan capek, kami terus berjalan, dan menikmati perjalanan ini. Memang benar, untuk tidur di Indonesia juga bisa, tapi untuk bisa melihat hal-hal penting di Canberra tidak selalu bisa. Kesempatan juga datangnya hanya satu kali.

Maha Najjarine 

Maha adalah pengacara. Ia memandu kami waktu berkunjung ke Muslim Women’s Association (MWA), Masjid Ali bin Ali Taleb di Lakemba, Lebanese Muslim Association (LMA), dan pertemuan dengan Mission of Hope. Maha Najjarine juga humoris. Ia banyak bercanda. Jalannya agak cepat, tapi umumnya di Australia memang cepat-cepat jalannya orang.

Kepada Maha saya berikan salah satu buku saya waktu kami makan malam bersama Asra Yusra dan teman-teman di Auburn.

Subhi 

Subhi adalah guide kami yang berusia 24 tahun. Masih muda. Ia menemani kami waktu ke Opera, Manly Beach, dan Paddy’s Market. Selanjutnya ia mengantar sampai ke depan lift lantai kami di Meriton Apartment. Sebelum berpisah Lenni Lestari memberikan syal kenang-kenangan untuk Subhi. 

Mereka semua luar biasa bagi saya, dan bagi teman-teman saya. Saya merasa senang bisa berkenalan dan belajar dari para guide yang luar biasa melayani kebutuhan kami dengan baik. * 

Berbagi dengan Orang Aceh

Berbagi dengan FLP Aceh Setelah berakhirnya Munas IV FLP, saya diminta oleh beberapa kawan FLP Aceh untuk sharing pengalaman. Sejak iku...